
"Dion.." Nyonya Ranti mencoba memanggil Dion.
"Apa yang harus aku lakukan Sina.." Dion tidak menggubris panggilan Nyonya Ranti.
"Dion..bangun, Nak." Panggil Nyonya Ranti membujuk.
Dion masih tidak perduli.
"Aku tidak bisa membesarkan anak itu tanpamu..aku hanya ingin bersama kamu-"
"Dion bangun, ini hanyalah mimpi!" Teriakan keras Nyonya Ranti langsung menarik kesadaran Dion.
Dia terkejut, menutupi matanya dari cahaya yang menyengat.
"Nak, akhirnya kamu bangun!" Nyonya Ranti segera memeluk Dion, membantunya bangun dari tidurnya dan mengusap jejak air mata di wajah Dion.
"Ma..Sina pergi, Ma!. Sina pergi ninggalin Dion, dia mati Ma!" Adu Dion kepada Nyonya Ranti.
Isak tangisnya tidak bisa menyembunyikan betapa sesak hatinya sekarang.
Itu sangat menyakitkan setiap kali dia bernafas.
"Mati?" Tanya Nyonya Ranti bingung sekaligus heran.
Bagaimana bisa Sina mati?
"Ya Tuhan, Dion!" Nyonya Ranti memukul pundak Dion tidak tahan.
__ADS_1
Pantas saja Dion menangis di dalam tidurnya sambil memanggil Sina, ternyata ini alasannya. Dia bermimpi bila Sina sudah mati dan meninggalkannya pergi.
Hah, bila dipikir-pikir nasib anaknya terlalu malang. Karena tidak hanya merasa cemas di dunia nyata tapi di dunia mimpi juga, menerornya menjadi mimpi yang buruk.
"Sina masih hidup, sayang. Dia wanita yang kuat jadi bagaimana mungkin dia menyerah begitu saja di dunia ini?" Beritahu Nyonya Ranti dengan perasaan suka cita yang tidak bisa disembunyikan.
Sina, wanita ini tidak selemah yang terlihat. Dia adalah wanita yang kuat, bahkan sangat kuat menegaskan kepada Tuhan bahwa dia masih ingin tinggal. Sina ingin tinggal bersama kekasih dan anaknya yang baru saja lahir.
Dion tertegun, dia melepaskan pelukan Nyonya Ranti. Memegang kedua lengan Nyonya Ranti dengan tatapan tidak percaya sekaligus berharap bahwa dia tidak salah mendengar.
"Mama gak bohong kan kalau Sina masih hidup? Mama gak bohongin Dion, kan?" Tuntut Dion tidak sabar dengan sinar harapan menyala di kedua matanya.
Nyonya Ranti tidak berdaya, mengelus puncak kepala Dion seraya menganggukkan kepalanya meyakinkan.
"Dia adalah wanita yang kuat, Dion. Apa kamu tahu awalnya para dokter itu ragu Sina bisa bertahan karena terlalu kekurangan banyak darah, mereka hampir-hampir tidak punya harapan apapun kepada Sina. Tapi siapa yang tahu Tuhan ternyata sangat menyayangi Sina? Dia memang jatuh kritis sejak kemarin malam tapi kuasa Tuhan, 3 jam yang lalu dia berhasil melewati masa kritis dan langsung dipindahkan ke ruang rawat. Kini dia masih tertidur dan dokter bilang butuh waktu Sina bisa bangun lagi." Cerita Nyonya Ranti tidak bisa menyembunyikan binar kekaguman dari matanya.
Dia sungguh khawatir terjadi sesuatu kepada Sina karena bila itu sampai terjadi, orang yang akan paling terluka adalah Dion. Anaknya akan sangat menderita dan membenci dirinya karena semua yang terjadi pada Sina adalah perbuatan Risa, anak angkat yang dia besarkan dengan kedua tangannya sendiri.
"Ma... jadi, aku tadi hanya mimpi buruk saja?" Dion harap Nyonya Ranti mengatakan 'ya'.
"Ya, kamu hanya mimpi buruk. Ingin bertemu Sina dan anak kamu?"
Dion mengangguk semangat, mengusap wajah basahnya dia sungguh tidak sabar ingin bertemu mereka. Akan tetapi ketika kakinya menyentuh lantai badannya tiba-tiba oleng.
Bila saja Nyonya Ranti tidak menahannya, mungkin Dion akan langsung jatuh ke lantai.
"Hati-hati, kamu masih belum pulih." Peringat Nyonya Ranti gemas.
__ADS_1
"Makan dulu biar badan kamu gak lemes lagi." Nyonya Ranti mengambil makanan yang ada di atas nakas, untungnya itu masih hangat dan enak.
Awalnya Dion menolak, namun karena terus di paksa Nyonya Ranti dia terpaksa mengiyakan.
"Ma, aku tidur berapa lama?" Tanya Dion di sela-sela makannya.
"Bukan tidur, tapi kamu pingsan." Ralat Nyonya Ranti.
Dion nyengir, tapi tidak mengatakan apa-apa.
"Kamu pingsan lebih dari 24 jam, dokter bilang tubuh kamu ambruk karena beberapa hari ini kamu jarang tidur. Makanya, sekali dapat kejutan buruk tubuh kamu langsung drop karena gak bisa menampung beban emosi lagi." Jawab Nyonya Ranti menceritakan. Tangannya lalu mengusap sudut bibir Dion, mengusap wajah pucatnya yang mulai membaik.
"Kamu ngapain aja di rumah, kok bisa jadi jarang tidur?" Tanya Nyonya Ranti heran.
Pasalnya dia tahu dari penyelidikannya bahwa pekerjaan di kantor Dion tidak terlalu banyak. Malah, beberapa minggu ini dia perhatikan jika Dion tidak bekerja lagi dan sibuk bersantai dengan Sina.
"Sina udah masuk 9 bulan, Ma. Dia beberapa hari ini jadi sering sakit perut jadi Dion khawatir terjadi apa-apa sama dia. Waktu kita periksa ke rumah sakit dokter bilang itu baik-baik aja, malahan ini normal karena bayinya bentar lagi mau lahir. Tapi meskipun begitu, Dion tetap gak tenang lihat Sina kesakitan tiap kali bayinya gerak." Cerita Dion setelah menyelesaikan makanannya.
Sina sebentar lagi melahirkan sehingga perutnya sering terasa sakit. Dion tidak berdaya, hanya bisa menghiburnya setiap kali perutnya sakit. Karena itu, Dion jadi sering tidak tidur karena mencemaskan Sina. Kalaupun bisa tidur, dia mudah terbangun setiap kali mendengar suara. Inilah mengapa tubuhnya langsung ambruk hari itu, selain karena panik itu juga karena tubuhnya sudah sampai di batasnya.
"Kamu benar-benar...dia melewati banyak penderitaan karena kamu.." Gumam Nyonya Ranti merasa bersalah.
Dia pernah menyakiti wanita luar biasa ini, wanita yang membuat putranya menjadi laki-laki dewasa dan mandiri.
Dan dia menyesal.
Dion menunduk, menatap nanar piring makannya yang masih menyisakan makanan.
__ADS_1
"Hem..dia banyak menderita."
Bersambung..