Dear Dion

Dear Dion
99. Istriku


__ADS_3

Sore harinya Dion terbangun dari tidurnya. Dia merasa lebih baik dari sebelumnya setelah tidur seharian dan mendapatkan perawatan manis dari istrinya-tepatnya calon istri karena mereka belum halal.


"Sina?" Dion melihat sekeliling dan tidak menemukan Sina.


Dia kemudian turun dari ranjang, berjalan ke pintu keluar dan mencari Sina dapur yang langsung bisa dilihat dari depan kamar.


Di dalam dapur Sina sedang berkutat dengan beberapa alat dapur yang tidak terlalu asing untuk Dion. Kemampuan memasak Sina berkembang pesat dari beberapa bulan yang lalu dan gerakan kedua tangannya pun jauh lebih santai.


"Kamu sedang masak apa?" Dion masuk ke dalam dapur dan memeluk Sina dari belakang.


Kedua tangannya mengusap perut besar Sina, menyapa buah hatinya yang sebentar lagi berusia 7 bulan.


"Dion jangan ngagetin, dong!" Sina sempat ketakutan ketika merasakan ada seseorang memeluknya dari belakang.


Tapi ketika dia mendengar suara Dion semua ketakutannya berubah menjadi perasaan jengkel.


"Aku buat kamu kaget yah?" Dion gemas dengan reaksi lucu Sina.


"Masih nanya?" Sina memutar bola matanya, mengulum senyum dan kembali memasak.


"Maaf sayang, abisnya kamu imut banget dari belakang makanya aku langsung peluk." Dion mengecup tengkuk Sina beberapa kali sebagai permintaan maaf.


"Dion..geli..." Sina ingin pergi tapi Dion tak mau melepaskannya.


Tengkuknya serasa di sentuh rambut halus tapi sedikit basah, meninggalkan rasa geli juga mati rasa.


"Geli, Hem?" Dion tersenyum miring, menurunkan kepalanya ke arah tengkuk Sina dan menggigit daging lembut itu.


"Akh.. Dion!" Tengkuknya tiba-tiba digigit Dion!


Rasanya sakit tapi juga aneh.


"Sakit.." Keluh Sina merasakan nyeri di tengkuknya.


"Sekarang gimana?" Dion menghisap luka gigitan yang dia tinggalkan.


Menjilat bagian yang berdarah seperti makan es krim dan meninggalkan salivanya sebagai obat mujarab.


"Dion..ugh.. berhenti, rasanya aneh.." Lutut Sina agak lemas gara-gara tindakan Dion.


Dia akan jatuh merosot ke lantai bila Dion tidak menahan berat badannya.


"Kamu masak apa?" Dion mengabaikan keluhan Sina.


Dia malah balik bertanya sambil sesekali menjilati luka gigitan yang dia tinggalkan di tengkuk Sina.


"Aku..masak perkedel kentang.." Sambil menahan nafasnya yang mulai memburu Sina menjawab pertanyaan Dion.


"Enak." Sina merasa kata ini ditujukan kepada masakannya.


"Sudah selesai?" Tanya Dion lagi.


"Sudah-ah!" Sina tiba-tiba diangkat Dion dan dibawa masuk ke dalam kamar-mereka.


Di dalam kamar Dion membaringkan Sina di atas ranjang, duduk di bagian bawah Dion mulai memijit kaki Sina. Orang bilang wanita hamil akan merasakan sakit di beberapa tempat karena beban di dalam perut membuat berat badan mereka bertambah pesat. Tapi, ekhem.. istrinya tidak gembil dan lebih kurus dari wanita hamil di luar sana sehingga anak di dalam perut pasti sangat menyusahkan nya.


"Jangan bekerja lagi, okay? Mulai sekarang biarkan aku yang mengurus semua kebutuhan kamu, dan tugas kamu hanya satu di sini yaitu duduk bersantai melihat aku melakukan semuanya."


Sina tidak mengelak ataupun menolak, ini adalah bentuk kekhawatiran Dion kepadanya jadi dia tidak akan menolak apa yang Dion mau. Apalagi Dion adalah orang yang sangat keras kepala sehingga menolak permintaannya sama saja memukul besi dengan kayu.


"Kamu tahu apapun yang kamu inginkan aku tidak akan menolak, tapi kamu juga harus tahu bahwa aku tidak selemah itu. Aku masih kuat Dion dan jauh lebih kuat dari apa yang kamu bayangkan, jadi jangan terlalu mengkhawatirkan aku karena nyatanya aku baik-baik saja."


Dion mendekati Sina, mencium puncak kepala Sina menahan rasa sesak di hati.


"Aku tahu..aku tahu kamu kuat karena itulah kamu masih bertahan sampai sekarang."


Wanita ini selalu mendapatkan sakit setiap kali menolongnya. Pertama, dia hampir kehilangan nyawa karena menyelamatkan hidup Dion dan kedua dia harus menahan semua macam kesakitan untuk menyelamatkan kehancuran jiwa Dion.


Wanita ini.. bagaimana mungkin dia rela melepaskannya setelah semua pengorbanan yang diberikan?


Dion tidak akan pernah rela!


Bahkan pernah terbesit di dalam hatinya jika suatu hari Sina menyukai laki-laki lain, Dion tidak akan membiarkan semua itu terjadi. Dia akan menculik laki-laki itu dan memusnahkannya dari dunia Sina. Atau kalau tidak dia akan mengurung Sina di dalam satu ruangan layaknya Rapunzel, mengunci semua dunia darinya agar di dalam hidup Sina satu-satunya orang yang menjadi pusat kehidupannya adalah Dion.


"Demam kamu sudah hilang." Sina menyentuh kening Dion, tidak ada lagi suhu panas seperti semalam.


Dion mengambil tangan Sina yang ada di atas keningnya dan mencium punggung tangan Sina.

__ADS_1


"Jangan meremehkan ku sayang, kamu jelas tahu betapa besar kekuatan suami mu ini." Ucap Dion ambigu.


Kedua pipi Sina merona terang, dia lalu memukul pundak Dion jengkel.


"Dion..!"


"Apa sayang?" Dion sama sekali tidak malu.


"Siapin makanan di dapur, aku lapar!" Sungut Sina yang langsung dihadiahi gelak tawa dari Dion.


"Kita'kan udah pernah ngelakuin-"


"Dion!" Potong Sina semakin malu.


"Oke..oke, aku siapin!" Sambil tertawa dia bergegas masuk ke dalam dapur menyiapkan makanan yang sudah Sina masak tadi.


"Ternyata begini rasanya punya istri." Gumamnya di sela-sela menyiapkan makanan.


Dia menata nasi hangat, sambal suwiran ayam, sayur bayam, dan perkedel kentang di atas meja makan. Tidak lupa Dion juga memasak air dan membuatkan Sina susu hamilnya.


Dert


Ada panggilan masuk ke dalam ponselnya. Dion segera menjawab tanpa mendecakkan mulutnya seperti biasa.


"Ya?"


Suasana hatinya sangat baik ketika melihat semua makanan sudah tertata rapi di atas meja.


"Bos, aku sudah mengirim informasi yang kamu minta tadi pagi."


Dion mengernyit, lalu teringat dengan perintahnya semalam. Benar saja, tadi pagi dia tertidur dan baru bisa bangun sore ini.


"Terimakasih, aku akan melihatnya sekarang. Jika aku butuh sesuatu akan ku hubungi lagi nanti." Dion jauh lebih santai dari biasanya.


Orang yang ada di seberang sana jelas terkejut karena Dion biasanya menghubunginya dalam keadaan marah, dingin, dan kesal. Jadi mendengar suara santainya agak aneh di pendengaran.


"Sama-sama bos, aku akan menunggu perintah selanjutnya darimu."


Setelah itu sambungan terputus. Dion langsung memasukkan ponselnya ke saku-baju tidur kelinci yang dia gunakan. Ini adalah pakaian Sina, seharusnya ukuran besar. Namun karena Dion adalah laki-laki berbadan besar secara alami pakaian ini terlalu ketat untuknya.


"Kirimkan aku pakaian ganti dan baju hamil terbaik ke apartemen X no. 7, jalan X kota C. Secepatnya." Dia menarik ponselnya lagi dari saku mengirim voice note ke bawahannya.


"Baca apa sih keliatannya kok asik banget sampai-sampai suami masuk gak diperhatiin."


"Dion, ih!" Sina sontak tersipu.


"Iya, istriku?" Jawab Dion dengan wajah manis.


Dibilang istri Sina semakin salah tingkah, dia malu sekaligus gugup dipanggil istri.


"Jangan bercanda, Dion!"


"Siapa yang bercanda istriku, inikan kita lagi ngomong serius lho."


Ucap Dion seraya menggunakan ekspresi serius. Sina lebih senang melihat Dion terlihat santai meskipun wajah serius cukup seksi!


"Dion kita belum halal lho tapi kok udah panggil aku istri aja." Sina menaruh buku yang baru saja dibacanya di atas bantal.


Dia beringsut mendekati Dion dan masuk ke dalam pelukannya. Tangan Dion menyentuh perutnya lembut, mengusap sang buah hati yang langsung direspon dengan pergerakan aktif dari dalam.


"Ugh.." Sina meringis kecil ketika merasakan tendangan samar dari dalam perut.


"Sakit?" Dion terlihat cemas


"Enggak kok, aku cuma kaget aja dia langsung aktif ketika merasakan usapan tangan kamu." Jawab Sina rileks kembali.


Dia menyandarkan kepalanya di dada kuat Dion, mendengar setiap detakkan kuat dari dalam dadanya.


"Itu karena dia sudah mengenal aku sebagai Papanya." Dion sangat percaya diri dengan kemungkinan ini.


"Setelah kamu melahirkan anak kita dengan selamat, aku akan secara resmi menikahimu."


Sina tidak mengatakan apa-apa, dia hanya mendengarkan suara serak Dion, detak jantung Dion yang bergerak cepat, dan menghirup sepuasnya aroma Dion.


Dia sungguh tenggelam dalam kebahagiaannya.


"Aku sudah melihat beritanya tadi pagi. Model terkenal yang bernama Viola ingin melecehkan mu ketika dalam perjalanan bisnis di luar kota kemarin, apakah ini benar?" Ah, ketika Dion tidur Sina sempat mengecek berita yang sekretaris Dion ceritakan.

__ADS_1


Dia ingin tahu seberapa besar kegemparan yang Dion ciptakan untuk menarik perhatian media massa. Tapi setelah melihat berita yang sedang ramai dibicarakan dia akhirnya mengerti kenapa berita ini menjadi trending hanya dalam waktu yang sangat singkat. Karena selain melibatkan model terkenal tapi Dion juga menyeret perusahaan X dalam masalah ini. Rekaman suara percakapan Dion dan Viola yang dikeluarkan pihak hotel membuktikan bahwa ada keterlibatan perusahaan X di malam itu.


"Kamu sudah tahu, tentu saja ini benar." Dion tidak mengelak.


"Lalu, kenapa kamu baru melaporkan kasus ini sekarang? Padahal pelecehan ini sudah terjadi 5 bulan yang lalu."


Sina yakin tidak terlibat masalah apapun dengan keluarga Viola jadi Dion pasti punya alasan tersendiri baru melaporkan masalah ini sekarang.


"Mereka yang mengganggu ku duluan." Jawab Dion tidak perduli.


"Maksudmu?"


"Awalnya aku tidak akan melaporkan masalah ini karena aku sendiripun sudah melupakannya. Tapi mereka berdua terus saja mencoba bertemu denganku, membuatku jengkel dan kesal. Jadi, karena tidak ingin diganggu terus oleh mereka aku memutuskan untuk melenyapkan mereka berdua agar di masa depan mereka tidak datang menggangguku lagi."


Sina tercengang, dia tidak tahu harus tertawa atau menangis setelah mendengar penjelasan singkat Dion. Oh ya, dia tidak pernah tahu jika kekasihnya ini sedingin itu.


"Lalu.." Sina meneguk ludahnya kasar. Di tidak ingin mengungkit masalah ini sebenarnya tapi hal ini terus membayangi pikirannya.


"Hem?" Dion melihat keraguan istrinya.


"Malam itu..dia telanjang dan kamu melihat semua bagian tubuhnya, tidakkah menurutmu..dia cantik?" Tanya Sina diiringi rasa cemburu.


Dia sekarang tidak ramping lagi dan berperut besar jadi Dion tidak mungkin tertarik lagi dengannya!


Berbeda dengan wanita itu, dia model dan punya tubuh yang indah. Jadi.. mungkin saja.. Dion akan mencarinya lagi?


"Apa yang kamu pikirkan?" Dion mencubit pipi Sina kesal.


"Aku bukan laki-laki buaya, oke! Aku adalah tipe suami yang setia jadi mana mungkin aku menyukai wanita lain apalagi jika wanitanya seperti dia, jangan sebutkan lagi!"


"Tapi.. tubuhnya seksi Dion..." Rengek Sina cemburu.


Laki-laki mana yang tidak senang melihat orang yang dicintai cemburu?


Tentu saja itu sangat menyenangkan melihat orang yang dicintai cemburu tapi ini berbeda jika melihat sang kekasih tidak percaya diri. Merendahkan diri sendiri, Dion tidak suka pemikiran ini.


"Sina, jangan merendahkan diri sendiri." Ucap Dion serius.


"Kamu harus tahu ketika seorang laki-laki jatuh cinta mereka tidak akan perduli dengan penampilan orang yang dicintai. Termasuk aku Sina, entah kamu kurus atau tidak, entah kamu hamil atau tidak, bagiku kamu selalu menggairahkan. Bahkan di saat sedang hamil sekarang pun kamu justru terlihat lebih seksi, kamu lebih menggoda dari sebelumnya." Inilah faktanya, Dion selalu merasa jika saat sedang hamil besar pun Sina selalu menarik keinginannya.


"Aku mau makan.." Sina mengganti topik, menyembunyikan rona wajahnya yang sudah sangat merah.


"Makan aku?" Goda Dion.


"Dion!"


"Iya istriku."


Sina cemberut menahan senyum,"Serius, aku lapar, ih."


"Ini juga serius." Dion merengkuh Sina, mengangkatnya ala pengantin ke dapur.


Sina ingin turun tapi Dion tidak mengizinkan. Alasannya kaki Sina pasti pagal-pegal kalau jalan sendiri.


Mereka makan malam lebih cepat dari waktunya atau mereka justru makan siang lebih dari waktunya. Entahlah, yang pasti mereka menikmati waktu kebersamaan ini.


30 menit kemudian pakaian pesanan Dion akhirnya sampai. Dia ingin bergegas ganti baju tapi tidak diizinkan Sina masuk ke dalam kamar. Sina bilang dia mau mandi jadi Dion lebih baik menggunakan kamar mandi yang lain. Dion tidak melihat ada sesuatu yang aneh dengan Sina jadi dia setuju-setuju saja.


"Dion, hari ini usia kandungan aku akhirnya masuk 7 bulan." Sebelum masuk ke kamar mandi, Sina tiba-tiba memberitahu Dion tentang usia kandungannya.


"Ya, syukurlah kalau-"


"Apa kamu tidak mau?" Potong Sina dengan wajah bersemu merah.


"Mau ap-bolehkah?" Dia sangat bersemangat okay!


"Tentu saja." Setelah mengatakan itu Sina masuk ke dalam kamar meninggalkan Dion dengan ekspresi berseri-seri diwajahnya.


"Aku harap ini tidak berakhir sama seperti 5 bulan yang lalu, Sina.. jangan lagi mengirimkan ku racun."


Dia buru-buru mengambil ponselnya dan mengirim voice note kepada seseorang.


"Malam ini awasi pintu apartemen no. 7 sampai besok pagi, jangan ada yang lengah!"


Bersambung...


Jadi iya, saya lagi sibuk banget. Untuk nulis ini aja saya gak bisa ikut UTS dua mata kuliah. kebayang gak tuh nyeseknya?

__ADS_1


Parah sih, ibaratnya nih ya hati lagi berdarah-darah


__ADS_2