
"Non Sina jangan masukkan di hati apa yang mereka katakan tadi." Bik Mur tidak tega melihat mata merah Sina dan wajah pucatnya.
Serangan Risa dan kedua pembantu itu ternyata sangat mempengaruhinya Sina walaupun saat beradu argumen tadi Sina terlihat tenang dan baik-baik saja.
Sina melambaikan tangannya, menunjukkan bahwa ia tidak akan memasukkan perkataan mereka ke dalam hatinya.
"Aku tidak akan menganggap serius ucapan mereka semua," Katanya meyakinkan. "Tapi aku masih penasaran dengan apa yang dikatakan Risa tadi dan aku pikir satu-satunya orang yang bisa ku tanyai di rumah ini adalah Bik Mur." Lanjut Sina sambil menatap lurus Bik Mur.
Bik Mur tiba-tiba merasa tidak enak saat ditatap seperti ini. Ia takut Sina akan menanyakan sesuatu yang akan berakhir menyakiti hatinya sendiri. Meskipun Bik Mur sendiri tidak yakin jika kabar itu benar adanya tapi tetap saja tidak ada yang tahu semua ini kecuali anggota keluarga ini sendiri.
"Non Sina tanyakan saja, jika Bibi bisa jawab maka Bibi akan menjawabnya. Namun, jika itu diluar batas Bibi maka non Sina harus bertanya kepada orang lain yang mampu." Kata Bik Mur merasakan jantungnya berdebar.
Sina tersenyum tipis, "Kamar Dion, apakah benar jika tidak ada yang diizinkan masuk bahkan hanya untuk membersihkan kamar saja?" Tanya Sina penasaran.
Memang benar ia sempat menyimpulkan jika kamar Dion tidak bisa dimasuki oleh siapapun tapi ini hanya kesimpulan singkatnya saja dan belum tentu benar.
Bik Mur langsung menghela nafas lega setelah mendengar pertanyaan Sina. Dia pikir Sina akan menanyakan sesuatu yang akan sangat sulit untuk dia jawab.
"Benar non Sina, siapapun memang tidak diizinkan masuk ke dalam kamar Tuan muda. Bahkan kami saja sebagai pembantunya tidak punya wewenang untuk membersihkan kamar Tuan muda jadi tidak heran Minah dan Siti sangat terkejut setelah mendengar non Sina bisa masuk ke kamar Tuan muda."Jelas Bik Mur menjelaskan.
Di rumah ini satu-satunya tempat yang tidak bisa dan terlarang untuk dimasuki adalah kamar Dion. Kamar itu seolah menjadi tempat yang paling rahasia di rumah ini dan siapapun yang bekerja di sini tidak pernah tahu bagaimanapun bentuk isi kamar dari Dion.
Jadi dirinya benar-benar yang pertama?
Kekesalan Sina tiba-tiba berkurang dan tidak sebanyak tadi, ini adalah kabar gembira untuk dirinya sendiri.
"Oh, jadi seperti itu." Katanya menahan senang.
__ADS_1
Wajar saja orang-orang ini kesal mendengarnya bisa masuk ke dalam kamar Dion, ternyata itu semua karena mereka merasa iri.
"Tadi Sina masuk ke dalam kamar Dion," Ucap Sina agak pamer. "Di dalam kamar Dion dipenuhi dengan warna hitam. Misalnya seperti dinding yang di cat hitam, gorden hitam, lantai berwarna hitam.. pokoknya di dalam sana penuh warna hitam." Lanjut Sina.
Ia menggosok hidungnya malu, "Kira-kira Bik Mur tahu gak kenapa Dion suka warna hitam. Apa ada cerita menarik dibalik semua warna hitam ini?" Tanya Sina ingin tahu.
Dia memang yakin Dion tidak punya sesuatu yang menyedihkan dibalik warna kamarnya yang sepenuhnya hitam tapi tidak ada salahnya menanyakan ini untuk mempertegas keyakinannya.
"Ini.." Bik Mur ragu menceritakannya.
Namun, karena Bik Mur menyukai Sina maka tidak ada salahnya memberi tahu Sina hal-hal yang terjadi dimasa lalu.
"15 tahun yang lalu Tuan muda pernah di culik selama 4 hari tanpa ada kabar apapun tentang keberadaannya. Saat itu semua orang panik mencari Tuan muda dan bahkan Nyonya harus terpaksa dikirim ke rumah sakit karena tubuhnya yang drop. Berhari-hari melakukan pencarian akhirnya setelah 4 hari menghilang, Tuan muda dibawa pulang oleh pasangan suami-istri yang kebetulan menemukannya di jalan.." Bik Mur tiba-tiba tidak melanjutkan kata-katanya.
Ia terdiam beberapa detik seraya memperhatikan perubahan wajah pada wajah Sina.
"Dan semenjak itu Tuan muda tidak menyukai orang-orang terlalu dekat dengannya, bisa disimpulkan awal mula kamarnya tidak bisa dimasuki oleh siapapun adalah sejak kejadian penculikan ini terjadi. Jadi, warna hitam yang ada di kamar Tuan muda adalah bentuk suasana hatinya pada saat itu dan Bibi pikir Tuan muda tidak bisa melupakan kejadian itu meskipun sudah 15 tahun berlalu."
15 tahun yang lalu?
Sina juga mengalami kecelakaan saat itu, ia tidak menyangka selain dirinya ada juga orang yang mengalami kehidupan pahit dalam rentan waktu itu. Tapi Sina tidak pernah menyangka jika Dion punya masa lalu menyakitkan seperti itu. Penculikan, siapapun yang menculik Dion saat itu pasti melakukan sesuatu yang jahat kepada Dion sehingga mengalami perubahan yang drastis.
Jadi, seperti ini...
Senyumnya yang damai dan menenangkan ternyata menyembunyikan luka sedalam ini. Ah.. Sina benar-benar lupa jika Dion juga manusia dan punya kelemahan. Entah itu terlihat atau tidak, manusia tetap memilikinya.
"Aku.. tidak menyangka Dion pernah melalui itu semua." Ujar Sina tidak bisa menyembunyikan betapa terkejutnya dia.
__ADS_1
Bik Mur tersenyum, "Tuan muda adalah laki-laki yang kuat jadi sekalipun dia pernah melalui semua itu Tuan muda sama sekali tidak terguncang. Dia hanya lebih ketat dari sebelumnya jadi non Sina tidak perlu khawatir."
Sina menganggukkan kepalanya mengerti, "Bibi benar, Dion tentu saja bisa melewati semua itu jadi aku tidak seharusnya berpikir yang macam-macam. Aku juga seharusnya lebih menyemangati Dion agar dia bisa melupakan masa-masa sulit itu, benar'kan Bik?" Ujar Sina bertekad.
Ia berjanji untuk membantu Dion hidup lebih baik lagi dan perlahan melupakan rasa sakitnya. Hem, Sina kini punya tujuan penting selain menikah dengan Dion.
Sina asyik dengan dunianya tanpa menyadari jika Bik Mur terus memperhatikan gerak-geriknya. Menatapnya dengan pandangan rumit.
Apa kedatangan non Sina ke sini ada hubungannya dengan kejadian 15 tahun yang lalu?. Batin Bik Mur bertanya-tanya.
...🌺🌺🌺...
Sina tidak punya nafsu makan lagi setelah pembicaraan tajamnya dengan Risa dan dua pembantu itu. Sina juga tidak ingin mengganggu pekerjaan Bik Mur sehingga memutuskan keluar rumah dan berjalan-jalan di taman sebentar saja. Dia ingin melepaskan perasaan sesak dihatinya karena sempat terpojok saat berdebat dengan Risa tadi.
Selain untuk menenangkan hatinya, Sina saat ini sedang merenungi masa lalu Dion. Dia pikir Tuhan benar-benar menyiapkan skenario ini untuk dirinya dan Dion.
Bayangkan saja, saat itu Sina mengalami tabrak lari karena spontan menyelamatkan anak laki-laki penakut sedangkan saat itu Dion mengalami penculikan yang mencekam.
"Tidak berlebihan jika aku mengatakan semua ini terjadi karena aku dan Dion memang ditakdirkan untuk hidup bersama." Gumamnya merasa lucu.
"Sebenarnya aku memang sudah terlanjur hidup tanpa kasih sayang kedua orang tuaku dan sempat beberapa kali berpikir jika Tuhan tidak menyayangi hidup ku ini. Namun, saat aku bertemu Dion dan mulai tinggal di rumah ini pikiran itu tiba-tiba tidak muncul lagi di benakku. Malah, aku berpikir jika semua ini terjadi karena Tuhan ingin menggantikan kekosongan hatiku dari kasih sayang orang tua dengan kasih sayang hangat Dion. Setelah ku pikir-pikir lagi semuanya memang impas jadi perlahan namun pasti aku akan memaafkan kedua orang tuaku. Ketika kami punya anak nanti aku tidak akan menelantarkan anakku seperti yang dilakukan kedua orang tuaku kepadaku. Aku akan mengabdikan seluruh hati dan hidupku untuk anakku, ya, tentu saja suamiku termasuk. Mereka adalah orang yang paling aku kasihi di dunia ini jadi aku akan selalu menggenggam kuat tangan mereka." Ucap Sina merencanakan masa depannya.
Saat ini dia sudah duduk nyaman di bangku taman menikmati angin sore yang menyejukkan dan agak lembab. Lembab karena langit mulai mendung dan sepertinya akan turun hujan yang deras malam ini.
"Semoga saja hujan turun malam ini." Pintanya memohon.
"Jika hujan turun maka tidur semua orang akan sangat lelap dan nyaman. Tapi..tapi itu berlaku setelah Dion pulang agar dia tidak kebasahan saat pulang ke rumah."
__ADS_1
Bersambung...