
Bela menggigit bibirnya gelisah sambil menatap jalanan gelap yang ada di depannya. Sudah satu jam lebih berlalu namun Dion tidak menunjukkan tanda-tanda akan kembali. Bela ingin menyusul ke paviliun dingin tapi takut karena jalanan tidak mempunyai pencahayaan.
Beberapa kali dia juga berusaha menghubungi tapi Dion tidak pernah mengangkat atau menjawabnya. Bela menjadi panik Dion akan diapa-apakan oleh Sina karena dia sangat yakin meskipun terlihat lemah dan pucat tapi Sina sejatinya jahat.
Di dalam kepalanya dipenuhi berbagai macam terik licik dan skema-skema jahat yang menjijikkan. Bela takut Sina akan memanfaatkan situasi ini untuk menjebak Dion masuk ke dalam perangkap rencananya.
Bela takut Dion tidak berdaya melawan skema jahat Sina karena itulah dia sangat gelisah.
"Kak Bela kenapa masih belum tidur?" Tanya Risa heran.
Dia keluar ingin mengambil air minum namun perhatiannya langsung teralihkan saat melihat Bela sedang berdiri gelisah memikirkan sesuatu. Pikirannya terlihat terganggu karena beberapa kali Risa perhatikan Bela sering mendecakkan mulutnya tanpa sadar.
"Terus kenapa lagi berdiri di sini?" Tanya Risa semakin heran.
Jalan yang ada di depan mereka gelap gulita dan agak menakutkan jadi Risa tidak bisa menebak alasan kenapa Bela di sini.
"Risa untungnya kamu di sini." Bela bersyukur Risa datang menemaninya.
Dia bisa mengadukan apa yang dia rasakan kepada Risa.
"Kak Bela ada apa?" Risa menebak ada sesuatu yang mengganggu pikiran Bela.
"Aku tidak bisa berhenti mengkhawatirkan Dion. Sudah satu jam lebih dia pergi mengantar Sina ke paviliun dingin tapi dia masih belum balik-balik juga. Risa..aku takut Sina menggunakan terik kotor untuk menjebak Dion di sana." Adu Bela gelisah.
Risa mengernyitkan keningnya terganggu. Jujur dia cukup terkejut mendengar ini.
"Kak Dion ada di paviliun dingin bersama Sina?" Gumamnya heran.
"Iya Risa, tadi Sina ketiduran di dalam mobil jadi Dion memutuskan untuk mengirimnya langsung ke paviliun dingin. Tapi aku gak percaya Sina ketiduran, aku yakin kalau Sina cuma pura-pura tidur aja biar Dion bisa masuk ke dalam jebakannya." Cerita Bela bersemangat dipenuhi dengan nada cemburu.
Risa menjadi menundukkan kepalanya berpikir. Orang seperti Dion bukanlah orang yang mudah dibohongi atau diprovokasi. Tapi sebaiknya, Dion justru mudah memperdaya orang lain dan membuat mereka tidak bisa menyentuh batas kesabarannya.
Jadi Risa tidak yakin Dion diperdaya oleh Sina.
Mungkinkah Kak Dion menyukai Sina?. Batin Risa mulai merasakan krisis.
Namun pemikiran ini tidak bertahan lama karena dia diyakinkan dengan sikap acuh Dion kepada Sina selama beberapa hari ini.
Gak mungkin, orang yang disukai Kak Dion adalah Kak Bela. Kak Dion sendiri yang menghukum Sina di paviliun dingin dan mengasingkannya dari rumah ini. Dia lebih memilih percaya kepada Kak Bela dibandingkan dengan Sina dan ini seharusnya menjadi bukti terkuat bahwa Sina bukanlah apa-apa di mata Kak Dion. Batin Risa mulai menganalisis.
Jadi kekhawatirannya tentang ancaman keberadaan Sina ternyata sia-sia karena musuh sebenarnya yang harus dia singkirkan adalah Bela.
"Hem..jadi aku sudah masuk ke tahap ini." Gumamnya cukup puas.
Bibir tipisnya menyunggingkan senyum tipis yang amat sangat samar. Jika tidak diperhatikan secara baik-baik orang tidak akan bisa menyadarinya.
"Kamu tadi ngomong apa? Maaf, aku kurang jelas dengarnya, Ris." Tanya Bela memecahkan lamunan Risa.
"Oh.." Risa tersadar, tapi dia tidak panik dan langsung memperbaiki ekspresinya sealami mungkin.
"Ini Kak..aku cuma mau bilang kalau Sina adalah gadis yang berbahaya jadi Kakak jangan tertipu dengan kepolosannya. Lihat saja sekarang, untuk mendapatkan perhatian Kak Dion dia rela melakukan tindakan tercela. Tujuannya? Sudah pasti untuk merebut Kak Dion dari Kakak. Jadi, Risa saranin Kakak harus berhati-hati dengan Sina dan jangan sampai lengah saat berhadapan dengannya." Cerita Bela bohong ingin mengadu domba mereka berdua.
Karena Sina bukan lagi umpan yang penting maka tidak ada salahnya mengubah Sina menjadi sasaran kebencian dari Bela.
Risa akan meracuni pikiran Bela untuk terus membenci Sina sampai batas dimana mereka akan saling menghancurkan.
"Aku juga berpikir seperti itu. Gadis ini bukanlah orang yang mudah dihadapi. Aku harus melakukan sesuatu agar dia tidak bisa menggunakan terik kotor untuk menjebak Dion." Pandangannya lalu beralih menatap Risa.
"Terima kasih Risa, aku sangat terbantu karena mu. Suatu hari jika kamu butuh bantuan maka jangan ragu untuk menghubungi aku. Apapun masalahnya jika masih dalam jangkauan ku maka sebisa mungkin akan aku bantu." Beritahu Bela tulus.
Dia bersyukur Risa mau membantunya selama tinggal di rumah ini. Tanpanya Bela mungkin akan sangat sulit bertahan di rumah ini untuk menghadapi Sina. Tanpanya Bela mungkin tidak akan pernah menyadari warna asli Sina selama ini jadi jauh dari dalam hatinya Bela sangat bersyukur.
__ADS_1
Risa tersenyum simpul,"Tentu, suatu hari nanti aku pasti membutuhkan bantuan Kak Bela." Katanya menyamarkan maksud tertentu.
Risa sekali lagi melihat jalan gelap gulita yang ada di depannya, keningnya mengkerut tertekan karena tidak bisa menebak alasan Dion masih belum kembali ke rumah utama.
Jika Kak Dion tidak menyukai Sina, lalu mengapa dia masih belum juga kembali ke sini? Apa ada sesuatu yang menahannya di sana?. Batinnya menerka-nerka.
"Ini udah mau jam 1 Kak, yakin masih mau nunggu Kak Dion balik?" Tanya Risa tidak bisa menyembunyikan kantuknya.
Dia ingin segera kembali ke kamarnya untuk melanjutkan tidur.
Bela tersenyum tipis dan terlihat enggan,"Aku akan tidur sebentar lagi." Jawabnya bertahan.
Risa menganggukkan kepalanya tidak perduli,"Risa saranin Kakak tidur aja dulu. Urusan Kak Dion kita bisa cari bersama-sama besok, gimana?"
"Aku akan tidur sebentar lagi, kamu segeralah tidur. Kakak perhatian kedua mata kamu merah pasti karena mulai mengantuk." Bela masih menolak secara halus.
Kali ini Risa tidak memaksanya.
"Karena Kak Bela sudah mengatakannya maka Risa tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Risa akan kembali ke kamar dan Kak Bela jangan terlalu begadang, itu gak baik buat kesehatan."
Bela tersebut lembut,"Pasti. Udah, kamu balik ke kamar sana. Tidur yang nyenyak dan jangan lupa doa." Katanya sambil mendorong Risa menjauh.
Risa tidak senang disentuh-sentuh oleh orang asing tapi dia tidak bisa menolak untuk saat ini karena dia harus tetap menjaga fasatnya seanggun mungkin di depan Bela, ancaman terbesarnya.
"Kalau begitu aku akan pergi, Kak Bela selamat malam." Pamit Risa sebelum kembali ke kamarnya meninggalkan Bela yang masih di rudung kesedihan.
"Selamat malam." Jawabnya lesu.
Dia mengalihkan pandangannya menatap jalan gelap gulita yang masih belum menampakkan sosok yang dia rindukan. Buaian angin malam menerpa kulit putih Bela, membuat hawa dingin mulai merambati tubuhnya perlahan.
"Dion, kamu kenapa masih belum balik?" Gumamnya sedih.
Sudah 2 jam berlalu namun laki-laki itu masih belum menunjukkan tanda-tanda ingin pulang. Dia sangat mudah mengambil hati kedua orang tuanya tanpa menggunakan banyak usaha seperti yang lain.
Calista memang senang tapi juga kesal karena laki-laki ini sudah punya orang lain di dalam hatinya sehingga dia tidak punya kesempatan untuk memiliki laki-laki ini.
"Calista, ayo sini salam sama Ridwan. Katanya malam ini dia mau pulang, lho." Mama memanggil Calista agar ikut bergabung bersama mereka bertiga.
Calista merenggut kesal namun tetap mendengarkan panggilan Mamanya.
"Iya, Ma." Teriaknya mendengarkan.
Dia kemudian meletakkan alat-alat makannya. Mengambil beberapa lembar tissue untuk membersihkan mulutnya sebersih mungkin. Dia tidak ingin Ridwan melihat cara makannya yang jorok.
"Kak Ridwan mau balik ke kota?" Tanya Calista begitu dia duduk di samping Mamanya.
Ridwan tersenyum tampan dan menganggukkan kepalanya dengan kalem.
"Ya, rencananya aku akan langsung pulang ke kota." Jawab Ridwan tidak berbohong.
"Lho, kamu mau balik ke kota? Emang selama tinggal di sini kamu tidur dimana?" Sambar Mama mulai mengintrogasi.
Ridwan merasakan sebuah firasat yang bagus untuk ini.
"Aku tunggal di hotel X Tante, kebetulan jaraknya juga gak terlalu jauh dari rumah Tante." Jawab Ridwan tidak berbohong tapi kedua matanya jelas mengharapkan sesuatu.
Mama dan Papa Calista cukup terkejut, mereka iba dan tidak tega membiarkan Ridwan tidur di luar sedangkan rumah mereka masih punya banyak kamar yang kosong.
"Kenapa kamu gak bilang dari kemarin kamu tinggal di hotel? Kalau Papa tahu dari awal Papa pasti gak akan biarin kamu tinggal di sana dan lebih baik tinggal di sini. Kami punya banyak kamar kosong di rumah ini sehingga akan sangat bagus kamar itu ditempati." Papa menepuk pundak Ridwan sambil berbicara serius.
"Papa benar, Nak. Malam ini lebih baik kamu tidur di sini dulu karena Mama tidak tega melihat kamu balik ke kota malam-malam begini. Besok setelah makan siang kamu bisa kembali ke kota bersama Calista, dia bilang kangen sama temennya yang tinggal di rumah Dion. Bolehkan Ridwan jika pulangnya ditunda dulu sampai besok siang?" Mama menggunakan kesempatan ini untuk mendekatkan Ridwan dengan Calista.
__ADS_1
Karena setelah dia perhatikan beberapa hari ini Ridwan sering menatap ke arah Calista yang sering bersikap cuek kepadanya.
Mereka pasti punya rasa yang sama, pikir Mama saat itu.
"Mama, ih! Calista kan bisa pulang sama Om Bagas biar gak nyusahin orang lain." Protes Calista tidak ingin terus terlibat dengan Ridwan.
Ridwan tersenyum lebar, kedua tangannya bahkan terkepal kuat menahan perasaan senangnya.
"Tidak apa-apa Tante, aku gak masalah kok pulang besok siang dan Calista juga gak perlu sungkan sama aku karena kita juga bukan orang asing jadi kenapa aku harus terbebani." Sanggah Ridwan sengaja menekankan setiap kalimatnya secara jelas agar Calista tidak bisa mengelak darinya lagi.
"Tuh, Ridwan aja bilang gak apa-apa masa kamu yang jadi beban merasa terbebani." Mamanya sangat mendukung hubungan mereka jadi dia tidak akan melewatkan kesempatan ini begitu saja.
"Mama, ih!" Calista cemberut karena tidak didengarkan.
Meskipun lagi marah Calista masih tetap cantik, malah dia keliatan lebih manis seperti ini. Batin Ridwan terpesona.
"Mama tinggal dulu ya sebentar di sini sama Calista. Mama sama Papa mau siapin kamar untuk kamu menginap malam ini." Mama menepuk pundak suaminya, memberikan sinyal agar dia segera bangun.
Papa memang bingung dengan kelakuan istrinya tapi dia tidak menanyakannya. Papa memutuskan untuk mengikuti saja rencana istrinya jadi dia dengan patuh bangun dari duduknya.
"Om, Tante.. kalian gak perlu ngelakuin ini karena aku gak mau menginap dan merepotkan kalian. Aku akan tinggal di hotel-"
"Menginap di sini yah, ini Papa sama Mama yang minta lho. Iya'kan, Pa?" Potong Mama menekan.
Papa tertawa getir, menahan sakit karena lengannya saat ini sedang di remat oleh kuku tajam istrinya.
"Benar Ridwan, Papa ingin kamu tidur di rumah ini. Jangan sungkan dan jangan malu, anggap rumah ini adalah rumah kamu." Jawab Papa menahan sakit.
Ridwan semakin tersenyum lebar tidak bisa menyembunyikan rasa senang di dalam hatinya.
"Tante, Om, maaf merepotkan kalian."
"Tidak..tidak..kami tidak repot sama sekali. Baiklah kalau begitu kami akan pergi." Mama menyeret Papa pergi dari ruang tamu.
"Mau kemana?" Tanya Mama saat melihat Calista mengekori mereka.
"Mau bantu kalian berdua-"
"Gak usah, kamu temenin Ridwan aja di sini biar gak kesepian." Potong Mama tanpa menunggu Calista menyelesaikan ucapannya.
Setelah mengatakan itu Mama pergi menyeret suaminya menjauh dari ruang tamu. Memberikan tempat dan waktu kepada putrinya untuk lebih dekat lagi dengan Ridwan.
"Ma, kamu benar-benar tega mengirim putrimu ke lubang penderitaan." Bisik Calista meratap.
Bersambung...
HelloðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤
Author minta maaf yah soal yang kemarin karena PHP heheh..
Tapi kalau ini serius kok author bakal langsung up bila kalian bisa jawab benar. Iyaaaa... author ada kuis hehe..
Kuisnya gampang kok! kalau kalian bisa jawab author bakal up langsung deh hari ini...tapi kalau bisa yah..
Soal kuisnya yah..
COBA TEBAK BERAPA KATA DI PART 74 INI, KALAU BENAR HARI INI AUTHOR LANGSUNG UP DOUBLE DEH😊
DITUNGGU YAH..
Tapi kalau kalian males gak apa-apa kok gak dijawab, satu hari up sekali bikin author santai juga kokðŸ¤
__ADS_1