
"Bibi, aku sungguh tidak apa-apa. Perut ku juga tidak sakit lagi jadi Bibi-Dion?" Sina sangat terkejut melihat orang yang berdiri di depannya bukanlah Bibi melainkan Dion, pujaan hatinya.
"Enggak-enggak..aku pasti mimpi..aku pasti mimpi lagi!" Sina ingin menutup pintu apartemen tapi sebuah tangan besar nan panas menghentikannya.
"Kamu tidak bermimpi sayang, orang yang berdiri di depan mu saat ini adalah aku." Ucap Dion membuat jantung Sina langsung berdegup kencang.
"Dion?" Sina ingin melepaskan tangannya tapi Dion tidak mau.
Dia mengerahkan kekuatannya yang semakin melemah dan menariknya ke dalam pelukan. Menenggelamkan kepalanya di leher Sina dan menghirup sepuas hati aroma yang sudah beberapa bulan tidak tercium.
"Jangan bersembunyi lagi Sina..ku mohon.." Bisik Dion memohon.
Kedua matanya mulai berkaca-kaca, dari sudut matanya mengalir sebuah cairan hangat dan membuat kulit leher Sina basah.
Jantung Sina berdenyut sakit ketika tahu Dion kini sedang menangis di dalam pelukannya.
"Dion.. Dion..aku sangat merindukan mu..hiks..aku setiap hari mengalami insomnia karena selalu memikirkan kamu..aku sulit memejamkan mata karena selalu terbayang kamu.." Sina memeluk erat punggung Dion, jika bisa dia ingin menyatu dengan Dion. Masuk ke dalam dagingnya agar mereka tidak pernah terpisahkan lagi.
"Sina..aku lebih gila..aku gila karena kamu tiba-tiba meninggalkan ku.. bersembunyi di sini dan tidak pernah memberikan ku kabar apapun..aku.. sungguh kesakitan tanpa mu.." Katanya seraya mengecup leher Sina beberapa kali.
"Dion.." Sina tiba-tiba tersadar.
Dia segera melepaskan pelukan mereka berdua dan menatap langsung ke mata Dion.
"Kenapa kamu ada di sini?" Tanyanya panik.
Jika Nyonya Ranti tahu Dion ada di sini, mungkin kebenciannya kepada Sina pasti akan berlipat ganda.
Juga tentang karir Dion, Sina tidak mau semua hasil kerja keras Dion hilang dalam waktu yang singkat hanya karena mereka bersama. Sina tidak bisa menerima resiko besar ini.
"Membawa kamu kembali dan mengawasi kamu agar jangan mengulangi penyiksaan ini lagi, apa kamu tahu hatiku rasanya sangat sakit setiap kali melewati hari tanpa orang yang pernah mengakui sangat mencintaiku." Jawab Dion serius dengan sorot mata yang serius pula.
"Tidak.. tidak..ini tidak benar, Dion! Tante Ranti pasti sangat marah ketika tahu kamu ada di sini-"
"Mama gak bakal tahu, Sina. Kalaupun dia tahu memangnya kenapa? Dia tidak bisa melakukan apa-apa lagi kepada hubungan kita berdua. Dia tidak akan mengganggu kamu jadi percayalah sekarang semuanya sudah baik-baik saja." Potong Dion menghilangkan kekhawatiran Sina.
Dia mengelus pipi merah Sina yang masih tirus, mengusapnya selembut mungkin untuk menyalurkan kasih sayangnya.
"Dion..badan kamu panas banget!" Sina menyentuh kening dan pipi Dion, merasakan tinggi suhu tubuh Dion yang lebih cocok disebut sebagai kompor berjalan.
"Aku gak.. apa-apa.." Dion oleng dan pandangannya dalam sekejap berputar-putar.
Tubuhnya juga mulai kehilangan tenaga, jika tidak ditahan Sina mungkin dia akan langsung terjatuh ke lantai.
"Kamu demam Dion.." Badan Dion panas dan pakaiannya pun masih basah.
"Kamu tadi ke sini hujan-hujanan dulu, yah?" Dia lalu melirik beberapa kantong belanjaan besar di lantai dan langsung mengerti.
"Sina.. jangan pergi.." Dion menggenggam erat tangan Sina dengan tenaga terakhirnya, alam bawah sadarnya membunyikan alarm jika Sina sewaktu-waktu bisa pergi seperti beberapa bulan yang lalu.
"Okay, aku gak akan pergi..tapi kita masuk dulu, yah? Badan kamu panas dan pakaian kamu juga basah jadi kamu harus istirahat di dalam."
__ADS_1
Dia tahu perpisahan ini membuat mereka tersiksa dan merasa sakit, tapi rasanya sangat berbeda ketika melihat orang yang kamu cintai perlahan hancur di depan mata kepala sendiri.
Sina tidak bisa melanjutkan persembunyian ini karena mereka sudah berada di batas toleransi hati. Mereka tidak bisa melangkah lagi..
Sina memasukkan Dion ke dalam kamarnya lebih dulu sebelum keluar memasukkan kantong belanjaan Dion yang ada diluar. Ketika Sina melihat isi belanjaannya, dia tidak bisa tidak menyunggingkan senyuman halus. Tangan kanan yang bebas tanpa sadar mengelus perutnya yang membesar bukan lagi sebatas buncit.
"Papa kamu ternyata sudah tahu tentang kamu, Nak. Dia hebat seperti biasanya jadi Mommy tidak kaget." Gumam Sina sudah bisa menebaknya.
Sebelum dia pergi dari paviliun dingin dia sempat menebak bahwa Dion mungkin tahu tentang kehamilannya. Hanya saja dia diam tapi perhatiannya yang lebih banyak berbicara.
Sina kembali ke dalam kamar dengan suasana hati yang campur aduk. Ada rasa sakit, cemas, dan kebahagiaan karena mereka akhirnya dipertemukan kembali.
Sina menatap wajah pucat Dion di atas tempat tidur yang kini sedang terpejam. Dengan hati-hati dia melepaskan sepatu Dion, membuka sabuknya, dan melepaskan semua kain lembab yang menempeli tubuh demam Dion. Sekarang Dion tidak punya kain apapun untuk menutupi tubuhnya dan Sina juga bingung harus memberikannya pakaian apa.
Untungnya dia masih punya pakaian tidur ukuran XL. Dia sengaja membeli karena perutnya sudah mulai besar sehingga pakaian yang dulu tidak akan muat di badannya.
"Sina.." Suara Dion sayup-sayup memanggil.
"Hem, kenapa sayang?" Sina buru-buru mendekati Dion, menempelkan kompresan dingin di atas keningnya.
"Tidur sama aku.." Mungkin karena demam suara Dion lebih lemah dan serak dari biasanya.
Sina tersenyum tipis, naik ke atas ranjang dan membawa Dion ke dalam pelukannya. Dia menepuk-nepuk ringan pundak kekasihnya sebagai lagu penghantar tidur. Alhasil, Dion di dalam pelukannya mulai memejamkan mata dan bernafas teratur.
"Padahal kamu belum minum obat." Gumam Sina tidak berdaya.
Namun karena Dion akhirnya bisa terlelap Sina tidak akan mengganggunya. Dia memutuskan untuk memberikan Dion obat ketika dia bangun nanti.
Itu adalah suara ponsel Dion. Sina menoleh ke nakas di dekatnya. Dia ragu mengambil ponsel Dion karena takutnya orang yang menelpon adalah keluarga Dion. Tapi panggilan itu terus berdengung, seolah-olah orang yang menelpon di seberang sana sangat cemas.
Terpaksa, Sina mengambil ponsel Dion dan melihat id penelepon adalah sekretaris Dion. Seharusnya Sina tidak akan mengangkat karena dia bukan bagian dari perusahaan tapi Dion sedang sakit sekarang dan belum bisa pergi ke kantor besok pagi.
"Halo?" Dion mengangkat panggilan.
"Ini..istri bos?" Sekretaris itu bertanya ragu.
"?"
Sina tercengang, melihat ke arah wajah tenang Dion yang sedang tertidur lelap di sampingnya. Dia ingat tidak ada kabar apapun tentang pernikahan Dion dengan wanita lain, apalagi Bela. Sina tidak pernah mendengarnya.
"Oh.. maksud ku apa ini Sina?" Suara di seberang sana mengoreksi.
"Ya, ini aku. Tapi siapa yang kamu panggil istri bos?" Dia bertanya gugup.
"Bukankah itu kamu?" Orang yang ditanya bertanya balik.
Sina terkejut, wajahnya sontak memerah.
"Bagaimana mungkin itu aku?"
Mereka belum menikah, okay!
__ADS_1
"Ah..bos..apakah dia ada di samping mu?"
Sina melirik wajah pucat nan tenang Dion.
"Ya, dia demam dan tidur di sampingku." Tepatnya dia ada di dalam pelukanku!
Tapi kata-kata terakhir hanya bisa dia pendam di dalam hati.
"Ya Tuhan, syukurlah sekarang dia bersamamu!"
"Apa maksudmu?" Dari nada suaranya ini bukanlah hal yang baik.
"Bos..apa kamu tahu dia terlalu ketat beberapa bulan ini kepada kami. Tidak hanya mengurus urusan kantor tapi kami juga dipaksa untuk mencari keberadaan mu jika masih ingin bekerja di perusahaan." Sekretaris itu menceritakan dengan hati-hati dan volume suara serendah mungkin seolah Bos yang dia bicarakan ada di dekatnya.
"Mencariku?" Dia tahu Dion akan mencarinya tapi dia tidak menyangka Dion akan melibatkan para karyawannya.
Karyawan yang bekerja di sana sudah pasti tidak terbiasa dengan pekerjaan kasar yang Dion minta karena mereka datang ke kantor untuk mengurus urusan perusahaan bukan urusan pribadi bosnya.
"Benar, jika kami tidak mendapatkan informasi tentang kamu bos pasti akan melampiaskannya lewat pekerjaan. Selain itu dia juga jadi mudah tersinggung dan marah, setiap kali ada orang yang mengganggunya bos tidak akan segan membalasnya lebih kejam lagi. Bahkan dua perusahaan besar tidak luput menjadi korbannya, aku tidak tahu kenapa bos sangat marah dengan dua perusahaan ini tapi membuat mereka jatuh pailit adalah sebuah langkah yang berani."
Sina menghirup udara dingin, mengingat berita beberapa hari yang sudah memenuhi layar televisi negeri. Dia tahu perusahaan H milik keluarga Bela terancam bangkrut karena berbagai macam kasus. Awalnya Sina tidak yakin siapa dibalik kasus ini, namun setelah mendengar penjelasan sekretaris Dion sekarang dia yakin siapa dan apa alasan kehancuran perusahaan H.
"Sina?" Suara sekretaris menarik Sina dari lamunannya.
"Oh, aku tahu. Masalah itu kamu tidak perlu menjelaskannya. Lalu, kenapa kamu tiba-tiba menghubunginya selarut ini?" Ini sudah jam 3 dini hari jadi secakap apapun sekretaris mereka tidak akan mengganggu istirahat bosnya.
Mereka tidak punya hubungan spesial'kan?
"Ku harap kamu tidak salah paham. Aku menghubungi bos selarut ini karena aku khawatir terjadi sesuatu kepadanya. Saat aku mengecek cctv tadi tidak ada siapapun di ruangan bos, aku pikir terjadi sesuatu kepada bos karena biasanya jam segini dia masih berkutat di depan laptop untuk bekerja."
Sina bernafas lega namun juga prihatin melihat kekasihnya.
"Apa dia selalu begadang?"
"Sebenarnya tidak, tapi semenjak kamu pergi dia tidak pernah pulang dan tinggal di perusahaan. Menghabiskan waktu bekerja keras dan begadang semalaman. Semua orang sangat khawatir melihat bos seperti ini."
Sina semakin merasa bersalah. Lihat sekarang, Dion jatuh sakit dan penampilannya juga lebih kacau dari biasanya. Sina tidak pernah berpikir Dion akan sekeras ini berpisah dengannya.
"Aku.. mengerti." Sina tersenyum tipis, mengusap wajah tampan Dion dan memeluknya erat.
Tidaka ada lagi lain kali, dia tidak akan pernah menyakiti Dion lagi.
"Sina..kamu jangan lagi meninggalkan bos. Dia sangat tertekan ketika kamu melarikan diri darinya. Dia memarahi dan menekan siapapun yang membuatnya kesal, membuat kami khawatir pada saat yang sama takut terus terjebak melihat bos yang terlalu ketat. Jujur, selama aku bekerja dengannya aku tidak pernah melihat bos semenyedihkan sekarang. Dia terlihat hancur."
Sina menghirup udara dingin, menganggukkan kepalanya menahan sesak seakan-akan lawan bicaranya ada di depan.
"Kamu bisa tenang, kami tidak akan berpisah lagi."
Ini sakit, kami berdua bahkan sama-sama hancur karena pilihan egois ku. Tidak lagi, aku tidak mau membuatnya sakit. Bila dia sakit dan hancur maka orang yang akan paling hancur adalah aku. Aku tidak bisa membuatnya hancur dalam jurang yang aku ciptakan sendiri. Dion..aku minta maaf, aku minta maaf karena pernah berpikir kamu akan bahagia bila berpisah denganku. Maafkan aku, sayang.
Bersambung..
__ADS_1