Dear Dion

Dear Dion
59. Mereka Pulang (2)


__ADS_3

"Mama gak habis pikir yah kamu memutuskan hubungan kerjasama perusahaan kamu dengan keluarga Bela hanya gara-gara gadis itu. Dion, apa kamu sadar jika yang kamu lakukan ini sangat impulsif dan membahayakan masa depan karir kamu di dunia bisnis?" Nyonya Ranti langsung bergegas ke dalam tenda Dion setelah mendapatkan laporan dari putrinya tentang kejadian tadi pagi.


Marah juga kecewa sebagai Ibunya, Nyonya Ranti tidak bisa membiarkan putra satu-satunya menghancurkan karirnya sendiri hanya karena gadis asing yang tidak terlalu penting di rumah mereka. Dia hanya tamu biasa dan seorang tamu hakikatnya adalah orang asing yang sekedar singgah.


Dion tahu jika Nyonya Ranti sedang marah tapi dia tidak terlalu memasukkan kemarahan Ibunya ke dalam hati. Malah dia sibuk mengotak-atik ponselnya untuk menghubungi Ridwan akan tetapi orang yang dia hubungi sedari tadi tidak mengangkat telpon darinya.


"Dion, kamu dengerin Mama gak'sih!" Kesal Nyonya Ranti karena diabaikan oleh Dion.


"Dion dengerin kok, Ma." Sahut Dion kalem sambil melempar ponselnya ke atas kasur.


"Ya udah, kamu jelasin dong ke Mama tentang pemutusan kontrak perusahaan kamu sama perusahaan keluarga Bela." Tuntut Nyonya Ranti masih marah.


"Apalagi yang perlu dijelasin? Semuanya padahal udah jelas kalau Dion udah batalin kontrak sama perusahaan mereka." Jawab Dion singkat.


Nyonya Ranti tidak puas dengan jawaban putranya.


"Ya Tuhan, Dion! Kamu sadar gak, nak, kalau perusahaan itu adalah perusahaan keluarga Bela. Itu perusahaan keluarganya Bela, nak!" Nyonya Ranti menekankan sekali lagi suaranya ketika menyebut Bela.


Dion seharusnya mengerti apa maksudnya berbicara seperti ini karena semua orang sudah tahu hubungan Dion dengan Bela. Hubungan yang sudah tertanam sejak kecil ini adalah harapan kedua keluarga agar Dion dan Bela bisa naik ke tahap yang lebih serius lagi.


"Memangnya kenapa kalau itu perusahaan keluarganya Bela? Kesalahan yang mereka lakukan tidak akan bisa ditutupi sekalipun mereka keluarga Bela. Mama tahu sendiri'kan kalau aku paling benci sama orang yang mengagung-agungkan kekuasaan! Menggunakan kekuasaan untuk menuruti keinginan mereka, moralitas mereka sudah diambang kritis!"


Benci!


Dion sangat membenci perilaku ini, sikap sombong yang membuat perutnya terasa mual. Padahal mereka salah akan tetapi hanya karena mereka lebih tinggi dan mempunyai banyak uang, kesalahan dapat diputar balikkan menjadi sebuah kebenaran. Huh... moralitas yang menjijikkan!


"Mama mengerti...tapi bagaimana jika apa yang Nyonya Xia katakan benar bahwa yang pertama mengganggu anak itu adalah Sina, bukankah Sina seharusnya mendapatkan hukuman?" Nyonya Ranti agak goyah menghadapi sikap putranya yang ketat.


"Sina bukanlah orang yang seperti itu, aku bisa menjaminnya." Dion mulai mengemasi barang-barangnya ke dalam koper kecilnya.


Nyonya Ranti sontak panik melihat Dion mulai berkemas.


"Kamu mau kemana?" Tanya Nyonya Ranti seraya berdiri dari duduknya.


"Dion mau pulang Ma, ada urusan penting di perusahaan yang sangat mendesak untuk diselesaikan jadi gak bisa ditunda." Jawab Dion singkat.


Nyonya Ranti segera meraih koper dan menghentikan Dion memasukkan pakaian ke dalamnya. Dengan ekspresi garang dia memandangi satu-satunya putra yang sudah dia besarkan dengan penuh kasih. Bertahun-tahun sudah mereka lewati bersama dan Dion tidak pernah mengabaikan kata-katanya, bahkan sekalipun Dion masih di Belanda saat itu.


Tapi lihat sekarang hanya karena Sina, satu-satunya putra yang dia besarkan ini mulai membangkang dan bahkan berani memutuskan suatu keputusan besar tanpa mendengar pendapatnya dulu sebagai seorang Ibu.

__ADS_1


Nyonya Ranti tidak bisa menerima ini!


"Ini pasti karena Sina, kan!" Tebak Nyonya Ranti marah.


"Apa yang kamu lihat dari gadis itu! Gadis bodoh yang tidak bisa apa-apa dan hanya bisa mempersulit hidupmu. Lihat Bela, dia lebih cantik dan berpendidikan tinggi! Jauh lebih pantas kamu perjuangkan daripada gadis yang menyusahkan itu. Bela bisa membantu kamu meniti karir dan kesuksesan, sedangkan gadis itu hanya bisa menghambat hidup-"


"Cukup, Ma!" Potong Dion keras.


"Mama gak tahu apa-apa tentang Sina." Lanjut Dion kecewa.


"Kamu..." Nyonya Ranti sangat terkejut dengan bentakan putranya.


Dion menghela nafas berat, meraih tangan Nyonya Ranti dengan lembut. "Maafin Dion, Ma. Aku gak maksud bentak Mama tadi. Mama tuh orang tua Dion, orang yang paling Dion cintai dan sebagai orang yang Dion cintai aku gak senang denger Mama ngomong yang kasar."


Mencium punggung tangan Nyonya Ranti dengan sayang, dia lalu melanjutkan kata-katanya. "Dan soal Sina, aku harap Mama jangan lagi meributkan soal dia karena Mama sama sekali tidak tahu siapa Sina di dalam kehidupan Dion."


Setelah mengatakan itu dia mengambil alih kopernya dari Nyonya Ranti dan melanjutkan kembali acara beres-beresnya yang tidak memakan banyak waktu.


Sedangkan Nyonya Ranti masih berdiri di tempatnya memandangi Dion yang masih sibuk memasukkan pakaiannya ke dalam koper. Di dalam hati Nyonya Ranti mulai menumbuhkan perasaan tidak puasnya terhadap Sina karena sudah membuat Dion menjadi pembangkang seperti ini. Dia tidak tahu kelebihan apa yang Sina lakukan sehingga Dion sampai rela memotong rantai kesuksesannya hanya karena membela Sina. Padahal jika diingat-ingat pertengkaran itu hanya karena masalah sepele tapi dampak yang Sina berikan kepada Dion bukan main-main.


"Kami akan ikut pulang dengan mu." Putus Nyonya Ranti terdengar muram.


...🌺🌺🌺...


Orang yang ada diseberang sana menjawab dengan sopan, "Non Sina sudah pulang Tuan muda, saat ini dia sedang beristirahat di dalam kamarnya."


Dion menganggukkan kepalanya lega setelah tahu Sina sudah sampai rumah dengan selamat.


"Lalu.. apakah dia sudah makan siang?"


Orang yang ada di seberang sana menjawab dengan ragu, "Tuan muda...dia tidak pernah keluar sejak masuk ke dalam kamarnya. Sebelumnya Bik Mur sudah menawari non Sina untuk makan tapi dia langsung menolaknya dan lebih memilih beristirahat di dalam kamar."


Dion sangat tidak puas dengan laporan anak buahnya ini. Tangan kirinya yang bebas terangkat memijit keningnya yang sedang berdenyut pusing.


"Kenapa kamu tidak menyuruh Bik Mur untuk-ah, lupakan! Aku akan menanganinya langsung begitu sampai di rumah."


Sina pasti kesulitan makan, pikir Dion menebak.


"Teruskan pekerjaan mu, aku ingin istirahat."

__ADS_1


"Baik, Tuan muda." Setelah itu panggilan telepon mereka terputus.


Diam, dia mulai memejamkan matanya menikmati suara tetesan air hujan yang cukup deras diluar sana. Karena hujan yang deras kecepatan bus harus dikurangi untuk mencegah terjadinya kecelakaan. Tentu saja ini semakin membuat mood Dion turun karena semakin lama perjalanan maka semakin lama pula dia bisa bertemu Sina.


Jika dia tahu ini akan terjadi maka Dion mungkin lebih memilih membawa mobil pribadi daripada datang menggunakan bus.


"Hah... apakah dia baik-baik saja di rumah?" Gumam Dion agak lelah.


...🌺🌺🌺...


"Dion kelihatan capek, aku mau tawarin makan tapi takutnya dia marah. Hah..Kir, aku takut banget Dion benci sama aku." Bela menatap sedih ke arah kursi Dion.


Di kursi belakang ada Dion yang sedang memejamkan matanya seperti tertidur tapi Bela tahu jika Dion tidak tertidur.


"Dion gak akan pernah bisa marah sama kamu. Dia cuma capek sama urusan kantornya jadi kamu gak perlu mengkhawatirkan yang enggak-enggak." Hibur Kira dengan suara lesunya.


Wajah cantiknya terlihat muram dan tidak bersemangat sepertidengan kemarin, Kira pasti begadang dari semalam karena matanya terlihat gelap seperti mata panda.


"Kamu...dari semalam gak pernah tidur?" Tanya Bela menebak.


"Ridwan dibawa pergi sama Calista, hilang tanpa kabar. Kalau kamu jadi aku apa iya kamu bisa tidur nyenyak semalaman tanpa mikirin hal apa yang pacar kamu lakuin diluar sana sama wanita lain?" Keluh Kira muram.


"Mereka... pergi?" Shock Bela.


Pantas saja semalam dia tidak pernah melihat Ridwan dan Calista, ternyata ini alasannya.


"Ridwan yang dipaksa pergi sama Calista, Bel." Koreksi Kira tidak senang.


"Iya..iya...aku gak nyangka Calista selicik ini."


Kira memutar bola matanya malas, "Baru kelihatan'kan warna aslinya. Yah.. bayangin aja kalau Dion dibawa pergi sama Sina, yakin kamu masih bisa merem?"


Bela menggelengkan kepalanya panik, "Aku pasti bisa gila kalau mereka berdua bersama."


"Makanya...stres banget aku dari semalam mikirin mereka lagi ngapain. Ditelpon gak ada yang mau angkat..hah..kalau ketemu nanti si Calista bakal aku hajar habis-habisan!" Geram Kira emosi.


Bela sama sekali tidak mendengar keluhan Kira karena saat ini matanya kembali terfokus menatap wajah tampan Dion yang sedang terpejam. Dalam hatinya, dia membayangkan jika suatu hari nanti Sina tiba-tiba mengambil Dion dari dirinya. Saat itu terjadi mungkin Bela tidak bisa membiarkannya terjadi..dia mungkin akan sangat gila..


Yah, namun untungnya itu hanya khayalan saja karena mana mungkin Dion jatuh cinta pada gadis biasa...yang sangat biasa.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2