
"Dion, aku ingin bicara sama kamu."
Begitu turun dari bus Bela langsung menghampiri Dion. Dia ingin membicarakan masalah tadi pagi dengan Dion. Bela dan keluarganya sepakat tidak akan membatalkan kontrak kerjasama perusahaan mereka. Tidak hanya menyangkut perusahaan, keputusan ini juga diambil setelah mempertimbangkan hubungan Bela dan Dion di masa depan.
Oleh karena itu agar hubungan silaturahmi kedua keluarga tetap terjalin mereka memutuskan untuk tetap melanjutkan kerjasama kedua perusahaan.
"Masalah perusahaan? Kita bisa bicarakan besok aja di kantor. Saat ini aku lagi capek banget dan butuh istirahat." Tolak Dion tanpa melihat Bela.
Bela sebenarnya agak malu ditolak Dion tapi mau bagaimana lagi dia harus memanfaatkan setiap waktu yang berjalan karena dia yakin besok di perusahaan Dion tidak akan mau mendiskusikannya lagi.
"Ini...gak akan lama, hanya beberapa menit saja." Ucap Bela memohon.
"Aku-"
"Dion," Panggil Nyonya Ranti lembut.
Dia melihat ekspresi kesulitan Bela menghadapi putranya oleh karena itu dia berinisiatif menengahi pembicaraan mereka. Nyonya Ranti mengerti tatapan khawatir Bela dan diam-diam memberikan persetujuan untuk membantu. Toh, dia juga menyukai Bela dan keluarganya jadi menggunakan kesempatan ini untuk mendekatkan putranya dengan Bela adalah hal yang paling penting.
"Dengarkan Bela sebentar saja, ini tidak akan menghabiskan banyak waktu untuk membicarakannya." Bujuk Nyonya Ranti.
Dion menghela nafas berat, mengalah, dia menganggukkan kepalanya dengan enggan. Setelah itu dia memberikan gesture agar Bela mengikutinya ke ruang tamu untuk membicarakan apa yang ingin Bela bicarakan.
"Makasih, Tante. Bela bersyukur banget Tante bantuin Bela bujuk Dion. Kalau Tante gak bantu mungkin Dion gak akan mau ngomong sama Bela." Bela meraih tangan Nyonya Ranti, mengucapkan rasa terimakasihnya yang amat tulus.
Nyonya Ranti mencubit hidung Bela gemas, "Sama-sama, sayang. Kita adalah keluarga jadi tidak perlu sungkan." Kata Nyonya Ranti.
"Udah, sekarang kamu kejar Dion sebelum dia lebih kesel lagi."
"Oke, Tante. Aku akan ke ruang tamu dulu," Tersenyum manis, "Sekali lagi terimakasih, Tante." Ucap Bela senang sambil mengecup pipi Nyonya Ranti.
Setelah itu dia berlari mengejar Dion yang sudah masuk ke ruang tamu menunggunya dengan sikap yang membosankan.
Selepas kepergian Bela ke ruang tamu, Risa langsung memeluk Nyonya Ranti dengan manja. Menyandarkan pipi tirusnya di atas pundak Nyonya Ranti untuk menarik perhatiannya.
"Kenapa sayang, Hem?"
"Mama sayang Risa, enggak?" Tanya Risa manja.
"Tentu saja Mama sayang sama Risa, ada apa hem..kok tiba-tiba nanya soal itu ke Mama?"
__ADS_1
"Risa cuma iseng nanya aja, takut kalau posisi Risa dihari Mama udah diambil sama Kak Bela." Jawab Risa sedih.
"Risa adalah putri Mama jadi bagaimana bisa digantikan? Sedangkan Bela adalah calon keluarga kita yang baru jadi kamu gak boleh mikir yang aneh-aneh lagi." Katanya seraya mencubit hidung Risa.
"Hehehe...gak lagi kok, Ma. Risa cuma takut aja soalnya dari kemarin Mama sibuk banget ngabisin waktu sama Kak Bela."
Nyonya Ranti menggelengkan kepalanya geli, agak senang dengan kecemburuan putrinya.
"Hubungan Kakak kamu sama Bela lagi bermasalah, sayang. Mereka butuh bantuan Mama agar bisa menemukan solusi dalam masalah mereka, emang kamu gak senang yah kalau mereka berdua bersama?"
Risa melepaskan pelukannya dan bergerak menjauh dari Mama. Wajahnya yang cantik tersenyum manis memandangi Nyonya Ranti. Tertawa kecil dia mengecup pipi Nyonya Ranti dan langsung pergi tanpa menjawab pertanyaan Nyonya Ranti. Hell, jawabannya sudah jelas jika dia sama sekali tidak senang jika Dion dan Bela bersama. Karena, jawabannya sudah pasti bahwa...
"Dion hanya bisa berakhir bersamaku." Gumamnya tidak bisa diganggu.
...🌺🌺🌺...
"Masalah semalam Paman dan Bibiku sudah berjanji akan melupakannya, jadi.. hubungan kedua perusahaan ini mereka berharap akan tetap berjalan." Bela memulai pembicaraan dengan canggung.
Dion masih belum mengatakan apa-apa, dia bersandar di sofa sambil memejamkan matanya menahan rasa bosan yang melingkupinya.
"Dion... kerjasama kedua perusahaan ini kami harap tetap berjalan lagi." Kata Bela lagi karena belum mendapatkan respon dari Dion.
"Aku tidak akan merubah keputusan yang telah aku buat sendiri. Tidak ada kerjasama diantara kami lagi dan keputusan ini akan tetap berlaku di masa depan nanti. Karena aku, Dion Bramasta pantang menjalin hubungan dengan orang yang menyepelekan moralitas. Menggunakan kekuasaan untuk menindas yang lemah, hah..aku sangat membenci sikap hedonis seperti ini."
"Aku..aku mengerti kemarahan kamu, tapi tidak bisakah kamu memaafkan mereka karena bagaimanapun mereka adalah keluarga ku. Demi aku...tidak bisakah kamu melupakan semua yang terjadi?" Tanya Bela sedih.
Untuk hubungan mereka selama bertahun-tahun ini tidak bisakah Dion menutup mata tentang semua yang terjadi semalam? Mereka sangat dekat, tidak! Bahkan mereka sudah sangat dekat, entah itu dari keluarga ataupun dari mereka berdua sendiri. Seharusnya Dion mempertimbangkan hubungan mereka'kan?
"Bela, maaf aku tidak bisa melakukannya. Bagiku kesalahan adalah kesalahan terlepas siapapun yang melakukannya, aku tidak akan menutup mata sekalipun yang melakukannya orang terkasih ku sendiri." Jawab Dion masih teguh.
Meskipun yang melakukannya adalah orang yang dia cintai Dion to akan menutup mata, dia akan mengatakan itu salah jika orang yang dia cintai berbuat salah dan dia akan mengatakan itu benar jika orang yang dia cintai berbuat benar.
"Aku.." Bela tidak tahu harus mengatakan apa-apa lagi.
Dia lupa jika Dion bukan anak kecil lagi, dia lupa jika Dion yang dia kenal 15 tahun yang lalu tidak sama dengan Dion 15 tahun kemudian. Dion yang sekarang sudah dewasa dan mengenal cara kerja kehidupan, dia benar-benar melupakan ini.
"Hah..tapi bagaimana dengan karir mu? Proyek yang kalian kerjakan adalah sebuah proyek besar. Jika kamu memutuskan kerjasama ini maka yang akan paling rugi adalah kamu dan perusahaan mu. Tidak bisakah kamu mempertimbangkan konsekuensi ini untuk terus melanjutkan kerjasama?"
"Aku sudah memikirkannya jauh sebelum kamu ingatkan dan jawabannya tidak akan pernah berubah, kerjasama tidak bisa dilakukan. Oh ya, katakan kepada Paman mu besok aku akan mengirim surat pembatalan kontrak kerjasama. Katakan juga kepadanya untuk jangan ragu menandatanganinya. Baiklah, karena sudah tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, aku akan istirahat dikamar ku. Bela, selamat sore." Tersenyum ringan, Dion lalu pergi ke lantai dua untuk segera beristirahat.
__ADS_1
Dia meninggalkan Bela sendirian di ruang tamu setelah mengatakan pamit. Lagipula pembicaraan kita sudah selesai sehingga tidak ada yang perlu lagi mereka bicarakan. Jadi, setelah menyelesaikan pembicaraan monoton itu Dion segera bergegas ke lantai dua-yah, tujuan utamanya memang pergi ke kamar Sina.
Dia langsung masuk ke dalam kamar Sina tanpa mengetuk pintu dan menemukan wajah pucat Sina yang sedang tertidur lelap. Alisnya sedikit mengkerut tidak nyaman, mungkin karena mimpi buruk. Melihatnya tangan Dion terulur menyentuh kerutan tersebut dan memijitnya dengan lembut agar jangan sampai membangunkan Sina.
"Setelah pulang dari kantor aku akan membawa kamu ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan besok." Bisik Dion lembut.
Alis Sina tidak lagi berkerut dan wajah tidurnya jauh lebih nyaman dari sebelumnya. Dia lalu naik ke atas ranjang dan membaringkan dirinya di samping Sina. Menarik Sina ke dalam pelukannya dengan hati-hati dan mulai memejamkan matanya sambil menghirup wangi rambut Sina yang menenangkan.
"Mimpi indah, sayang." Bisik Dion mengantuk.
...🌺🌺🌺...
Sina P.O.V
Perutku terasa sangat tidak nyaman, ada sesuatu yang bergejolak ingin segera dikeluarkan. Aku langsung berlari ke arah kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutku-ah, lebih tepatnya hanya cairan bening saja karena sejak tadi pagi aku tidak pernah makan apa-apa. Aneh, padahal tidak ada apapun di dalam perutku tapi kenapa aku selalu ingin muntah?
"Kepalaku pusing..aku tidak punya tenaga lagi untuk berdiri." Setelah memaksakan diri untuk muntah, aku terduduk lemas di atas lantai kamar mandi.
Tenaga ku sudah habis dan badanku rasanya lemas. Ini..apa mungkin karena aku masuk angin?
Tapi seumur hidupku kelelahan berkendara aku tidak pernah sampai muntah separah ini.
"Aku ingin tidur." Rasanya melelahkan.
Aku memaksakan diri untuk berdiri sambil memegang bathtub sebagai penyokong, setelah berhasil berdiri aku kemudian berpegangan pada dinding dan mulai berjalan. Aku baru saja mengambil beberapa langkah dan perutku mulai bergejolak lagi ingin muntah.
"Blargh..oek..oek.." Yang keluar hanya cairan putih saja.
"Aku benar-benar lelah...aku ingin tidur." Sekali lagi aku mencoba masuk ke dalam kamar.
Walaupun masih mual dan lemas, aku menguatkan diriku untuk naik ke atas ranjang. Karena percuma saja, setiap kali aku muntah yang keluar hanya cairan putih saja dan setiap kali memuntahkannya tenagaku seolah tersedot keluar. Membuatku semakin lemas dan tidak bertenaga.
"Dion..kenapa aku mencium wangi Dion di sini?" Ketika kepalaku menyentuh bantal, aku tiba-tiba mencium wangi Dion yang sudah tidak asing lagi untukku.
"Apa Dion tadi masuk ke dalam kamarku? Tidak mungkin! Dion masih liburan di daerah T jadi dia tidak akan pulang sampai beberapa hari ke depan. Kalaupun dia di sini Dion tidak akan pernah masuk ke dalam kamarku, apalagi sampai tidur di atas ranjang ku. Itu.. sangat mustahil.."
Itu mustahil tapi aku menikmati wangi ini. Wangi Dion yang perlahan mulai mengiringi tidurku dan entah kenapa perutku tidak lagi membuat ulah. Rasanya tidak semenjengkelkan tadi sehingga aku bisa tidur dengan tenang.
"Dion.."
__ADS_1
Bersambung...