Dear Dion

Dear Dion
44. Terlalu Sempurna


__ADS_3

Mereka berdua terjebak dalam pikiran masing-masing, di kamar ini tidak ada suara apapun kecuali suara mulut Sina yang terus saja mengunyah setiap potongan buah yang masuk ke dalam mulutnya. Entah itu asam atau manis, Sina sangat menyukai dua rasa ini apalagi jika dicampurkan. Perutnya yang terasa tidak nyaman tadi akhirnya bisa menjadi lebih nyaman dan lega pada saat yang bersamaan. Tidak ada lagi mual ataupun kejadian energinya yang menurun tiba-tiba karena buah-buahan ini sangat segar dan harum tanpa minyak, membuat perutnya terus meminta lagi dan lagi untuk melahapnya secara terus-menerus.


"Makan juga kuenya agar perutmu punya korbohidrat untuk diproses." Calista menggeser piring yang dipenuhi kue-kue itu ke depan Sina seraya menyingkirkan piring buah-buahan dari hadapan Sina.


"Kuenya bisa aku makan terakhir." Kata Sina santai seraya mengambil kembali piring buah-buahan yang sempat Calista singkirkan.


Melihat ini Calista tidak tahu harus tertawa atau menangis karena asam lambung Sina sedang kumat dan tentu saja membutuhkan makanan yang mengenyangkan untuk dikonsumsi. Ini.. jika terus makan buah-buahan tidakkah perutnya semakin sakit?


"Asam lambung...kamu seharusnya tahu harus makan apa untuk mengobati sakitnya."


Sina menganggukkan kepalanya sok tahu.


"Kamu tidak perlu khawatir, sakit perutku sudah berkurang banyak jadi tidak akan terjadi apa-apa meskipun aku menghabiskan semua makanan ini." Ajaibnya dia langsung merasa baikan setelah makan buah-buahan ini.


Padahal seharusnya dia akan bertambah sakit perut jika makan buah-buahan terlalu banyak, tapi untungnya itu tidak terjadi dan malah menjadi lebih baik. Hah.. Sina tidak tahu jika asam lambung semudah ini mengobatinya.


Ragu, "Yah, kamu terlihat jauh lebih baik." Agak lebih baik tepatnya.


Tapi tidak apa-apa, pikir Calista. Karena jauh lebih baik daripada melihat Sina tertekan seperti tadi dan tidak mau menerima makanan apapun meskipun itu adalah makanan kesukaannya sendiri. Calista tidak menyangka jika asam lambung akan separah ini, untungnya dia tidak mempunyai riwayat penyakit asam lambung sehingga dia baik-baik saja makan makanan apapun selain yah.. tentunya racun.


"Tapi ngomong-ngomong Sina, tangan kiri mu memar pasti ada alasannya bukan? Kamu tidak bisa membohongi ku dengan membuat alasan jika kamu terpeleset atau terjatuh karena siapapun pasti tahu memar ini disebabkan karena cengkeraman tangan yang kuat." Calista mengamati memar di tangan Sina yang mulai membaik.


Obat yang diberikan Dion ternyata sangat ampuh untuk mengobatinya.


Sina menghentikan gerakan mengunyahnya, menundukkan kepalanya menatap pergelangan tangan kiri yang sudah agak mendingan dari sebelumnya. Ah, dia tidak bisa menahan senyuman mirisnya ketika mengingat betapa marahnya Dion.


"Aku membuat Dion marah tadi siang, masuk ke dalam kamarnya dan membuat dokumen-dokumen penting perusahaan jatuh tercampur aduk di lantai. Aku sangat ceroboh sehingga tanpa sadar mengacaukan privasinya jadi dia marah dan tidak sengaja menarik tanganku menjauh dari dokumen-dokumen penting itu. Dia sebenarnya tidak menggunakan kekuatan yang besar saat menarik ku, yakinlah, ini karena tanganku saja yang lemah sehingga mudah terluka seperti ini." Cerita Sina sebagian besar berbohong.


Pertama, dia sengaja melupakan kejadian cincin berlian itu dengan memanipulasi sebagian besar kemarahan Dion adalah karena kecerobohannya menjatuhkan dokumen-dokumen penting perusahaan. Kedua, Sina tidak mengatakan dengan jujur bahwa kekuatan yang Dion gunakan saat menariknya begitu kasar dan kuat sehingga menyebabkan pergelangan tangan kirinya menjadi memar.


Mendengar cerita Sina, dia akhirnya mengerti kenapa Dion datang tadi dan mengoleskan salep di tangan Sina. Ternyata ini penjelasannya, Dion pasti merasa bersalah karena sudah melukai Sina. Yah, wajar saja Dion marah karena Calista sangat mengenal betul jika sepupunya ini sangat gila kerja. Dia menghabiskan waktu bertahun-tahun pergi ke luar negeri untuk menuntut ilmu dan setelah pulang ke Indonesia langsung terjun ke dunia bisnis tanpa istirahat sedikit pun.


Jadi, melihat dokumen-dokumen yang Sina kacaukan dia pasti sangat marah. Namun, Dion walaupun marah punya sisi lembut juga. Buktinya, dia datang untuk mengobati luka memar Sina secara diam-diam yang menunjukkan bahwa dia merasa bersalah karena sudah menyakiti Sina.


Kecurigaan Calista terhadap Dion sekarang sudah ditekan sehingga dia tidak lagi berpikir jika Dion yang sudah mengganggu tidur Sina.


"Obat yang kamu berikan sangat bagus, luka memar ku menjadi lebih baik dari sebelumnya." Ujar Sina seraya memperhatikan luka memarnya yang jauh lebih ringan warnanya.


"Kamu sangat baik Calista, aku sangat berterima kasih untuk obatnya." Ucap Sina tulus.

__ADS_1


Calista merasa tidak nyaman, "Sebenarnya..kamu tahu..obat ini dari seseorang jadi kamu seharusnya berterima kasih kepadanya..." Lebih tepatnya ini adalah bentuk permintaan maaf dari Dion untuk kamu, Sina.


Namun, dia hanya bisa mengatakannya dari dalam hati. Dia tidak berani mengatakan jika Dion yang memberikan obat ini bahkan sampai turun tangan mengobati lukanya karena Dion melakukan semua ini secara rahasia jadi Calista simpulkan Dion tidak ingin Sina tahu tentang kebenaran ini.


"Dan masalah Kak Dion...dia tidak bermaksud sungguh-sungguh memarahi mu..yah, itu karena aku sangat mengenalnya." Lanjut Calista menghibur hati Sina.


"Seseorang, siapa yang kamu maksud?" Sina terkejut ini bukan pemberian Calista.


Calista tersenyum simpul, menggigit kue manis yang ada di depannya. Dia lalu mengatakan, "Suatu hari nanti kamu akan tahu..jadi percuma kamu bertanya kepada ku."


Sina memutar bola matanya malas, karena ini dirahasiakan dia tidak bisa mengatakan apa-apa sampai orang itu sendiri yang mengatakannya. Sudahlah, dia tidak perlu bersusah payah memikirkannya karena pelakunya pasti orang-orang yang ada di sekitarnya.


...🌺🌺🌺...


Paginya, Sina dan Calista bangun seperti biasannya. Mereka berkeliling taman untuk olahraga singkat selama setengah jam dan kemudian langsung kembali ke rumah untuk sarapan pagi.


Saat memasuki ruang makan mereka langsung disambut oleh berbagai macam masakan ringan yang sangat pas untuk sarapan. Tampilan mereka di atas meja makan begitu lezat dan membuat perut orang-orang menjadi keroncongan. Namun, Sina tidak terpengaruh dengan tampilan ini karena dia pikir makanan ini punya bau yang aneh dan membuat perutnya terasa tidak nyaman.


"Wah, sarapan pagi ini sepertinya agak berbeda dari sarapan pagi sebelum-sebelumnya." Calista segera berlari kecil di kursi yang dia tempati semalam dan dengan alami mendudukkannya.


Sina juga tidak bertindak impulsif seperti semalam, dia dengan enggan duduk di samping Calista karena kursi yang diberikan Dion lagi-lagi diduduki oleh Bela.


"Tentu saja berbeda karena semua sarapan yang ada di atas meja ini dibuat langsung oleh Bela. Dia sengaja bangun pagi-pagi sekali untuk membuatkan semua orang sarapan." Nyonya Ranti menjelaskan dengan bangga akan kelebihan calon menantunya.


"Tante jangan melebih-lebihkan, aku hanya iseng saja masuk ke dalam dapur karena tidak punya kegiatan lain." Bela tersenyum malu menghadapi pujian Nyonya Ranti.


Pipinya yang putih mulus kini bersemu merah tersipu malu. Menambahkan pewarna pipi alami di wajah cantiknya yang membuat banyak wanita cemburu. Kecantikan ini seharusnya tidak mudah digambarkan dengan kata-kata, ah!


"Dia bohong Tante, semalam dia bilang akan membuatkan semua orang sarapan jadi dia secara khusus mengatur alarm agar bangun di jam 05.00 shubuh." Kira membocorkan rahasia Bela sekaligus ingin membuat semua orang mengingat Bela sebagai gadis yang sopan dan perhatian.


"Kira...jangan katakan itu.." Bela berseru panik, wajahnya semakin merah karena malu.


Mendengar tekat calon menantunya, tentu saja Nyonya Ranti menjadi sangat bahagia. Dia bangga dengan sikap Bela yang sopan dan perhatian kepada semua orang, apalagi pendidikannya juga tinggi sehingga menambah nilainya di mata Nyonya Ranti.


"Jangan malu Bela, Tante senang kok dengan ketulusan hati kamu. Lagipula masakan kamu enak sehingga kamu seharusnya tidak perlu malu."


Bela menganggukkan kepalanya patuh, "Terimakasih Tante, Bela senang Tante menyukainya." Bisik Bela tersipu seraya memain-mainkan bubur yang ada di depannya.


Mata persiknya yang cantik melirik diam-diam Dion yang sedang serius memakan bubur hangat yang dia buat. Meskipun Dion tidak mengatakan apa-apa seperti Nyonya Ranti, tapi Bela tetap puas melihat Dion memakan makanan buatannya dengan lahap.

__ADS_1


Ketika mereka sibuk memuji masakan Bela, Sina justru tidak ingin menyentuhnya karena dia tidak menyukai bau masakan yang ada di atas meja. Dia lebih memilih mengambil roti tawar tanpa selai dan memotong kecil-kecil buah kiwi sebagai perasanya.


Buah kiwi memang asam tapi ini jauh lebih nyaman masuk ke dalam perutnya dan perutnya tidak melakukan penolakan seperti makanan yang lain.


"Ei, Sina tidak suka masakan Bela, yah?" Tanya Kira dengan suara yang tidak terlalu keras tapi tetap menarik perhatian semua orang.


Gerakan tangan Sina memotong buah kiwi membeku, dengan kaku dia mengangkat kepalanya menatap orang-orang yang kini sedang memperhatikannya.


"Aku.. sedang tidak berselera makan makanan berat." Jujur Sina tidak berbohong.


Kira mencibir tindakannya, "Oh, aku pikir alasannya tidak akan sesederhana itu." Ucapnya memberikan semua orang petunjuk bahwa ada implikasi tertentu yang membuat Sina tidak memakan masakan Bela.


Yah, alasan apalagi kalau bukan Sina tidak menyukai orang yang memasak makanan ini, Sina tidak menyukai Bela!


Sina sangat malu, meskipun dia tidak terlalu menyukai Bela tapi itu sungguh bukan alasan utamanya dia tidak makan masakan Bela. Perutnya bermasalah lagi dan menolak semua makanan yang masuk kecuali buah-buahan atau makanan yang tidak berbau seperti roti ini.


"Sina tidak sehat sejak kemarin sehingga nafsu makannya berkurang. Kak Kira seharusnya bisa menebaknya saat melihat Sina semalam tidak menyentuh makanan apapun yang ada di atas meja sebelum pergi ke kamar untuk beristirahat." Calista mengangkat suaranya, menatap datar Kira yang kini melemparkannya sebuah tatapan kebencian.


Calista mungkin kalah dalam urusan percintaan, namun diluar itu dia tidak bisa diremehkan semudah itu.


Merasa kesal, "Kamu-"


"Makan sarapan mu sebelum dingin." Potong Ridwan datar, tidak memberikan Kira ruang untuk membantahnya.


Kira melihat ekspresi terganggu Ridwan dan dengan patuh mulai memakan sarapannya. Dia tidak bisa mengatakan apa-apa saat ini sehingga kebencian dihatinya semakin dalam kepada Calista.


Setelah itu meja makan tidak lagi membahas topik ini. Nyonya Ranti bahkan tidak mengatakan apa-apa ataupun membela Sina, dia memilih diam dan mulai memakan sarapannya sendiri seraya sesekali memberikan perhatian kepada Bela.


Diam menundukkan kepalanya, Sina memaksakan dirinya untuk mengunyah roti tawar itu sedikit demi sedikit seraya mencoba mengabaikan tatapan tidak bersahabat dari beberapa pasang mata.


"Jangan dipikirkan, makanlah sarapan mu sesantai mungkin. Ingat, perutmu sedang bermasalah sehingga tidak baik membiarkannya kosong." Bisik Calista pada Sina.


Dia kasihan melihat Sina yang tertekan seperti ini. Lihat saja warna wajahnya yang pucat dan menyendu, sekali lihat saja orang-orang akan tahu jika Sina saat in sedang bersedih.


"Kamu tidak perlu khawatir, aku tidak akan membiarkan perutku menjadi kosong lagi." Balas Sina berbisik namun tetap menunduk dan tidak bergerak.


Dia sedang menyembunyikan kekecewaannya, dia kecewa karena Nyonya Ranti tidak mengatakan apa-apa untuk membelanya dan bahkan dia sangat kecewa karena Dion juga tidak mengatakan apa-apa. Hanya Calista, hanya dia seorang yang melindunginya di sini.


Sina kecewa dan perutnya semakin bergejolak tidak nyaman.

__ADS_1


Mungkinkah aku terlalu percaya diri selama ini?. Batinnya berbisik kecewa.


Bersambung...


__ADS_2