
Langit mulai menurunkan berkahnya, menemani kesepian Sina menempuh perjalanan pulang selama di dalam bus. 2 jam yang lalu dia berangkat dari tempat acara kemah bersama beberapa orang yang kebetulan sudah menyelesaikan acara liburannya. Saat itu masih jam 7 pagi dan keluarga Dion masih menghangatkan diri di dalam tenda sehingga Sina tidak sempat mengucapkan pamit kepada mereka. Dia juga sadar diri jika masalah semalam terjadi karena dirinya sendiri dan pasti sudah sampai ke telinga semua orang, oleh karena itu dia agak malu menyapa mereka. Biarlah Tuan Edward yang menyampaikan kepada semua orang bahwa dia undur diri lebih dahulu karena alasan tertentu.
Mengenai Calista, dia tidak tahu bagaimana kabarnya sampai sekarang karena sejak dia dibawa pergi oleh Ridwan, Calista tidak pernah kembali ke tenda. Sina tidak khawatir karena dia punya firasat jika Ridwan sebenarnya menyukai Calista. Oh.. ayolah, jika Ridwan tidak menyukai Calista maka kenapa beberapa hari ini dia selalu mencoba mendekati Calista?
Tentu saja karena Ridwan menyukai Calista, huh!
"Dingin, perutku juga rasanya sedikit aneh." Dia meraba perutnya dan mengelusnya dengan lembut.
"Akhir-akhir ini nafsu makan ku turun dan aku juga tidak senang mencium bau makanan yang berminyak. Terkadang setiap kali aku memaksakan diri untuk makan, makanan itu tidak bisa masuk ke dalam perutku dan selalu ada penolakan dari dalam. Aku ingin memuntahkannya kembali karena penolakan kuat dari dalam perutku. Gejala ini belum tentu penyakit asam lambung...aku yakin."
Tidak mungkin dia mengidap asam lambung kronis karena dia yakin sejak kecil tidak pernah mendapatkan riwayat penyakit ini, jadi bagaimana mungkin dia tiba-tiba mendapatkan penyakit asam lambung yang sudah kronis?
Ini mustahil!
"Namun.. jika gejala yang aku rasakan ini karena malam itu.." Tiba-tiba bayangan malam itu berkelebat di dalam kepalanya.
Malam penuh gairah yang dia lalui bersama Dion meninggalkan ingatan manis juga luka untuk Sina. Karena kesalahpahaman saat itu dia hampir saja meyakini jika Dion juga mencintainya. Padahal Dion melakukan itu dalam keadaan mabuk jadi mana mungkin Dion mengingatnya.
"Tidak..tidak..tidak!" Mengenyahkan pikiran gilanya.
"Aku tidak mungkin hamil karena kami melakukan itu hanya sekali saja. Lagipula saat itu adalah untuk pertama kalinya dalam hidup ku jadi kecil kemungkinan aku akan langsung hamil. Yah.. meskipun aku masih belum datang bulan untuk bulan ini tapi bukan berarti aku sedang..hamil. Telat dari tanggal biasanya sangat wajar untuk perempuan apalagi.. akhir-akhir ini aku tidak sehat."
Hamil?
Sina tidak berani memikirkan kesimpulan itu karena ini bukan hanya menyangkut tentang kehidupan dirinya sendiri akan tetapi juga menyangkut kehidupan Dion. Dia tidak berani memikirkan angan-angan tidak mendasar ini karena takut dibuai harapan palsu lagi.
Yah, hamil berarti dia punya kesempatan untuk bersama dengan Dion terlepas Dion mencintainya atau tidak. Karena ada darah Dion yang mengalir di dalam tubuhnya sehingga Dion tidak bisa menolak keberadaan darah daging itu.
Tapi..ini hanya harapan semu saja karena faktanya dia tidak mungkin hamil. Hei, mereka melakukannya hanya sekali sedangkan Dion dan Bela mungkin sudah melakukan malam intim itu berkali-kali.
"Mereka sangat dekat...jadi tidak menutup kemungkinan jika malam intim itu sudah berkali-kali mereka lakukan." Gumam Sina merasa sedih.
__ADS_1
Padahal dia sudah berjanji akan melupakan Dion tapi hatinya tampak selalu mengingkari janji itu. Semakin dia memikirkan Dion semakin sakit pula hatinya dan rasa sakit itu tidak bisa membuat hatinya kapok untuk berhenti mencintai Dion.
Hei, cinta adalah penyakit yang paling berbahaya di dunia ini. Sekali terinfeksi, entah itu senang atau sedih sangat sulit bagi orang itu untuk melepaskan diri.
...🌺🌺🌺...
Sina kembali ke rumah Dion satu jam kemudian dan langsung masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat. Dia merasa sangat lelah setelah menempuh perjalanan yang jauh dan menolak untuk makan siang. Kelelahan ini tidak bisa dia tanggung lagi sehingga dia tidak punya cara lain selain menjatuhkan dirinya ke dalam buaian mimpi. Tenggelam ke dalam dunia fantasi yang tidak berujung sampai akhirnya dia dibawa kembali pada hari dimana dia bertemu dengan seorang anak laki-laki.
Anak laki-laki yang dia selamatkan 15 tahun yang lalu kini sedang berdiri menatapnya dengan pandangan bingung. Tidak seperti sebelumnya, anak laki-laki itu kali ini terlihat agak jelas wajahnya. Sebuah wajah tampan dengan fitur kekanak-kanakan sedang menatapnya tajam dengan kedua matanya yang hitam pekat dan alis yang bergaris tajam.
Wajah ini tampak begitu familiar bahkan sangat sulit dilupakan meskipun di dalam mimpi sekalipun. Sina tertegun, kedua kakinya tidak bisa bergerak seolah ada magnet kuat yang sedang menahannya di bawah. Hanya tangannya...terasa berat tapi masih bisa digerakkan. Dia mengangkat tangannya mencoba meraih anak laki-laki itu..tapi anehnya, semakin jauh tangannya terentang maka semakin jauh pula anak laki-laki itu darinya.
Sina bingung bagaimana cara meraih anak laki-laki itu karena jarak mereka semakin bergerak jauh memperluas jarak diantara mereka berdua. Sina panik karena tidak bisa menggapai anak laki-laki itu dan tiba-tiba hatinya menjadi sesak... rasanya begitu perih dan tidak nyaman, Sina benci perasaan ini.
"Dion..jangan pergi..hiks.." Teriaknya terisak.
...🌺🌺🌺...
Saat ini Dion sedang duduk di salah satu bangku santai untuk beristirahat bersama Bela dan Risa setelah melakukan olahraga pagi. Duduk di sana tiba-tiba Nyonya Xia dan suaminya menghampiri mereka. Memberikan mereka air minum dan beberapa roti sebagai sarapan singkat sebagai bentuk sapaan yang ramah.
Dion baru saja membuka tutup botolnya ingin segera minum akan tetapi gerakan tangannya terhenti ketika mendengar kata-kata yang Nyonya Xia ucapkan tadi.
"Maaf, aku tidak mengerti apa yang Nyonya maksud. Harapan apa.. bisakah Nyonya menjelaskannya?" Tanya Dion sopan terlepas dari konflik yang terjadi semalam.
Nyonya Xia tertawa kecil, tangannya yang ramping bergelayut manja di lengan kekar suaminya. Dia pikir Dion sangat suka bercanda untuk mencairkan suasana diantara mereka karena konflik panas semalam.
"Tuan muda, aku dengar gadis yang sudah mengganggu putriku semalam sudah Anda pulangkan pagi ini. Tuan muda pasti sudah memikirkannya jika kerjasama perusahaan kita jauh lebih penting daripada tamu tidak penting itu-"
"Siapa yang mengatakan itu?" Potong Dion dingin.
Dia menatap lurus ke arah Nyonya Xia dan suaminya dengan pandangan tidak bersahabat persis seperti yang Nyonya Xia lihat semalam. Ini adalah tatapan permusuhan, pikir Nyonya Xia panik.
__ADS_1
Nyonya Xia agak takut dan tanpa sadar mencari perlindungan di lengan suaminya.
"Tadi pagi..Bela menghubungi kami dan mengatakan jika gadis itu sudah Tuan muda pulangkan." Jawab Nyonya Xia tidak punya cara lain.
"Bela?" Dion langsung melirik Bela yang kini juga sedang menatapnya panik.
"Tunggu..aku tidak tahu sama sekali tentang kepergian Sina karena yang menyuruhku menghubungi Bibi Xia dan Pamanku adalah Om Edward. Dia melakukan ini agar kerja keras mu selama ini tidak sia-sia... karena itulah.. karena itulah-"
"Nyonya Xia dan Tuan Shu, aku pikir kalian telah salah paham terhadap masalah ini oleh karena itu aku akan mengatakannya sekali lagi dan aku harap kalian bisa mendengarnya secara jelas." Berdiri dari duduknya, dia mengabaikan ekspresi pucat Bela yang sedang dilanda kepanikan.
"Aku akan membatalkan kontrak kerjasama kedua perusahaan kita karena aku tidak bisa menjalin kerjasama dengan perusahaan yang tidak menjaga keprofesiannya. Nyonya Xia dan Tuan Shu harus ingat jika urusan perusahaan tidak bisa dikaitkan dengan kenakalan anak kalian, apalagi sampai menggunakan kekuasaan untuk mengancam seseorang...itu sungguh kekanakan." Lanjut Dion teguh.
"Tuan muda, pikirkanlah baik-baik tentang kerjasama ini karena perusahaan yang akan paling rugi jika kontrak ini dibatalkan adalah perusahaan Anda sendiri, Tuan muda." Tuan Shu segera menarik istrinya ke belakang.
Mencoba mengingatkan kembali Dion dampak apa yang akan dia dapatkan jika sampai membatalkan kontrak kerjasama mereka.
Dion tersenyum tidak perduli, "Untung dan rugi bisa dikejar kembali tapi tidak dengan moralitas, Tuan Shu. Aku harap dimasa depan nanti kalian lebih profesional lagi dalam pekerjaan, memisahkan urusan pribadi dan pekerjaan adalah satu-satunya jalan yang bisa menyelamatkan masa depan perusahaan kalian. Tuan Shu dan Nyonya Xia, maaf aku tidak bisa berlama-lama lagi menemani kalian. Selamat pagi."
"Tuan muda tunggu..kita butuh bicara.. Tuan muda!" Panggil Tuan Shu panik.
Dion pura-pura tidak mendengar panggilan Tuan Shu atau lebih tepatnya sengaja mengabaikan Tuan Shu. Dia memantapkan langkahnya berjalan meninggalkan Tuan Shu yang masih panik.
"Aku pikir kalian butuh bicara, jadi aku akan lebih dulu mengejar Kak Dion." Kata Risa setelah sekian lama terdiam mengamati pertunjukan gratis yang disuguhkan Bela.
"Hem.. kejarlah dia dan katakan kepadanya permintaan maaf keluarga ku. Masalah ini...Paman dan Bibi ku akan segera menghubungi dia."
"Tentu, Kak Bela tidak perlu khawatir." Jawab Risa agak perihatin.
Setelah mendapatkan anggukan ringan dari Bela, dia lalu membawa langkah kakinya mengikuti jejak Dion yang masih belum menghilang dari pandangannya. Wajah cantiknya yang tadi terlihat perihatin kini telah berubah menjadi riang sarat akan kebahagiaan. Bahkan langkah kakinya dibuat agak ber'irama ketika mendengar pertengkaran penuh kepanikan dari Nyonya Xia dan suaminya. Saling menyalahkan sampai-sampai memarahi Bela sebagai peran utama terjadinya rencana itu.
"Yo...citra Bela dan keluarganya sekarang sudah hancur di depan Kak Dion. Aku penasaran, langkah apa yang selanjutnya Bela rencanakan untuk membalas dendam kepada Sina. Hahaha... mereka benar-benar bergerak saling membunuh satu sama lain tanpa harus ku turun tangan. Yah..saling membencilah sampai tidak ada lagi yang berhak berdiri di samping Kak Dion kecuali aku karena hanya akulah yang pantas hidup bersamanya."
__ADS_1
Bersambung...