Dear Dion

Dear Dion
94. Dia Satu-Satunya Alasan Ku


__ADS_3

"Siapa?" Pemilik suara dingin itu menatap tajam gadis tanpa busana yang sedang berbaring di atas ranjangnya.


"Oh Dion, kamu sudah pulang." Gadis itu bangun dan berjalan mendekati Dion, tampak menggoda dan menggairahkan.


Tidak malu menampilkan seluruh bagian tubuhnya yang tidak tertutupi kain.


"Siapa?" Dion membuang muka, sama sekali tidak tertarik dengan kue lezat yang disajikan.


"Namaku Viola, Ayahku bilang beberapa hari ini suasana hati mu sedang bermasalah jadi dia mengutusku-"


"Siapa?" Dion masih menanyakan hal yang sama.


Melangkah mundur tanpa memberikan wajah kepada gadis menggoda itu.


Viola tidak terlalu memikirkan sikap dingin Dion karena sikap ini pasti akan berubah setelah mereka bermain di atas ranjang nanti. Jadi, bibir merahnya tidak malu-malu membentuk sebuah senyuman menggoda.


"Ayahku adalah Jason, dia teman Ayahmu-"


Brak


Dion menendang pintu kuat membuat Viola berjenggit kaget.


Dion seolah tuli dengan ketakutan Viola. Dia tanpa menoleh ke belakang membuka pintu kamar hotelnya, mempersilakan Viola keluar tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Kenapa..kenapa kamu membuka pintu?" Viola panik dan bergegas mendekati Dion.


Dia ingin memeluk Dion berlindung dari orang-orang yang tidak sengaja melihatnya diluar. Namun Dion tidak menyambut baik kedatangan Viola dan langsung menamparnya kasar hingga terjungkal ke lantai.


Plak


"Menjauh dariku, sialan!" Umpat Dion kasar, memandang rendah Viola yang masih belum sadar dari keterkejutannya.


Dia tidak pernah menyangka akan dihadiahi sebuah tamparan keras dari Dion sendiri. Bagaimana mungkin Dion memperlakukannya kasar!


"Kenapa kamu menamparku, Dion!" Teriak Viola marah.


"Masih bertanya?" Tanya Dion dingin, kali ini dia secara terang-terangan memandang rendah Viola yang masih shock.


"Aku adalah putri Jason-"


"Apa aku tampak perduli?" Gadis ini semakin memperburuk suasana hatinya.


Viola tersedak, menatap marah wajah tampan Dion yang sedang menatapnya tajam. Dia sangat marah tapi juga takut melihat wajah tanpa ekspresi Dion.


"Kamu tidak bisa melakukan ini kepada ku, Dion!"


"Keluar." Dion mulai kehabisan sabar.


Dia menendang sisi pintu untuk menunjukkan arah jalan keluar kepada Viola.


"Apa kau gila? Aku sedang telanjang jadi bagaimana bisa aku keluar?" Viola benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikirannya.


"Masuk tanpa seizin ku dan berbaring tanpa menggunakan busana, apa kamu pikir otak sialan mu masih normal?" Tanya Dion kasar.


Viola tercengang, tidak bisa mengatakan apa-apa untuk mengelak.


"Keluar." Dion sekali lagi menendang sisi pintu.


"Aku tidak mau!" Viola naik kembali ke atas ranjang, membuka lebar kakinya untuk menggoda Dion.


Namun sayangnya Dion tidak meliriknya sama sekali, dia hanya bersandar di sisi pintu hotel sambil mengetuk sisi pintu dengan kakinya.


"Aku akan menyeret mu keluar jika kamu masih tidak mau mendengar."


Viola tersenyum miring, tangan kanannya menyentuh dada kiri. Meremat nya sensual seraya mengeluarkan lenguhan seksi untuk menarik perhatian Dion.


"Aku bisa berteriak meminta pertolongan dari orang-orang diluar agar semua orang tahu bahwa pengusaha muda kebanggaan mereka tidak terhormat seperti yang mereka pikirkan. Lalu besok surat kabar tentang Tuan muda kaya raya yang telah memperkosa putri dari perusahaan X akan ramai dibicarakan. Dengan begini kamu dan aku akan terjebak selamanya dalam status pernikahan. Bagaimana Dion? Bukankah ini sangat menarik?" Ucapnya diakhiri senyuman licik.


"Kamu ternyata sangat meremehkan ku." Dion berhenti mengetuk pintu.


Dia kini beralih menatap Viola, berjalan mendekatinya dengan langkah lurus. "Apa aku terlihat mudah dibodohi?


Melihat kedatangan Dion dia tersenyum puas karena umpan yang ia lempar akhirnya diterima Dion juga. Dengan begini dia dan Dion-


"Argh.." Viola memegang kepalanya kesakitan.

__ADS_1


Rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai ditarik kasar Dion secara paksa. Dia menarik rambut Viola dan menyeretnya turun dari ranjang, lalu melemparkannya keluar dari kamar hotel. Orang-orang yang kebetulan sedang lewat tidak bisa menahan suara histeris mereka melihat seorang gadis cantik tanpa busana dilempar keluar dari dalam kamar hotel oleh seorang laki-laki tampan.


"Kamu pikir aku bisa dibodohi oleh trik sampah mu itu? Kamu terlalu meremehkan Tuan muda ini!"


"Lihat," Dion lalu mengangkat tangannya menunjuk setiap sudut kamar yang terpencil dan tidak terlalu mencolok. Di tempat-tempat itu ada sebuah titik hitam yang lebih mirip noda tembok dibandingkan sebuah kamera pengintai.


"Pengawal pribadi ku sudah memasang kamera di setiap sudut kamar ini. Jadi kamu tidak akan bisa melakukan kejahatan itu kepadaku. Hem, tapi kasus ini berbeda dengan ku. Jika aku mau masalah ini bisa dibawa ke jalur hukum karena kamu telah masuk ke kamarku tanpa izin dan berniat melakukan pelecehan seksual kepadaku. Semua bukti yang polisi butuhkan sudah tersedia di atas meja kerja ku, bagaimana? Bukankah ini sangat menarik?" Balas Dion diakhiri senyuman dingin.


"Pelecehan seksual?" Orang-orang yang sedari tadi menonton pertunjukan saling berbisik-bisik.


Banyak pasang mata yang merendahkan Viola dan ada beberapa pasang mata yang menatapnya penuh gairah.


Ini adalah sebuah penghinaan kejam untuk Viola. Sebelumnya tidak ada satupun laki-laki yang menolak godaannya tapi Dion!


Laki-laki dingin yang sudah lama dia dambakan ini menolak mentah-mentah dirinya bahkan di saat dia sudah menyiapkan hidangan yang lezat. Viola patah hati juga kecewa karena penolakan langsung Dion.


"Dion biarkan aku masuk-"


"Enyah, jangan pernah perlihatkan wajahmu lagi di depan ku. Katakan juga kepada Ayah mu bahwa aku tidak akan menjalin kerja sama dengan perusahaannya."


Bam


Dion langsung menutup pintu tanpa menunggu respon Viola. Hatinya yang sudah beberapa hari terperangkap dalam suasana buruk kian memburuk saat bertemu Viola. Bahkan dia sama sekali tidak sudi tinggal di kamar yang sudah ditinggali oleh Viola, meskipun tidak sampai beberapa jam tapi itu tetap saja membuatnya mual.


"Dasar wanita sialan." Umpat Dion kesal setelah menghubungi staf hotel untuk meminta kamar baru.


Sembari menunggu layanan hotel, Dion sekali lagi menghubungi Sina tapi lagi-lagi orang yang menjawab telponnya adalah suara operator.


Dion cemas bercampur kesal karena Sina masih belum bisa dia hubungi. Setiap kali di SMS Dion tidak pernah mendapatkan balasan dan setiap kali ditelpon orang yang menjawab adalah operator.


"Sina apa yang kamu lakukan sekarang? Tidak tahukah kamu betapa cemasnya aku sekarang di sini?" Dion mengusap wajahnya kasar, melampiaskan perasaan gelisah yang sudah beberapa hari menyiksanya.


Lama terdiam, dia tiba-tiba mengotak atik ponselnya untuk menelpon seseorang.


"Apa yang sedang Sina lakukan di paviliun dingin beberapa hari ini?" Tanya Dion langsung setelah orang itu mengangkat telponnya.


"Tuan muda.." Orang yang ada di seberang sana tampak ragu menjawab.


Dari suara gugupnya Dion tahu bahwa telah terjadi sesuatu tanpa sepengetahuannya.


Dion tidak bisa memikirkan kemungkinan lain selain ini. Sina sedang mengandung dan dalam keadaan yang paling rapuh, tanpanya Sina pasti sangat ketakutan.


"Tuan muda.." Suara Bik Mur serak.


"Non Sina sudah keluar dari rumah ini.." Lanjutnya membuat Dion langsung membeku di tempat.


"Apa.. pendengaran ku sepertinya bermasalah. Coba ulangi apa yang kamu katakan tadi." Dion menepis pikiran gilanya dan mulai meragukan pendengarannya.


"Itu benar Tuan muda, non Sina sudah keluar dari rumah ini." Bik Mur mengulangi kata-katanya lagi.


Kali ini perasaan dingin itu benar-benar nyata. Menusuk tepat ditengah-tengah jantungnya yang mulai berdenyut sakit. Tangan Dion menggenggam ponselnya kuat, mengepalkan tangan untuk menahan amarah yang segera meluap.


"Sejak kapan dia pergi?"


"Satu jam setelah Tuan muda berangkat non Sina sudah keluar dari paviliun dingin. Nyonya besar bahkan tidak mengatakan apa-apa ketika non Sina pergi dan melarang kami semua membantunya berkemas. Tuan.. saya tidak bisa melawan perintah Nyonya besar-"


"Aku mengerti, kamu tidak perlu menjelaskan."


Dion melonggarkan dasinya, berjalan menuju lemari pakaian dan mengeluarkan semua pakaiannya. Memasukkan semua pakaian itu ke dalam koper tanpa perlu melipatnya terlebih dahulu.


"Apa kamu tahu kemana Sina pergi?"


"Saya tidak tahu, Tuan muda. Kami tidak diizinkan bertemu dengan non Sina jadi saya tidak tahu kemana dia pergi. Mungkin non Sina pulang kembali ke rumahnya, Tuan."


Sina tidak akan pernah pulang ke rumahnya dalam keadaan hamil diluar nikah.


"Baiklah, kamu bisa beristirahat."


Dion mematikan sambungan. Menatap kosong ponsel yang masih dia genggam erat. Diam, dia mulai mengerti mengapa sikap Sina tiba-tiba menjadi aneh malam itu dan dia juga mengerti mengapa Sina tiba-tiba tidak bisa dihubungi.


"Kalian semua ternyata masih memandangku seperti anak sekolah dasar yang tidak bisa berbuat apa-apa hahah.." Dion tertawa dingin, mengangkat tangan yang menggenggam ponsel tinggi-tinggi.


"Tapi sayangnya kalian salah karena nyatanya aku tidak sebodoh itu."


"Aku tidak sebodoh yang kalian semua pikirkan!"

__ADS_1


Brak


Dion melemparkan ponselnya ke lantai, menendang meja dan kursi yang ada di dekatnya dengan marah. Kemarahannya juga dia lampiaskan pada barang-barang hotel yang lain, melemparkan barang-barang itu ke lantai atau ke tembok tanpa khawatir mendapatkan masalah.


"Kalian semua benar-benar ingin membuatku marah!"


"15 tahun..15 tahun aku berjuang sendiri di negara asing kalian pikir aku melakukannya karena siapa?"


"Kalian pikir aku melakukannya karena siapa!!" Teriak Dion murka, menendang apapun yang ada di depannya sekuat tenaga.


Dia menghancurkan semua barang-barang hotel yang ada di dalam kamarnya untuk melampiaskan marah. Kamar hotel yang semula rapi dan berkesan mewah kini telah berubah total menjadi tempat yang lebih pantas di sebut tempat sampah, setidaknya untuk Dion.


"Baiklah, ini yang kalian mau maka aku tidak akan menahan diri lagi."


Dion menarik kopernya keluar dari kamar hotel, ketika membuka pintu dia berpapasan dengan staf hotel yang ingin mengatakan sesuatu namun ragu saat melihat kondisi kamar hotel yang berantakan.


"Tuan..kamar Anda.."


"Kirim tagihan ke perusahaan ku." Dion melemparkan sebuah kartu nama dan pergi tanpa menunggu respon dari staf hotel.


Dion sama sekali tidak tahu ekspresi bodoh staf hotel itu saat melihat kartu nama yang dia lemparkan tadi.


"Ya Tuhan, semoga aku tidak membuatnya tersinggung."


...🌼🌼🌼...


"Tuna muda, Anda pu-"


"Dimana Mama?"


"Nyonya besar ada di ruang keluarga, Tuan."


Setelah mendengar jawaban pelayan Dion langsung berjalan menuju ruang keluarga, masuk tanpa memberikan salam terlebih dahulu sehingga orang-orang yang ada di dalam kaget.


"Dion kamu pulang lebih cepat dari jadwal." Bela berdiri menyambut Dion tapi langsung dihentikan oleh tatapan tidak bersahabat Dion.


"Jangan terlalu bersikap akrab dengan ku." Peringat Dion dingin.


"Apa yang kamu katakan-"


"Kenapa Mama mengusir Sina dari rumah ini?" Tanya Dion langsung ke intinya.


Ditanya soal Sina, Nyonya Ranti tidak terlalu senang. Dia duduk kembali di tempatnya setelah meminta Bela duduk di sampingnya.


"Untuk apa kamu memikirkan gadis bodoh itu, lihat Bela..dia sangat mengkhawatirkan mu beberapa hari ini dan selalu menghabiskan waktu di dalam ruang kerja karena tidak ingin mengganggu waktu mu. Tapi berbeda dengan gadis bodoh itu-"


"Kenapa Sina keluar dari rumah ini!" Teriak Dion marah membuat semua orang terkejut.


"Dion, dia Mama kamu!" Tuan Edward marah melihat sikap kurang ajar Dion.


"Rasanya sakit'kan Pa melihat Mama diperlakukan salah. Ini juga untuk berlaku untuk aku, Pa! Aku sakit melihat orang yang aku cintai di usir dan tidak dihargai di rumah ini! Aku juga sakit, Pa!"


Nyonya Ranti tidak tahan lagi, dia berdiri dari duduknya dan menatap Dion tajam.


"Berhenti memikirkan gadis pembawa sial itu! Dia tidak pantas untuk kamu Dion! Dia hanya akan mempersulit karir kamu. Lihat Bela..dia mampu membantu kamu dan memenuhi semua yang kamu butuhkan jadi-"


"Oh, jadi bagi Mama dia adalah pembawa sial?" Hati Dion sangat sakit memikirkan satu-satunya alasan dia berjuang selama ini dianggap pembawa sial.


"Apalagi yang bisa dia lakukan selain memberikan kamu masalah."


Dion tertawa rendah, menatap Nyonya Ranti dengan tatapan rumit.


"Jadi menurut Mama hidup aku juga penuh kesialan?"


"Bagaimana mungkin? Bagi Mama kamu adalah keberuntungan." Jawab Nyonya Ranti merasa aneh.


"Ma, apa Mama tahu satu-satunya alasan aku bisa berdiri setinggi ini adalah Sina. Apa Mama tahu satu-satunya alasan aku menjadi kuat adalah Sina. Dan apa Mama tahu satu-satunya orang yang mengorbankan hidupnya untuk ku di dunia ini adalah Sina, Ma!"


Dia lalu menunjuk Bela yang tampak pucat pasi.


"Dia..dia tidak bisa melakukan itu tapi Sina bisa, Ma! Hanya Sina yang bisa melakukan itu untuk menyelamatkan hidupku!"


"Apa yang kamu maksud.. menyelamatkan hidup apa?"


"Apa Mama masih belum jelas juga? Orang yang menyelamatkan aku 15 tahun yang lalu adalah Sina, Ma!"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2