Dear Dion

Dear Dion
87. Ingatan Sina


__ADS_3

"Po-ponsel aku.." Ridwan segera meraba-raba sakunya.


Awalnya dia ingin berpura-pura bilang jika dia tidak membawa ponsel. Namun rencananya segera berubah ketika melihat ekspresi galak Calista.


".. bawa kok." Dia terpaksa mengeluarkan ponsel dengan logo apel dikerumuni semut dari dalam sakunya.


"Kak Ridwan kenapa diam aja tadi bawa ponsel?" Calista masih mengintrogasi.


Ridwan melirik Dion penuh kebencian.


"Kan kamu gak nanya."


Calista makin kesal.


"Ya Kak Ridwan inisiatif dong ngasih tahu aku. Masa iya apa-apa yang inisiatif duluan harus aku? Kak Ridwan kayaknya niat banget liat aku menderita dikerumuni nyamuk tadi." Kini moodnya berubah menjadi sedih.


Dion dan Ridwan langsung tercengang melihat perubahan cepat mood Calista. Untuk Ridwan memang dia sudah mulai agak terbiasa meskipun masih terkejut tapi berbeda untuk Dion.


Dion dan Calista sudah seperti saudara kandung sehingga mereka sudah saling mengenal betul sifat masing-masing. Jadi melihat perubahan mood Calista yang terlalu cepat memang meninggalkan keheranan untuknya.


"Aku minta maaf, sayang. Aku gak maksud biarin kamu-"


"Gak usah peluk-peluk." Tegur Dion mengingatkan.


"Terus Kak Dion sendiri ngapain berduaan sama Sina di dalam kamar mandi!" Balas Calista galak.


Ridwan tidak perduli dengan teguran Dion. Dia malah terang-terangan menarik Calista ke dalam pelukannya dengan tatapan kemenangan.


"Sina gak bisa jalan soalnya kaki kanannya keseleo tadi di tangga. Kakak gak mau dia kenapa-kenapa makanya ikut masuk ke dalam kamar mandi." Alasan Dion setengah benar setengah bohong.


Padahal dia sendiri tidak bisa jauh dari Sina.


"Alah, bilang aja modus." Gumam Ridwan mengejek tapi masih bisa didengar oleh yang lain.


"Modus..modus.. Kak Ridwan nih yang modus. Sini lepasin, Calista gerah tau dipeluk-peluk!" Calista menepis tangan Ridwan minta dilepaskan.


"Emang enak." Balas Dion di atas angin.


"Kaki kamu kok bisa keseleo, Sin? Ini pasti gara-gara Kak Bela, yah?" Tuduh Calista geram.


"Enggak kok..kamu salah paham. Aku keseleo karena kecerobohan aku sendiri tadi saat mau turun dari tangga. Bela gak ada hubungannya sama luka aku ini." Sina segera melambaikan tangannya membantah.


Meskipun kesal dengan Bela tapi dia tidak akan sejahat itu sampai memfitnahnya melakukan kesalahan yang tidak pernah Bela lakukan.


"Iya, tapi coba aja dia gak fitnah kamu kemarin pasti kaki kamu gak bakal berakhir begini dan kamu juga gak akan tinggal di sini." Calista bersikeras menyalahkannya Bela.


"Itu udah jadi masa lalu, aku udah melupakannya kok." Bohong Sina.


Dia tidak berani melihat reaksi Dion karena biar bagaimanapun juga dia masih trauma dengan kemarahan Dion hari itu.


"Ish.. Kak Dion sama Kak Ridwan punya temen gak ada yang bener. Yang satu bermuka dua, eh yang satunya lagi bermuka tiga. Padahal nih ya kalau mau pilih temen itu jangan lihat tampangnya doang tapi lihat juga sikap dan sifatnya gimana. Kalau ceritanya kayak kalian berdua kan akhirnya jadi berantakan. Mereka membuat kekacauan di sana-sini dan bahkan tanpa ragu melukai orang-orang yang ada di sekeliling kalian. Ck..ck.. semua laki-laki emang sama saja, mudah tertipu dengan kecantikan semu wanita." Karena Calista masih kesal dia mengeluarkan khotbahnya lagi.


Menyalahkan Dion dan Ridwan yang tidak pandai menemukan teman sehingga mereka berdua tertipu dengan perangai manis yang Kira dan Bela ciptakan.


Dion dan Ridwan sontak saling pandang, saling melemparkan kesalahan masing-masing lewat kedua mata.


"Calista jangan terbawa suasana, ingat kamu tidak boleh mempunyai beban emosi yang berlebihan." Sina menegur Calista agar segera menghentikan pembicaraan ini.


"Hah..aku benar-benar tidak bisa mengendalikan perasaan ku setiap kali memikirkan mereka berdua." Keluh Calista tidak berbohong.


"Bantu aku kembali ke dalam kamar." Sina meminta bantuan kepada Calista tapi Dion lebih dulu mengangkatnya masuk ke dalam kamar.


Calista diam membeku melihat kepergian Dion dan Sina yang sudah ada di dalam kamar. Di dalam kepalanya sekarang muncul banyak pemikiran tentang Dion dan Sina.


Dalam hati dia bertanya-tanya mungkinkah dia orang ini sudah menjalin hubungan melihat betapa ambigu suasana diantara mereka berdua.


Bagaimana secepat itu? Padahal ini hanya beberapa hari aku tidak berada di samping Sina. Hubungan mereka bergerak terlalu cepat. Batin Calista ragu.


"Kenapa? Apa kamu ingin seperti mereka? Aku juga bisa membopong mu masuk ke dalam kamar seperti pengantin-"

__ADS_1


"Kak Ridwan kok sekarang jadi banyak bicara, yah?" Calista perhatikan sikap dingin Ridwan perlahan mencair di dekatnya.


Dia benar-benar memperhatikan betapa banyak kata-kata yang Ridwan ucapkan hari ini. Rata-rata kalimat yang keluar dari mulutnya lebih panjang dari Ridwan biasanya ketika mereka belum mengungkapkan perasaan.


"Uhuk.." Ridwan batuk canggung, lebih tepatnya dia malu.


"Itu hanya perasaan mu saja." Ridwan jelas tidak mau mengakui.


"Tidak, ini bukan sekedar perasaan ku saja-"


"Apa kamu tidak ingin menyelesaikan kotak makanan yang ada di dalam dapur? Aku perhatikan kamu jelas sangat menyukai makanan itu." Ridwan segera mengalihkan pembicaraan.


Berbicara tentang makanan Calista tidak akan mungkin mengabaikannya begitu saja.


"Oh iya, tapi aku harus izin dulu sama Sina. Siapa tahu dia juga gak mau makan makanan itu." Semangat Calista dibawa kembali.


Dia bergegas masuk ke dalam kamar untuk menemui Sina membicarakan sebuah urusan yang 'penting' demi keselamatan janinnya.


"Sin, kotak makan yang ada di dapur buat aku aja gimana?"


Ridwan,"....." Sangat sopan.


"Buat kamu aja." Sina secara cuma-cuma memberikan.


"Oh..kotak makanan itu pemberian dari Calista. Tadinya aku mau buang tapi karena sekarang kamu udah datang makannya jadi gak sia-sia. Makan gih selagi masih hangat." Ucap Dion santai tanpa melihat bagaimana ekspresi Calista sekarang.


Iya, rencananya Dion mau buang makanan itu karena Sina gak bisa makan dan Dion juga gak mau makan makanan yang dibuat oleh orang yang menyakiti kekasihnya.


Berharapnya sih Dion ingin makan makanan yang dibuat sendiri oleh Sina. Entah itu enak atau tidak Dion akan tetap memakannya.


"Lho, kok Kak Dion kasih aku makanan yang udah jadi sampah sih?" Keluh Calista tidak terima.


Dia tidak menyangka apa yang dia makan tadi adalah buatan wanita bermuka dua itu!


"Itu makanan Calista bukan sampah." Tegur Sina mengingatkan.


Dia ingin tertawa tapi tidak berani karena ada Dion dan Ridwan di sini.


Ridwan di samping ngurut dada,"Ya udah, makanannya mau aku buang aja biar kamu gak marah lagi."


Ridwan akan keluar dari kamar untuk membuang makanan itu tapi langsung dihentikan oleh Calista.


"Jangan dibuang, itu makanan tau!" Tegur Calista sambil berjalan mendahului Ridwan turun ke dapur.


Semua orang,"...."


"Aku akan menemaninya di bawah." Ridwan menyusul Calista ke dalam dapur dan meninggalkan mereka berdua di dalam kamar.


"Kamu istirahat di sini dulu." Dion menaruh bantal mini di belakang punggung Sina.


"Punggung kamu sakit, gak?" Setahu Dion wanita hamil kerap kali merasakan sakit di bagian punggung atau pinggangnya.


Sina tidak merasakan apa-apa.


"Punggung aku baik-baik aja."


"Terus pinggang kamu gimana?" Tanya Dion lagi.


Sina tersenyum simpul,"Pinggang aku juga baik-baik kok Dion."


Dion ikut tersenyum,"Syukurlah."


Setelah memastikan pinggang dan punggung Sina tidak kenapa-kenapa. Dion lalu mengangkat kaki kanan Sina yang masih dibalut perban ke atas pahanya.


"Dion..kamu mau ngapain?" Sina buru-buru menarik kakinya tapi ditahan Dion.


"Aku mau pijitin kaki kamu biar sakitnya cepat hilang." Katanya sambil membuka perban kaki Sina.


"Sebenarnya gak usah.." Sina sangat malu.

__ADS_1


Suara debaran jantungnya begitu keras di dalam pendengarannya sampai-sampai dia takut Dion juga bisa mendengarnya.


"Nanti malam kamu mau makan apa, Hem?"


Dion mulai memijit kaki kanan Sina dengan hati-hati, menghindari bagian yang bengkak agar tidak menambah rasa nyerinya.


"Asal dimasak sama kamu apa aja boleh kok." Jawab Sina malu.


Dion terkekeh geli,"Hem, ini memang sudah sewajarnya."


"Tapi ngomong-ngomong Dion.. apa kamu pernah berpikir untuk memiliki anak di usia muda?" Sina memberanikan diri bertanya.


Ini adalah topik yang terkesan remeh tapi sebenarnya sangat berat untuk dibicarakan.


Jadi kamu ingin mengujiku?. Batin Dion menebak.


"Aku pernah. Pikiran ini sudah ada sejak aku berusia 10 tahun, mungkin?"


Tidak ada salahnya membawamu ikut mengenang masa lalu. Aku harap kamu bisa mengingat kembali ingatan tentang 15 tahun yang lalu. Karena bagiku hari itu tidak akan pernah bisa dilupakan seumur hidup. Batin Dion berharap.


"Sudah ada di usia 10 tahun yang lalu?" Sina tentu saja terkejut.


Ini berarti,"Kamu sudah menyukai seseorang di usia semuda itu?"


Dion tidak membantah ataupun mengelak.


"Aku tidak hanya menyukainya tapi aku juga mencintainya. Perasaan itu sudah mendarah daging di dalam hatiku."


Hati Sina terasa sakit mendengarnya.


"Maka rasa itu masih ada sampai sekarang?" Tanya Sina terluka.


"Masih ada dan tidak akan pernah memudar meskipun kami berpisah 15 tahun lamanya." Dion sangat tulus ketika mengatakannya.


Sina tertegun, rasa sakit di dalam hati anehnya menghilang begitu saja. Malah ada sebuah ketukan di dalam hatinya yang tidak biasa. Lalu, ingatannya tentang 15 tahun yang lalu tiba-tiba datang membanjiri.


"15 tahun yang lalu.." Gumam Sina tidak pasti seraya mencoba mengingat wajah anak laki-laki itu.


Memang tidak terlalu jelas tapi sekilas Sina seolah melihat Dion versi kecil di dalam kepalanya.


"Aku mencintainya hampir pada titik kegilaan.. rasanya begitu hampa melewati waktu-waktu berat itu tanpa melihat wajahnya.." Ucap Dion lembut membimbing kebingungan Sina untuk mencoba mengingat kembali kenangan mereka.


Dia memang ikut kesakitan melihat wajah Sina yang mulai memucat merasakan sakit di kepala. Tapi Dion harus melakukannya agar Sina menyadari bahwa selama belasan tahun yang terlewati ini Dion selalu mencintainya.


Dia hanya ingin Sina mengingat hari penting itu saja.


"Dia adalah penyelamat hidupku.."


Deg


Seolah diberikan pencerahan, Sina mengingat kembali hari dimana dia bertemu dengan seorang anak laki-laki yang sedang berdiri ketakutan dipinggir jalan.


Dia berbicara dengan anak laki-laki itu dan menjalin sebuah pertemanan yang sangat singkat karena setelah itu Sina berakhir bersimbah darah.


"15 tahun yang lalu..aku pernah menyelamatkan seorang anak laki-laki..dia..anak laki-laki itu mempunyai wajah yang sangat mirip dengan-"


"Sina malam ini aku bobok sama kamu yah."


Pikiran Sina langsung terurai menyadarkannya dari kebingungan. Dia melihat sekeliling dan baru ingat dengan topik pembicaraannya bersama Dion.


"Maaf..aku tadi tidak fokus.." Sina memijit kepalanya yang masih pusing.


Dion kecewa tapi tidak menyerah, masih ada banyak waktu pikirnya menyemangati.


"Kamu harus banyak beristirahat Sina, jangan terlalu banyak berpikir." Dion juga tidak ingin egois karena ada buah hati mereka di dalam perut Sina.


"Sina...malam ini aku bobok di sini, yah?" Calista masuk ke dalam kamar karena belum mendapatkan respon dari Sina.


"Boleh-"

__ADS_1


"Gak boleh!" Potong Dion dan Ridwan bersamaan.


Bersambung..


__ADS_2