
"Hei, Sina..bangun.." Ada sebuah guncangan mengusik tidur lelap Sina.
Enggan, dia perlahan membuka matanya dan melihat jika ada Calista di depannya. Dia duduk di samping Sina dengan tangan yang masih bertengger di atas pundak Sina.
Linglung, dia kemudian mendudukkan dirinya dan bersandar di kepala ranjangnya seraya mengusap wajah kantuknya. Setelah nyawanya bisa terkumpul kembali dia kemudian sadar jika ada orang lain di kamar ini.
"Calista?" Panggilnya dengan kantuk yang masih terasa.
"Kamu minum dulu." Calista memberikannya sebuah gelas air putih.
Sina tidak menolaknya dan langsung meminumnya tanpa ragu. Meneguk beberapa teguk, kekeringan yang sempat menerpa tenggorokannya akhirnya bisa tersapu bersih digantikan dengan perasaan lega.
"Lebih nyaman?" Tanya Calista.
Sina tersenyum, "Jauh lebih nyaman." Jawabnya sambil mengembalikan gelas air itu.
"Tumben ke sini, biasanya kamu ngilang gak jelas tanpa kabar." Seperti Dion, Calista tidak pernah datang berkunjung lagi.
Calista seolah pergi menjauhinya tapi Sina tidak yakin mengapa Calista menjaga jarak darinya.
"Kak Dion hari ini pulang jadi aku menyempatkan diri untuk datang, biasanya aku sangat sibuk dengan tugas kuliah ku." Jawab Calista santai.
Sina terkejut, Dion pulang? Maksud Calista apakah Dion sudah pulang?
"Dion sudah pulang?" Tanya Sina semangat, mengabaikan alasan Calista tidak pernah datang ke sini.
Calista memutar bola matanya malas, turun dari ranjang Sina dan mendudukkan dirinya di atas kursi meja rias Sina.
"Dia sudah di bawah sedang berkumpul dengan yang lain. Jika kamu ingin bertemu dengannya maka aku sarankan agar kamu segera bersiap-siap. Tampil yang cantik dan berikan kesan yang baik untuk semua orang." Jawab Calista santai seraya memainkan jari-jari lentiknya.
Kabar ini datang begitu tiba-tiba dan Sina masih belum mempersiapkan apapun untuk menyambut Dion. Maka langsung saja dia turun dari ranjangnya berlari menuju kamar mandi dengan antusias, namun saat tangannya membuka pintu kamar mandi Sina berlari kembali menghampiri Calista dan memeluknya dengan erat.
Menyampaikan betapa senangnya dia sekarang.
"Terimakasih, Calista." Bisiknya singkat setelah itu melarikan diri masuk ke dalam kamar mandi tanpa menunggu respon Calista.
Meskipun sama-sama perempuan tapi Sina tetap malu menyampaikan antusiasnya yang mungkin terlalu berlebihan bagi Calista.
__ADS_1
Sina masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan Calista yang masih belum tersadar dari ketertegunannya. Mengerjap pelan, kedua matanya yang tadi bersinar terang kini perlahan meredup menampilkan wajah sendu.
Menunduk, dia menatap telapak tangannya yang sempat Sina pegang tadi. Rasanya masih hangat meskipun sumber kehangatan itu sudah pergi. Menghela nafas berat, "Sina, kamu harus kuat untuk menghadapi mereka." Bisiknya dengan suara kecil.
...🌺🌺🌺...
Sina membawa langkah kaki ringannya berjalan melewati anak tangga satu demi satu. Setiap langkah kecil yang dia ambil semakin memperjelas suara penuh gelak tawa yang ada di bawah. Mata hitamnya yang mulai berair menatap semangat pada sosok kuat yang sudah 3 minggu ini menghantuinya tanpa kabar.
Dia awalnya berjalan ringan saat menuruni tangga namun saat melihat orang yang dirindukan tanpa sadar langkah kakinya menjadi cepat dan tidak sabaran. Membuat orang-orang yang sedang berbicara dibawah menatap penasaran pada dirinya yang sedang berjalan tergesa-gesa.
Perhatian semua orang jatuh kepadanya dan membuat langkah kakinya spontan menjadi lebih lambat. Kedua pipinya merona merah menahan malu juga gugup saat ia bertemu tatap dengan mata tajam itu.
Mata hitam yang menjadi candu untuknya.
Mata mereka bertemu, tidak sampai 2 detik mata hitam penuh dominasi itu kemudian mengalihkan pandangannya dan kembali berbicara dengan lawan bicaranya tadi.
"Kapan Dion pulang?" Sina bertanya malu pada Risa yang sedang duduk santai di ruang keluarga.
"Satu jam yang lalu, kurang lebih." Walaupun terlihat enggan namun Risa tetap menjawab pertanyaan Sina.
Terkejut, "Kenapa kamu tidak memberitahu ku jika Kakak mu pulang?"
"Kamu dari tadi siang tidur jadi aku tidak enak membangunkan mu." Memangnya kenapa aku harus membangunkan kamu? Di hati Kakak ku, apa dia menempatkan mu di tempat yang spesial?
Huh, jangan bermimpi!
Sayangnya, kata-kata ini hanya bisa ia pendam untuk melindungi citranya yang baik. Lagipula, hari ini juga ada kedua orang tuanya sehingga Risa tidak bisa terlalu menekan Sina seperti 3 minggu yang lalu.
Hem, sangat menyenangkan mempermainkan suasana hati Sina.
"Aku sangat menyesal tidak bisa mengontrol kantuk ku." Kata Sina menyesal.
Hatinya sangat gelisah tadi siang setelah pembicaraan mereka tentang Bela. Suasana hatinya yang buruk kemudian membuat Sina panik dan gelisah sehingga tanpa sadar rasa kantuk yang kuat menyerangnya. Memaksa Sina menjatuhkan kepalanya di atas bantal untuk mulai memasuki alam mimpi.
"Tapi untungnya tadi Calista membangunkan ku dan memberitahu jika Dion sudah pulang. Setelah menyuruhku untuk bersiap-siap Calista tiba-tiba tidak ada di kamarku lagi. Apa kamu melihat Calista pergi kemana?" Tanya Sina pada Risa.
Gaun birunya yang sederhana dan terlihat polos begitu serasi di badannya, memberikan ilusi gadis muda yang bersahaja. Padahal Sina sengaja menggunakan pakaian ini untuk menarik perhatian Dion, dia juga sengaja berpura-pura mengedarkan pandangannya untuk mencari Calista padahal niat aslinya adalah dia ingin melihat apakah Dion kini melihatnya atau tidak.
__ADS_1
"Dia ada di dapur membantu Mama mempersiapkan makanan." Jawab Risa malas.
Tidak terlalu tertarik dengan Calista tapi juga tidak senang melihat kedekatan Sina dan Calista.
Setelah melihat ke arah Dion, ternyata Sina menemukan jika Dion sama sekali tidak melihatnya dan terlihat sangat serius dengan lawan bicaranya.
Sina mengangguk dan agak kecewa, "Kalau begitu aku akan menyusul mereka ke dapur. Apa kamu tidak ikut?"
Risa menggelengkan kepalanya, "Aku lebih suka di sini." Jawab Risa santai.
Sina menganggukkan kepalanya mengerti, melirik Dion beberapa kali dia akhirnya membawa langkah kakinya ke dapur ikut bergabung dengan yang lain.
"Oh, gaun yang cantik. Persis seperti yang memakainya, polos dan sederhana." Goda Calista begitu melihat Sina masuk ke dalam dapur.
Nyonya Ranti melihat ke arah pintu dapur dan menemukan Sina yang sudah tampil cantik di sana. Wajahnya memerah malu setelah di goda Calista.
"Gaun mu juga cantik, sama seperti dirimu yang terlahir cantik dan menawan." Kata Sina balik memuji.
Nyonya Ranti menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku mereka berdua dan kembali sibuk menyusun kue-kue cantik di atas piring saji.
"Kalian berdua tampil cantik jadi tidak disarankan ke dapur. Biarkan pembantu yang mengurus dapur jadi kalian bisa keluar untuk bermain." Kata Nyonya Ranti memberikan saran.
Dia membersihkan tangannya dengan tisu basah dan menatap puasa pada kue-kue yang tersaji cantik di atas piring saji. Sebagai seorang wanita, Nyonya Ranti sangat menyukai sesuatu yang indah dan cantik. Entah itu perhiasan, pakaian, atau bahkan soal makanan Nyonya Ranti tidak akan pernah ketinggalan dengan gadis-gadis zaman sekarang.
Sina merasa malu dan berjalan mendekati Nyonya Ranti.
"Tenang Tante, kami tidak akan mengacau di sini jadi Tante tidak perlu khawatir." Kata Sina seraya menyusun piring saji yang baru.
Nyonya Ranti menggelengkan kepalanya tidak berdaya, mengelus rambut panjang Sina dengan hangat. "Bagus jika kamu mengerti, Calista jangan berdiam diri saja. Bantu Sina menyusun kue-kue ini dan setelah itu bawa ke dalam untuk disajikan."
Calista dengan sigap mendekati Sina.
"Bibi Ranti tidak perlu khawatir, Calista tidak akan membiarkan Sina bekerja sendiri."
Nyonya Ranti puas, "Bagus, kalau begitu kalian urus sisanya dan aku akan kembali ke dalam."
Calista dan Sina langsung menganggukkan kepala mereka patuh. Setelah itu Nyonya Ranti masuk ke dalam tanpa ragu dan menyerahkan urusan dapur kepada 2 gadis muda yang seharusnya mulai berteman dengan dapur.
__ADS_1
Bersambung...