Dear Dion

Dear Dion
93. Aku Mencintaimu, Sungguh


__ADS_3

Aku menatap kosong kamar yang baru saja ku tinggali bersama Dion, tidak sampai seminggu tapi kenangan hangat yang aku dapatkan tidak akan pernah terlupakan.


Di tempat ini Dion tidur bersama ku, di tempat ini Dion mencurahkan perhatiannya kepada ku, dan di tempat ini aku tahu hubungan kami 15 tahun yang lalu.


Rasanya begitu manis, bagaimana mungkin aku rela melupakan semua kenangan ini?


Hah, jangan bercanda.


Aku mana mungkin rela melupakan rasa manis cinta yang begitu sulit digambarkan dengan kata-kata.


Mengambil nafas panjang, aku kemudian keluar dari kamar. Menuruni anak tangga dengan langkah tertatih-tatih sembari melihat sekeliling tempat ini.


Aku masuk ke dalam dapur, menyentuh meja makan tempat kami makan berdua. Memandangi sekeliling dapur tanpa menahan diri untuk menyunggingkan senyuman.


Aku sungguh bahagia di sini bersama Dion, meskipun hanya beberapa hari tapi aku sungguh puas.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?"


Aku menggelengkan kepalaku,"Hanya memikirkan tentang masakan mu pagi itu." Jawab ku berbohong.


Dia tersenyum lebar, wajahnya yang tampan menciptakan sudut lembut. Ini adalah Dion yang sudah menemani hari-hari singkatnya di sini.


"Sungguh?"


Aku mengangguk meyakinkan."Ya, rasanya sangat lezat. Aku pasti akan sangat merindukannya."


"Eh, kamu gak perlu malu-malu jika ingin aku buatkan lagi. Apa kamu ingin aku masakin sekarang?" Dia mulai menarik lengan bajunya tapi segera ku hentikan.


"Aku sudah kenyang." Kataku menghentikannya.


Aku menariknya keluar dari dapur, bersama-sama naik ke lantai atas menuju kamar kami. Ketika melewati anak tangga Dion tiba-tiba membopongku, mungkin dia tidak tahan melihat langkah kakiku yang tertatih-tatih.


"Sina, apa yang terjadi saat aku tinggal tadi?" Apa ekspresi ku bermasalah?


"Tidak ada yang terjadi, aku hanya duduk di depan api unggun menunggu kamu kembali. Memangnya kenapa kamu tiba-tiba bertanya begitu?"


Aku harap dia tidak melihat atau mendengarkan apapun karena ini adalah yang terbaik untuk kami berdua.


"Syukurlah jika tidak ada yang terjadi. Aku hanya merasa malam ini sikap kamu tidak seperti biasanya dan terkesan aneh. Mungkin ini hanya perasaan ku saja."


Ah,


Aku hampir lupa bagaimana caranya tersenyum.


"Itu hanya perasaan mu saja, jangan terlalu dipikirkan." Kataku menenangkannya.


Aku menundukkan kepalaku, bersandar di dada bidang kuat Dion. Sembari mendengarkan suara detak jantung Dion yang berdetak kencang, diam-diam aku menenggelamkan diri dalam luka basah yang baru saja tergores di hatiku. Luka ini masih basah dan dalam sampai-sampai Sina tidak tahu bagaimana caranya menangis.


"Dion, aku sudah menyiapkan semua kebutuhan mu besok selama dalam perjalanan bisnis. Coba lihat, mungkin ada barang atau pakaian yang tidak sesuai dengan kebutuhan mu." Setelah masuk kamar aku langsung memberitahu Dion.


Besok kami akan berpisah karena Dion punya urusan bisnis diluar kota yang harus segera di selesaikan.


"Sangat cepat, Hem? Apa kamu tidak akan merindukan ku selama diluar kota?"


Aku tersenyum tipis, mencubit hidung tingginya main-main.


"Aku akan sangat merindukan mu, sungguh."


"Benarkah?"


"Aku tidak berbohong."


"Baiklah, aku percaya apa yang kamu katakan. Sekarang apakah kita bisa memulai pembicaraan serius kita?"


"Pembicaraan serius?" Aku berniat tidak memberitahumu apapun jadi seharusnya kita tidak perlu membicarakannya.


"Ya, kamu bilang ingin mengatakan sesuatu kepada ku."


Aku ingin, tapi sekarang sudah tidak bisa.


"Oh, aku ingat." Kamu selalu mengejar ku, bahkan sampai pada titik dimana aku sudah melupakan tentang mu 15 tahun yang lalu.


Dion, seberapa dalam cintamu kepadaku?


Bisakah..bisakah aku memohon kepada Tuhan agar menghapus perasaan kita berdua, karena sungguh.. Sungguh rasanya sangat menyakitkan!


"Tapi kamu belum memeriksa isi koper mu."


Dia bahkan tidak perduli dengan kebutuhannya untuk perjalanan bisnis besok.


"Lupakan, aku lebih senang berbicara serius dengan mu."


Aku tersenyum kecil, menahan ekspresi wajah ku sealami mungkin.


"Kamu ingin mendengarnya?" Awalnya mungkin manis tapi tidak dengan akhirnya.


Ini adalah racun Dion, racun yang akan melukai hati kita berdua.


"Aku sangat ingin mendengarnya."


Maka biarlah, ini adalah akhir manis yang harus aku dapatkan.


"Dion.." Aku mendorongnya naik ke atas ranjang.


"Ada-"

__ADS_1


"Shutt.." Aku membungkam mulutnya dengan tangan kanan.


"Biarkan aku berbicara, hanya aku!"


Dia mengangguk patuh, tampak menggemaskan.


Tersenyum kecil, aku melepaskan tanganku dari mulutnya. Memberanikan diri naik ke atas pangkuan Dion dan duduk di atasnya. Posisi kami terlihat intim dan ambigu, sangat dekat. Saking dekatnya aku bisa merasakan nafas hangat Dion yang bergairah.


"Dion.." Tangan kananku terangkat mengelus pipinya.


"Aku harap kamu tidak menyesal setelah mendengarnya." Bisik ku di telinganya.


Dia diam, patuh mendengarkan ku.


Tersenyum tipis menahan rasa sakit, kedua mataku menunduk memperhatikan pundak kokoh milik Dion. "Aku..aku mencintaimu, Dion."


Akui ku bahagia bercampur sakit.


"Aku.. sungguh mencintaimu, Dion." Kataku lagi mengulangi.


"Sina..aku juga-"


Sebelum dia mengatakan apa-apa aku sudah membungkam mulutnya. Aku tidak mau mendengar pengangkuan Dion sekarang karena aku takut tidak bisa melangkah maju.


Cukup aku saja yang mengakuinya sedangkan Dion?


Lebih baik tidak perlu.


"Jangan katakan apa pun, malam ini biarkan aku mencurahkan semua yang aku rasakan di dalam hati."


Dia terlihat tidak setuju tapi aku lebih tidak setuju.


"Dengarkan saja apa yang aku katakan sekarang dan aku harap..aku harap kamu tidak akan pernah melupakannya." Tidak.. tidak, sejujurnya lebih baik kamu melupakannya.


Lupakan semuanya agar kamu tidak merasakan sakit.


"Dengar, aku mencintaimu, sungguh. Aku sungguh-sungguh mencintaimu." Dia tidak mengatakan apa-apa tapi kedua tangannya sudah merengkuhku erat.


Tenaganya memang besar tapi tidak sampai membuat perutku tidak nyaman.


"Senang?" Tanyaku iseng.


Bodohnya dia mengangguk cepat. Membuat langkah ku semakin berat saja.


"Mau melakukannya malam ini?" Tangan kanan ku mengelus dada bidang Dion dengan gerakan sensual.


"Apa kita boleh?" Dion sepertinya ingin tapi menahan diri.


Boleh?


"Boleh, apa kamu tidak mau?"


Dion menggelengkan kepalanya cepat.


"Aku mau! Tapi kaki kamu masih sakit."


"Tidak apa-apa, lakukan dengan lembut maka kaki ku akan baik-baik saja."


Aku sungguh ingin memanjakan Dion malam ini sebelum Dion melakukan perjalanan bisnis diluar kota selama satu minggu penuh.


"Karena kamu sudah mengatakannya maka aku tidak akan ragu lagi. Aku akan melakukannya dengan cara selembut mungkin agar kamu tidak bisa melupakan betapa nyaman sentuhan yang ku berikan." Bisiknya sensual.


"Hem, aku tidak akan melupakannya. Aku tidak akan melupakan sentuhan lembut dari laki-laki yang aku cintai. Dion, aku sungguh mencintaimu." Sampai batas dimana hatiku tidak bisa melupakan mu.


...🌼🌼🌼...


Dia sudah tertidur di samping ku, hah.. anehnya, saat tertidur saja dia masih tampan.


Tersenyum lembut, aku mengelus pipinya bergeser ke hidung dan naik ke alis pedangnya yang tajam.


"Mimpi indah sayang, aku harap di masa depan nanti hari-hari mu berjalan damai dan dipenuhi kebahagiaan. Jangan mencari ku atau mengejar ku lagi karena..aku sungguh tidak layak untuk mu."


Siapa kami?


Anak-anak muda yang keras kepala atas nama perasaan atau cinta. Dihadapan kehidupan kami tidak berbuat apa-apa-ah, tidak. Lebih tepatnya aku yang tidak bisa berbuat apa-apa.


Apa yang Tante Ranti katakan benar. Aku hanya lulusan SMA yang tidak punya prestasi apa-apa untuk bisa dibanggakan. Dan kelak jika aku memaksa bersama Dion maka kehidupan karirnya akan hancur karena mereka akan menghancurkan apa yang sudah Dion sudah payah bangun.


Aku juga tidak bisa membantu apa-apa jika Dion mengalami krisis, bukannya membantu mungkin aku malah membebaninya. Namun, berbeda dengan Bela.


Dia punya segalanya yang dibutuhkan Dion. Dia punya semua yang tidak bisa aku penuhi, dan dia juga mendapatkan restu semua orang. Jadi..jadi lebih baik Dion bersamanya dibandingkan bersamaku, mereka jauh lebih baik.


"Jangan memikirkan ku lagi Dion karena apa yang akan kamu dapatkan justru sebuah kesakitan. Berhenti di sini saja agar hatimu tidak terluka lagi."


Aku mengecup bibirnya singkat, tersenyum tipis dan mengecup puncak kepalanya singkat.


Sudah pukul setengah 5 pagi dan aku tidak bisa terus tertidur di sini. Aku harus bangun dan menyiapkan sarapan untuknya.


15 menit kemudian aku sudah keluar dari dapur dengan pakaian rumah yang biasanya aku gunakan. Turun ke dapur dan membuat masakan yang mudah dibuat.


Pukul 7 pagi, Dion sudah rapi dan turun ke dapur untuk sarapan. Sejak turun dia tidak pernah berhenti tersenyum, memandangiku dengan sebuah tatapan lembut. Hatiku langsung berdenyut sakit ketika menatapnya.


"Kamu harus makan banyak sebelum pergi." Kataku sambil tersenyum manis, menahan sakit.


"Aku akan menghabiskan semua yang kamu buat."

__ADS_1


Aku tidak bisa mengatakan apa-apa karena dia selalu bisa membuatku kewalahan.


"Ekhem," Dia menggenggam tanganku dan aku juga tidak menolak.


Kami berdua di atas meja makan saling berpegangan tangan.


"Bagaimana semalam? Apa aku melakukannya dengan lembut?"


Semalam...kamu sangat lembut.


"Ya, kamu sangat lembut." Wajahku mungkin memerah saat ini.


"Sungguh? Badanmu tidak ada yang sakit kan?" Dia seperti anak kecil ketika membicarakannya permen manis.


"Yakinlah, aku baik-baik saja. Semalam kamu sangat lembut jadi bagaimana bisa aku tidak nyaman."


"Aku tau..aku tau, suaramu semalam juga-"


"Dion, cukup! Makan sarapan mu sebelum Om Edward memanggil." Potong ku tidak mau mendengar lebih jauh lagi.


Pembicaraan kami memang manis tapi hatiku tidak bisa menahan sesak setiap kali mendengarkannya berbicara seperti anak kecil membicarakan sebuah permen manis.


"Hahahah..kenapa harus malu, Hem? Bukankah kita semalam sangat-"


"Dion!" Aku memotongnya lagi.


Sungguh, kumohon jangan memperdalam luka ini lagi. Jangan lagi Dion karena langkah ku pasti akan tersendat.


"Okay, okay..aku makan." Dia akhirnya berhenti berbicara tapi suara tawanya masih saja terdengar.


Suasana hatinya hari ini sangat lembut dan nyaman, ini melegakan.


30 menit kemudian Dion sudah siap berangkat untuk melakukan perjalanan bisnis selama 1 minggu penuh. Selama hari ini pula kami tidak akan pernah bertemu, rasanya pasti akan sangat menyiksa.


"Sina tunggu aku pulang, meskipun ini adalah perjalanan 1 minggu tapi aku akan berusaha menyelesaikan semuanya dalam beberapa hari." Dia menggenggam tanganku erat.


Aku tersenyum, menganggukkan kepalaku bersusah payah menahan sesak.


"Aku akan menunggumu kembali."


"Jika terjadi sesuatu kamu harus segera menghubungi ku, okay?" Katanya lagi.


"Aku akan menghubungi mu, sungguh."


Aku melihat ke belakangnya, sudah ada beberapa orang yang menunggunya untuk segera pergi.


"Pergilah, jangan sampai membuat mereka semua menunggu." Aku mendesak.


"Baiklah, aku pergi. Tapi Sina, setelah aku pulang nanti ada sesuatu yang ingin aku katakan kepadamu. Aku ingin kamu tidak menghentikan ku lagi untuk mengungkapkannya."


Aku berjanji,"Aku tidak akan menghentikan mu." Lagipula janji dibuat untuk diingkari.


"Aku-"


"Dion, aku mencintaimu."


Dia terkekeh, mengecup ringan puncak kepalaku singkat.


"Aku tahu, kamu bertingkah aneh lagi." Katanya terkekeh.


Setelah itu dia pergi menyeret kopernya, beberapa kali menoleh ke belakang untuk memberikan ku sebuah senyuman manis.


"Aku akan sangat merindukan mu." Bisik ku sedih.


"Selamat tinggal, Dion."


...🌼🌼🌼...


Sekarang aku sudah berdiri di depan gedung apartemen tinggi milik Pak Maman, laki-laki tua yang menyebarkan selebaran apartemennya di dekat lampu merah.


"Paman, aku datang." Aku menyapanya sopan.


Dia saat ini sedang duduk bersama beberapa orang asing di ruang administrasi.


"Sina, Paman pikir kamu datang nanti sore."


Dia berdiri dan membawaku menjauh dari mereka. Oh ya, semalam aku sudah menghubunginya akan menyewa salah satu apartemen untuk beberapa bulan dan untungnya dia menyanggupi.


Benar, aku berlari dari semua orang. Aku tidak ingin bertemu mereka lagi termasuk kedua orang tuaku karena percuma saja, aku sama sekali tidak layak di mata mereka. Lalu tentang Dion..


Dia harus bersama dengan orang yang tepat dan orang itu bukanlah aku.


"Aku minta maaf sebelumnya tidak mengkonfirmasi waktu kepindahan ku karena ponselku hilang entah kemana." Ini bohong, aku sendiri yang membuangnya ke dalam bathub yang sudah dipenuhi air.


"Jadi, aku hanya bisa datang secara langsung."


"Tidak masalah, Sina. Paman sudah menyiapkan kamar yang layak untuk mu dan di samping kamarmu ada milik Paman dan Bibi. Jadi, jika kamu butuh sesuatu jangan sungkan untuk memanggil kami." Paman sangat baik, jauh lebih baik dari orang-orang pernah aku temui sebelumnya.


Hidup di sini, aku harap ini adalah langkah terbaik dalam hidupku. Tidak apa-apa, hidup sendiri dan membesar anak sendiri adalah pilihan yang bagus juga.


Bersambung...


Ini udah kayak sinetron ikan terbang, hufss...


Bentar lagi tamat, ye!

__ADS_1


__ADS_2