
"Hah..gak baik, mikirin masa lalu buat aku jadi galau. Kita lebih baik bicarain yang santai-santai aja biar bisa menikmati indahnya malam berbintang ini." Calista tertawa kecil merasa canggung.
Sina juga mengerti dengan perasaan Calista jadi dia tidak mau terlalu banyak bertanya karena biar bagaimanapun itu adalah masa lalu. Sekalipun dia curiga kejadian 15 tahun lalu ada hubungannya dengan Dion tapi sekali lagi itu hanya perasaannya saja. Perasaan adalah bentuk sebuah harapan dari alam bawah sadar dan Sina tubuh ingin mengulangi kekecewaan hatinya lagi.
"Malam ini sangat indah, langit juga cerah dengan hamparan bintang yang menghiasinya. Kita seharusnya tidak menyia-nyiakan keindahan ini dengan memikirkan masa lalu dan membuat suasana hati menjadi tertekan. Nikmati malam ini untuk bersantai sejenak setelah semua yang kita hadapi kemarin, anggap saja ini adalah bentuk kebaikan Tuhan untuk luka hati kita yang masih basah." Sina menghirup udara segar di sekelilingnya dengan perasaan yang ringan.
Dia kemudian melirik Calista sambil memberikan sebuah senyuman yang manis sebagai bentuk penghiburan, tepatnya untuk menghibur dirinya sendiri yang menyedihkan.
"Karena Tuhan sudah memberikannya maka akan berdosa jika kita tidak menikmatinya." Lanjutnya berbicara diakhiri sebuah tawa menggelikan.
Calista juga ikut tertawa sambil menepuk pundak Sina tidak terlalu keras.
"Hei..patah hati ternyata mampu merubah mu menjadi orang yang sok puitis. Tidak apa-apa..aku juga menyukainya... kita harus menikmati malam ini." Katanya setelah menghentikan tawanya.
Sina bangga dengan dirinya sendiri, sambil berkacak pinggang dia memamerkan bakat hidupnya yang terpendam.
"Ini adalah bakat terpendam hidup ku di dunia ini jadi kamu beruntung bisa melihatnya." Katanya bangga.
Calista melambaikan tangannya tidak perduli, baginya ini bukan sebuah bakat melainkan-
"Calista?"
Seketika senyuman Calista membeku, dia menurunkan tangannya sambil memperbaiki ekspresi wajahnya.
"Oh.. Kak Ridwan, ada yang bisa Calista bantu?" Tanya Calista sok ramah.
"Aku ingin berbicara dengan mu, hanya berdua." Jawab Ridwan lurus tanpa melirik Sina sekalipun.
Ini tidak bagus, pikir Sina. Dia terjebak diantara cinta dan benci mereka berdua, yah dan rasanya ini sangat canggung.
Senyuman Calista agak menurun,"Jika Kakak ingin berbicara maka bicarakan saja semuanya di sini, bukankah ini sangat menghemat waktu?"
Ridwan tahu jika Calista menolaknya secara halus tapi dia adalah laki-laki sejati dan tidak akan bisa menyerah dengan mudah, apalagi ini menyangkut perasaan yang dipermainkan sesuka hati oleh Calista.
"Tidak baik membicarakan urusan pribadi di depan orang lain."
Calista agak sakit kepala melihat keteguhan Ridwan jadi dia memutuskan secara langsung menolaknya.
"Kak Ridwan, aku pikir sebaiknya Kakak mulai menjaga jarak dariku agar Kak Kira tidak salah paham lagi dengan ki-Arghhh..." Calista berteriak keras saat merasakan tubuhnya melayang menjauh dari tempatnya berpijak.
Ridwan mengangkat Calista ke bahunya dengan wajah lurus tidak tersentuh. Dia menganggukkan kepalanya kepada Sina dengan sopan dan berjalan pergi sambil mengabaikan kekesalan Calista di punggungnya. Wajahnya yang lurus sama sekali tidak berubah saat menerima tatapan keingintahuan banyak orang yang kebetulan sedang menikmati keindahan malam.
__ADS_1
"Patuhlah, sekarang banyak orang yang mengarahkan matanya kepada kita." Ucap Ridwan lembut tidak pernah berharap jika Calista langsung menurutinya.
"...aku bilang turunkan aku jika kamu tidak mau menjadi bahan pembicaraan mereka." Sahut Calista dengan suara kecilnya.
Ekspresi wajah Dion melembut, tangan kanannya yang bebas menepuk ringan betis ramping Calista untuk menenangkannya.
"Aku sama sekali tidak terganggu jadi kamu tidak perlu khawatir."
Calista tidak tahu harus mengatakan apa jadi dia tidak mengatakan apa-apa lagi untuk merespon Ridwan. Rasanya sangat mendebarkan bisa sedekat ini dengan Ridwan walaupun cara ini terkesan agak...masokis? Tapi dia senang sedekat ini dengan Ridwan.
...🌺🌺🌺...
Calista dan Ridwan pergi meninggalkan Sina sendirian yang masih agak terkejut juga geli melihat kepergian mereka berdua.
"Aku pikir Ridwan juga menyukai Calista," Gumam Sina merenung.
"Aku juga pikir jika selama ini Calista hanya salah paham dengan hubungan Ridwan dan Kira karena aku pernah mendengar Dion mengatakan mereka bertiga sudah bersahabat dari kecil sehingga...ah, aku seharusnya tidak mencampuri urusan orang lain." Sina menggelengkan kepalanya segera menepis pikiran anehnya.
Tebakan-tebakan kasar yang dia pikirkan tadi segera diuraikan agar tidak punya tempat lagi di dalam kepalanya.
"Hidup ku saja masih belum jelas ujungnya mau berlabuh kemana, hah.. kebiasaan buruk ini harus segera dihapus." Gumamnya memperingati diri sendiri.
Melihat sekeliling yang ramai, Sina berencana ingin mencari tempat yang agak sepi agar bisa menenangkan diri. Di sini terlalu ramai dan banyak dari mereka adalah pasangan manis yang dipenuhi tawa yang manis.
Ah, Sina agak iri melihat mereka.
Tersenyum tipis, dia kemudian melanjutkan langkahnya menyusuri danau ini sambil menilai tempat terbaik untuk menghabiskan waktu. Mengamankan tempat terbaik-
"Kamu tidak boleh lewat sini! Pergi, cari jalan lain!" Seorang gadis kecil berteriak keras ke arah Sina.
Sina terkejut dan sontak mundur beberapa langkah untuk menjaga jarak dari anak itu.
"Kenapa aku tidak boleh lewat sini?" Sina bertanya selembut mungkin kepada anak itu.
Anak itu mendengus tidak senang, "Kamu jelek dan bajumu tidak bagus , aku tidak senang melihat orang seperti kamu!"
Sina mengernyit tidak senang dengan anak ini, sangat sombong dan hedonis di usianya yang masih belum mengenal dunia. Dia memang bisa sabar apalagi menghadapi seorang anak kecil, namun saat ini hatinya sedang dalam suasana yang buruk dan gampang terpancing emosi jadi dia tidak akan membiarkan anak ini bertindak sesuka hati.
"Aku juga tidak senang melihat kamu di sini, masih kecil tapi sudah bisa bersikap arogan, apa di sekolah kamu tidak pernah belajar tata krama?" Tanya Sina emosi.
Dia hanya ingin lewat saja tapi anak ini tidak membolehkannya, Sina pikir memang tidak pantas bertengkar dengan seorang anak kecil tapi anak ini terlalu bermasalah sehingga dia tidak tahan melihatnya!
__ADS_1
Anak itu semakin marah mendengar ini, dia dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh kedua orang tuanya sehingga dia tidak pernah mendapatkan penolakan. Sekalinya mendapatkan penolakan sikap sombongnya mulai melunjak lagi, dia sangat benci dengan orang yang menolak perintahnya.
"Aku belajar tata krama di sekolah, tapi itu hanya ditujukan kepada orang yang cantik dan tampan. Tapi kamu jelek dan buruk rupa sehingga tidak perlu bersikap sopan kepada mu." Ejek anak itu sambil berkacak pinggang.
Sina memutar bola matanya menahan amarahnya,"Nah, otak mu ternyata sedang bermasalah. Lain kali di sekolah kamu harus lebih fokus mendengarkan gurumu agar otakmu menjadi pintar dan bukannya bodoh."
Anak itu tidak senang dipanggil bodoh.
"Apa kamu bilang!" Teriak anak itu marah.
Sina dengan senang hati melayaninya, sambil tersenyum dia mengulangi kata-katanya.
"Aku bilang kamu bo-doh."
Menggeram marah, anak itu langsung menyerang Sina. Memukul Sina dengan kedua tangannya untuk melampiaskan kemarahannya sambil berteriak-teriak keras.
"Kamu yang bodoh, dasar jelek!buruk rupa!. Dasar bodoh, bodoh!jelek-"
Suasana hati Sina semakin buruk setelah diserang secara membabi buta oleh anak ini. Apalagi pukulan anak ini tidak main-main diperutnya, menimbulkan rasa sakit yang menyengat di dalam sana. Sina kesal sekaligus tidak tahan dengan rasa sakit itu, oleh karena itu dia mendorong anak itu sejauh mungkin agar jangan sampai menyentuh perutnya yang sakit.
Brugh
"Aaaaaa..." Anak itu langsung jatuh tersungkur ke tanah.
"Mama...sakit... Mama tangan Rina sakit!" Dia berteriak histeris sehingga menarik perhatian banyak orang.
Sina langsung sadar dari keterkejutannya dan dengan panik mendekati anak itu berniat akan membantunya bangun. Namun uluran tangannya langsung ditepis oleh anak itu.
Dia semakin membesarkan volume suaranya untuk menarik perhatian banyak orang, sontak saja orang-orang kemudian berkumpul mengelilingi mereka berdua seolah sedang menonton sebuah pertunjukan sirkus.
"Aku..aku tidak bermaksud menyakiti kamu.." Ucap Sina sangat gugup sambil mencoba kembali mengulurkan tangannya berniat membantu anak itu bangun.
Tapi anak itu sekali lagi menolak Sina dan bahkan secara terang-terangan menjauhi Sina dengan ekspresi ketakutan.
"Kakak cantik...aku tidak akan mengganggu Kakak lagi..hiks..jadi tolong jangan pukul aku lagi..hiks.." Isak anak itu memohon.
Ekspresi ketakutannya yang tampak jelas ketika melihat Sina langsung menimbulkan spekulasi tajam orang-orang yang sedang menonton pertunjukan. Mereka memandang Sina dengan tatapan mencemooh dan mengintimidasi, seolah-olah Sina adalah pelaku kriminalitas yang membuat resah banyak orang.
"Tidak..ini..apa yang baru saja kamu katakan?" Tanya Sina tidak percaya.
Bersambung...
__ADS_1