
"Nah, sekarang kita sudah sampai." Dion meminggirkan mobilnya dipinggir jalan.
Sina melihat ke arah luar dengan heran karena sisi kiri maupun sisi kanan jalan dipenuhi oleh pedagang kaki lima dan tenda-tenda makan yang cukup kumuh.
"Kita turun di sini?" Tanya Sina tidak yakin.
Dia tidak masalah berbaur dengan orang-orang ini namun Dion berbeda. Sedari kecil dia sudah tinggal di Belanda dan terbiasa hidup mewah sehingga Sina tidak yakin Dion akan berbaur dengan orang-orang di luar sana.
"Kenapa, kamu gak suka?" Tanya Dion tampak tidak terganggu sama sekali.
"Aku suka kok. Tapi kamu... mungkin akan gak nyaman." Sina menjawab dengan hati-hati.
Dion tersenyum simpul, menggelengkan kepalanya geli.
"Aku juga manusia biasa kali dan bukan orang yang terlahir dari keluarga bangsawan jadi wajar-wajar saja datang ke tempat merakyat seperti ini." Nyatanya Dion tidak seperti yang Sina pikirkan.
Dia enjoy dan cukup menantikan untuk datang ke tempat-tempat merakyat seperti ini.
"Aku pikir kamu tidak akan suka. Kalau begitu kita lebih baik turun sekarang-"
"Sina, tunggu." Gerakan tangan Sina terhenti.
Dion melepaskan setelan hitamnya dan memberikannya kepada Sina. Dia memakaikan Sina setelan itu agar dia tidak masuk angin karena terlalu lama berada diluar.
"Dion.. sebenarnya ini tidak perlu." Ucap Sina malu sambil menundukkan kepalanya tidak berani menatap langsung ke wajah Dion.
Wajahnya terasa panas dan terbakar karena sedekat ini dengan Dion. Dia bisa mencium wangi khas Dion bahkan dia juga bisa merasakan nafas hangat Dion menyentuh tengkuknya.
"Diluar dingin dan kamu bisa masuk angin." Ujar Dion berbisik tepat di samping telinga Sina.
Mata kelamnya tersenyum ketika melihat kuping Sina mulai berubah merah.
"Okay, kita bisa turun." Dion menjauh dari tubuh Sina dan diam-diam mengamati wajah merah Sina sebelum turun dari mobil.
Di dalam mobil Sina sibuk mengatur debaran jantungnya yang berdetak kencang dan terasa menakutkan. Mengalirkan hawa panas yang tidak biasa ke seluruh tubuhnya tanpa bisa dicegah.
"Sina.. jangan berpikir yang tidak-tidak! Jangan terlalu berharap!" Bisiknya mengingatkan diri sendiri sambil memukul-mukul dadanya.
Dibibir memang dia mengatakan ini namun di dalam hatinya dia tidak bisa menolak untuk terus mengharapkan perhatian Dion.
"Ini bukan kemauan ku..namun ini karena kemauan anak yang ada di dalam rahimku. Dia mengenali Dion dan ingin terus dekat dengan Dion..ya, ini pasti karena itu." Gumam Sina mencari pembenaran.
Tuk
Tuk
Tuk
Fokus Sina teralihkan. Dion mengetuk jendela mobil dan memberikan isyarat agar Sina segera keluar.
"Oh.." Sina segera keluar dari mobil.
"Apa yang sedang kamu pikirkan di dalam?" Tanya Dion penasaran.
Pasalnya dia sudah menunggu Sina keluar sedari tadi namun orang yang dia tunggu-tunggu asik melamun di dalam mobil. Dion menjadi gelisah dan takut jika Sina masih memikirkan Dimas. Laki-laki buaya darat yang sudah lancang mengganggu Sina-nya.
Sina malu dan secara alami tidak berani menatap wajah Dion.
"Aku hanya.. merindukan suasana ini saat masih SMA dulu." Bohong Sina mencari alasan.
Dion sebelumnya tidak percaya namun dia tidak ingin memperpanjang masalah ini di sini. Dia harus cukup bersabar untuk menyelesaikan masalah ini di rumah nanti.
"Lalu apa yang akan kita lakukan di sini?" Tanya Sina mengalihkan topik pembicaraan.
Wajah Dion tampak suram.
"Kita di sini mau makan. Beberapa hari ini aku pengen banget makan sate ayam di sini tapi belum sempat karena aku sibuk banget sama urusan kantor." Dion mengamati tenda-tenda yang ada di pinggir jalan.
__ADS_1
Entah mengapa dia tiba-tiba ingin makan sate di tempat merakyat seperti ini dan anehnya keinginannya tidak akan terbayarkan meskipun dia memesan langsung dari rumah makan.
Otak dan perutnya hanya ingin makan di tempat ini secara langsung, tentunya itu akan sangat sempurna jika ada Sina di sampingnya.
Jadi dia memanfaatkan kesempatan ini untuk membawa Sina ke sini untuk berjalan-jalan sekaligus menuntaskan keinginannya.
Sina tercengang dan spontan bertanya,"Apa kamu sedang ngidam?"
Sina sama sekali tidak berpikir saat menanyakan ini jadi dia langsung panik setelah menyadarinya.
"Enggak, maksud aku-"
"Eh masa sih, emang sekarang kamu lagi hamil?" Tanya Dion serius.
Biasanya sang suami lah yang akan pertama ngidam jika sang istri sedang hamil. Jadi Dion asal menebak namun tetap berharap itu memang terjadi.
"Ha-hamil?" Sina terkejut.
"Aku enggak kok..kamu kok nanyanya aneh gitu." Sina melambaikan tangannya panik tapi wajahnya tidak bisa menyembunyikan rona merahnya.
Dion tersenyum simpul tapi tidak mengatakan apa-apa. Suasana hatinya jauh lebih baik daripada tadi ketika mengamati reaksi malu-malu dari Sina.
Meskipun Dion agak kecewa.
"Kalau gitu kita pertama-tama nyari tempat makan yang enak dulu dan gak terlalu ramai biar bisa makan di tempat." Ajak Dion sekali lagi mengamati tenda-tenda yang ada di pinggir jalan.
Setelah memilih jalan yang akan dia lewati, Dion secara sadar meraih tangan Sina dan menggenggamnya lembut. Dia tidak tahu bagaimana reaksi Sina sekarang namun Dion bersyukur karena Sina sama sekali tidak melepaskan tangannya.
"En." Jawab Sina tersipu malu.
Sambil bergandengan tangan mereka berdua menyusuri jalan yang ramai dengan sikap diam. Tidak ada yang berbicara diantara mereka berdua namun suasana terasa hangat dan harmonis meskipun agak canggung.
Canggung karena setelah melewati berbagai macam drama membosankan mereka akhirnya bisa menikmati suasana manis yang sudah lama dinantikan.
"Kamu mau gak kita makan di sana saja?" Dion menunjuk ke arah tenda biru yang tidak jauh dari mereka.
Di depan tenda biru itu ada beberapa orang yang sedang sibuk mengipasi bara api disertai asap yang terus menerus membumbung tinggi. Udara malam yang lembab dan dingin menerbangkan wangi daging panggang yang sudah dibumbui, membangkitkan indera penciuman mereka berdua yang tajam.
"Maka sudah diputuskan." Dion menarik tangan Sina menuju tenda biru itu.
Mereka masuk ke dalam tenda itu dan cukup beruntung karena pengunjung tidak terlalu ramai jadi mereka berdua bisa santai.
Mereka memesan 3 porsi sate ayam lengkap dengan potongan lontong. 2 porsi untuk Dion sedangkan 1 porsinya lagi untuk Sina.
Selama makan sesekali Dion akan memperhatikan Sina. Dia mengawasi apakah perut Sina berulah lagi dan menolak untuk menerima makanan. Tapi ketakutannya ternyata tidak terjadi karena Sina cukup lahap memakan makanannya.
Setelah makan sate Dion tidak langsung membawa Sina pulang ke rumah. Ini adalah kesempatan yang sangat bagus jadi dia tidak akan menyia-nyiakannya. Dion membawa Sina berkeliling di tempat itu dan sesekali mencoba beberapa makanan ringan yang tidak bisa ditemukan di restoran maupun di rumah.
"Malam ini langit sangat cerah dan bintang-bintang juga tidak menyembunyikan sinarnya." Ujar Dion sambil menatap hamparan langit malam yang ada di depannya.
Saat ini mereka sedang duduk di bawah pohon rindang untuk beristirahat setelah berjalan lama. Di depan mereka ada aliran sungai besar yang cukup bersih dan tidak berbau, semakin menambah keindahan malam yang cukup sunyi.
"Dion...aku merindukan Calista." Ucap Sina dengan suara kecilnya.
Wajah cantiknya agak murung dibawah sinar rembulan yang indah nan menenangkan.
Dion menoleh ke arah Sina. Ada senyuman lembut terbentuk di bibirnya karena dia senang mu u menaruh perhatian kepada salah satu anggota keluarganya.
"Kamu tidak perlu mengkhawatirkannya karena saat ini Calista tinggal di rumah Kakek dari pihak Ibunya. Dia bilang ada urusan penting yang harus dia selesaikan di sana jadi dia mungkin akan tinggal beberapa hari lagi. Calista pergi dengan terburu-buru kemarin dan tidak sempat mengucapkan pamit kepada mu, ponselnya juga rusak jatuh ke dalam danau kemarin sehingga dia tidak sempat mengabari mu." Ucap Dion menenangkan.
Dia tahu pertemanan Sina dan Calista bukanlah pertemanan biasa. Itu lebih tepat diungkapkan sebagai jalinan persaudaraan daripada pertemanan.
Sina terkejut dan tanpa sadar mengangkat kepalanya menatap Dion. Jarak mereka begitu dekat sampai-sampai mereka bisa merasakan hembusan nafas hangat dari masing-masing.
"Su-sungguh?" Tanya Sina gugup, pipinya mulai memerah.
Dion tersenyum lebar,"Kenapa aku harus membohongi mu?"
__ADS_1
"Oh..maka syukurlah..aku senang Calista baik-baik saja." Sina ingin mengalihkan pandangannya namun Dion tidak mengizinkan.
Tangan kanan Dion terangkat menyentuh wajah Sina, menahannya agar terus terhubung dengan obsidian dingin miliknya. Kedua mata biasanya menatap orang lain dingin namun untuk Sina kedua mata itu rela melunakkan pandangannya.
"Di-Dion?" Panggil Sina terkejut, malu, dan gugup bercampur menjadi satu.
"Lalu bagaimana denganku?" Tanya Dion selembut mungkin, mengunci tatapan Sina agar tidak bisa kemana-mana.
"Apa.. bagaimana denganmu?" Pikiran Sina tidak bisa bekerja dengan normal.
"Apa yang kamu pikirkan tentang aku?" Tanya Dion masih sabar.
Sina sekarang mengerti tapi dia tidak berani gegabah menyimpulkan apa yang Dion maksud karena bisa saja dia salah paham. Sina takut terluka lagi.
"Sina, apa kamu tidak-"
Terd..
Terd..
Terd..
Ponsel Sina berbunyi, menghancurkan suasana manis nan canggung diantara mereka berdua.
"Itu..ponselku." Ucap Sina malu.
Dia memang terselamatkan dari suasana ambigu tadi tapi dia juga agak tidak rela melepaskan suasana ambigu ini. Sudah lama dia tidak sedekat ini dengan Dion, saling merasakan nafas masing-masing dengan sikap intim yang membingungkan.
Sina ingin tapi juga takut dia akan berakhir kecewa lagi.
"Luangkan waktumu." Dion berdehem canggung sambil menjauhkan tangannya dari wajah Sina.
Di dalam hati dia merutuki orang yang sudah lancang mengganggu momen pentingnya. Rasanya dia baru saja kehilangan barang berharga yang tidak ternilai harganya.
"Aku..akan mengangkatnya."
Sina mengambil ponselnya di dalam tas yang terus berdering menerima panggilan dari seseorang. Saat melihat siapa yang menelpon, tiba-tiba senyuman Sina menjadi redup. Dia menekan tombol hijau dan langsung memberikannya kepada Dion.
"Siapa?" Tanya Dion sambil menerima ponsel Sina.
"Tante Ranti, sepertinya dia mencari kamu." Jawab Sina tersenyum tipis.
Dia bukannya tidak senang dengan Nyonya Ranti, tidak, Sina sangat menyukainya. Namun Nyonya Ranti ternyata tidak terlalu senang melihatnya karena terlalu dekat dengan Dion. Sangat jelas jika gadis yang dia inginkan agar dekat dengan Dion adalah Bela. Jadi, Sina mulai canggung berada di rumah itu karena tidak mempunyai dukungan selain Bik Mur.
"Iya, Ma. Aku bentar lagi balik.. Mama gak usah khawatir, oke Ma.. teleponnya Dion tutup." Dion langsung menutup sambungan telepon tanpa menunggu respon dari Nyonya Ranti.
Memang ponselnya sedari tadi ramai notifikasi dari pesan masuk sampai telepon. Tapi Dion mengabaikannya dan sengaja mematikan volume suara ponselnya agar tidak ada yang menghalangi acara kencannya dengan Sina.
Tapi ternyata dia meremehkan kegigihan Nyonya Ranti. Dia tidak menyangka Nyonya Ranti akan menghubungi Sina sebagai gantinya.
"Bentar lagi jam 11 malam," Sina memecah keheningan. "Kita sebaiknya pulang sebelum orang rumah bertambah khawatir."
Dion menghela nafas panjang dan bangun dari duduknya dengan enggan. Wajahnya mulai suram tapi segera berubah saat dia menoleh ke arah Sina.
"Okay, kita pulang." Dion mengulurkan tangannya ke depan Sina.
Tidak akan menariknya sebelum Sina menerima uluran.
"En." Sina menerima uluran tangan Dion.
Menyembunyikan emosi diwajahnya dengan cara menunduk menatap jalan setapak yang mereka lewati. Malam memang dingin tapi berdampingan dengan Dion membuat Sina merasa hangat. Tangan Dion yang sedang melingkupinya besar namun terasa hangat dan sangat nyaman di kulit telapak tangan. Setelan milik Dion yang kini sedang memeluk tubuhnya mengusir setiap hawa dingin yang ingin merambat naik. Memenuhi indera penciuman Sina dengan wangi khas milik Dion yang sangat harum dan menenangkan.
Rasanya sangat nyaman.
"Dion.. setelan kamu.."
"Ambil aja, aku gak akan jatuh miskin hanya karena kekurangan satu kain." Dengan kata lain pakaian ini sekarang menjadi milik Sina.
__ADS_1
Sina sangat senang tapi dia tidak berani menyuarakannya. Diam-diam dia mengulum senyum dibibir sambil menikmati kehangatan yang Dion berikan kepadanya.
Bersambung...