
Bela tertegun, kedua tangannya mengepal kuat menahan marah dan cemburu. Dia tidak menyangka mendapatkan bahu dingin dan kemarahan Dion padahal kemarin mereka masih bisa tersenyum manis.
"Sina.. Sina..apa yang harus aku lakukan untuk menyingkirkan kamu dari rumah ini?" Gumam Bela bertanya-tanya dengan wajah suram.
"Aku sengaja menjebak mu kemarin agar kamu diusir dari rumah ini. Memang benar hasilnya kamu diusir tapi kamu masih bisa tinggal di paviliun dingin untuk menjalankan trik licik mu. Sina..kamu sangat menjijikkan. Untuk menjauhkan kamu dari Dion, aku harus melakukan sesuatu.. sesuatu.." Bela mulai berpikir apa yang harus dia lakukan untuk menyingkirkan Sina dari paviliun dingin.
"Tante Ranti! Dia..dia mungkin mau mengabulkan permintaan ku. Yah, aku harus memberi tahu Tante Ranti untuk segera mengeluarkan Sina dari paviliun dingin sebelum terlambat!" Bela akhirnya punya ide.
Kali ini idenya bukan sembarang ide karena melibatkan langsung orang tua Dion. Bela yakin bila mereka yang bertindak Sina tidak akan bisa melakukan apa-apa untuk melawan.
Bela segera keluar dari paviliun dingin dan buru-buru berlari sebelum langit menjadi gelap. Dion benar, jalanan ini cukup gelap bahkan sebelum malam datang. Pantas saja Dion memintanya segera kembali karena ini juga demi kebaikannya.
Di tengah perjalanan kembali ke rumah utama Bela sempat berpapasan dengan Calista dan Ridwan. Mereka tampak dalam suasana hati yang harmonis dan terlihat intim, membuat Bela yang melihat merasa sakit mata. Dia tidak suka melihat kelakuan Calista yang tega ingin menghancurkan hubungan Ridwan dan Kira. Padahal Kira tidak pernah mengganggu kehidupan Calista sebelumnya.
"Kamu mau mengunjungi Sina di paviliun dingin?" Tanya Calista tanpa menyapa.
Calista melihat ekspresi tidak senang di wajah Bela tapi dia sama sekali tidak perduli. Dia malah memeluk lengan Ridwan intim untuk memanas-manasi Bela.
"Ya, apa Kakak punya masalah?" Calista sama sekali tidak menyembunyikan permusuhannya kepada Bela.
Toh apa yang perlu ditakuti dari Bela?
Bela melirik Ridwan dengan pandangan yang rumit dan kembali menatap wajah bangga Calista. Mata Bela langsung terasa perih ketika melihat sikap intim mereka.
"Semenjak bermain dengan Sina kamu jadi berubah." Kata Bela terlihat tidak berdaya.
"Oh benar, aku menjadi lebih baik sejak berteman dengannya." Ujar Calista membuat Bela tersedak.
"Apa merebut kekasih orang adalah perubahan yang baik?" Tanya Bela tajam.
"Apa maksud Kakak aku merebut kekasih orang atau Sina yang merebut kekasih orang?" Calista berlagak bodoh.
"Pikirkanlah." Jawab Bela sudah jelas.
"Nah, kekasih siapa yang aku rebut dan kekasih siapa yang Sina rebut?" Calista masih berlagak bodoh.
Bela berdecak kesal.
"Apa kamu masih menanyakan jawaban yang sudah jelas?" Tanyanya mulai kesal.
Calista tertawa kecil.
"Lalu apa yang Kakak maksud Kak Ridwan adalah kekasih Kak Kira atau Kak Dion adalah kekasih Kak Bela?" Pertanyaan memang terkesan polos tapi cara pengucapannya dibuat terlalu main-main.
Bela tertegun, dia memalingkan wajahnya dari Calista seraya merutuki betapa bodohnya dia bisa masuk ke dalam jebakan Calista.
"Oh..apa Kakak tidak bisa menjawabnya?" Tanya Calista seraya bergelayut manja di lengan Ridwan.
"Kamu..kamu.. tentu saja yang aku maksud adalah Ridwan dan Kira." Jawab Bela sangat kesal.
"Nah, jadi Kakak dan Kak Dion sebenarnya bukan pasangan kekasih?" Serang Calista tidak membiarkan Bela waktu untuk bernafas.
Ridwan terkekeh kecil, dia tidak mengatakan apa-apa dan menonton dalam diam pertunjukan yang dibuat oleh sang kekasih.
Pertengkaran antara wanita sangat berbahaya jadi Ridwan tidak ingin terlalu ikut campur karena ini adalah masalah para wanita.
"Kami akan! Untuk saat ini masih belum." Jawab Bela emosi.
Untuk saat ini masih belum ada kejelasan karena kehadiran Sina. Tapi setelah Sina berhasil dia singkirkan dari rumah ini ceritanya pasti akan berbeda. Dia dan Dion akan menjalin hubungan yang resmi tanpa ada parasit pengganggu.
"Hahaha...jadi kalian berdua tidak punya hubungan apa-apa!" Calista tertawa heboh sambil memukul-mukul lengan Ridwan.
__ADS_1
"Itu masih baik daripada merebut kekasih orang." Sindir Bela mengejek.
"Oh.. maksud Kakak dia?" Tanyanya sambil menunjuk wajah serius Ridwan.
Bela memutar bola matanya malas. Artinya sudah jelas dan tidak perlu dipertanyakan lagi.
"Kak Ridwan emang pacaran sama Kak Kira?" Tanya Calista cemburu.
Meskipun jawabannya tidak tapi tetap saja dia merasa cemburu mendengar orang lain menganggap kekasihnya memiliki hubungan lain dengan wanita lain.
Ridwan tersenyum tampan seraya mengelus rambut panjang Calista yang dibiarkan terurai.
"Aku dan dia tidak punya hubungan apa-apa selain hubungan persahabatan. Tapi jika dia memendam rasa kepadaku maka hubungan persahabatan kami terpaksa harus berakhir. Aku tidak mau menjalin persahabatan dengan seseorang yang menghalangi hubungan kita." Jawab Ridwan serius membuat Bela tercengang.
Apa artinya ini? Pikir Bela bertanya-tanya.
Mengapa Ridwan mengatakan sesuatu yang berlawanan dengan apa yang Kira katakan?
"Bagaimana mungkin.. Kira mengatakan kepadaku jika kalian sudah berpacaran.." Bela lebih percaya apa yang dikatakan oleh sahabatnya.
"Simpel saja, jika kamu tidak percaya maka pertemukan kami berdua diwaktu yang bebas. Hari itu aku akan membuktikan kepadamu bahwa hubungan kami tidak lebih dari sebatas persahabatan." Ujar Ridwan terdengar cuek.
"Tapi..tapi-"
"Kak Kira dan Kak Bela ternyata suka ngehalu. Saran aja nih Kak, lebih baik kalian berdua mulai mengurangi tontonan drama Korea. Karena kalian harusnya tahu bahwa dunia nyata tidak seindah yang ada di drama Korea." Potong Calista sok bijak sekaligus mengejek kehaluan Bela dan Kira yang sudah mendarah daging.
"Kamu-"
"Kami akan pergi, Kak Bela selamat malam." Potong Calista sambil tersenyum manis.
Setelah mengatakan itu dia dan Ridwan kembali melanjutkan perjalanan mereka yang sempat tertunda. Berjalan bersama dalam suasana yang baik dan manis, tentunya.
Mereka sama sekali tidak perduli dengan kemarahan Bela dibelakang karena orang pertama yang lebih dulu memprovokasi mereka adalah Bela sendiri. Jadi jangan salahkan mereka jika Bela menjadi marah.
Gara-gara bertemu Bela obrolan mereka terpaksa berhenti tadi.
"Manusia tidak semuanya mudah ditebak." Ujar Ridwan terdengar sok bijak.
Calista di samping mengangguk ringan, melepaskan tangannya dari lengan Ridwan setelah cukup jauh dari Bela.
"Lho kok tangannya dilepas?" Ridwan jelas tidak senang.
"Urusan Kakak masih belum selesai sama mereka berdua. Selama belum selesai hubungan kita juga hanya akan sebatas ini, adik dan Kakak." Jawab Calista sambil menahan tawanya.
Dia merasa terhibur dengan tampang cemberut Ridwan yang langka. Pasalnya laki-laki berkaca mata ini selalu menunjukkan ekspresi datar di kehidupan sehari-harinya.
"Kamu benar-benar pandai menyiksa orang." Decak Ridwan merasa geli juga tersiksa.
...🌺🌺🌺...
"Tidak apa-apa, aku bisa sendiri. Turunkan saja aku di sini." Sina menepuk-nepuk dada Dion sebagai kode dia ingin diturunkan di sini.
Dion pura-pura tidak mendengar apa yang Sina katakan. Dia tetap berjalan masuk ke dalam kamar mandi dan mendudukkan Sina di sisi bathub.
"Sekarang bisakah kamu keluar?" Pinta Sina dengan kedua pipi sudah merona.
Dion mengangkat salah satu alisnya menatap Sina, artinya jelas jika dia tidak mau keluar.
"Aku..ingin.. tidak, ini adalah urusan pribadi jadi sebaiknya kamu keluar dulu." Sina memohon.
Betapa malunya dia dilihat oleh Dion dalam keadaan yang sangat sulit untuk dibicarakan, okay. Dia adalah wanita yang punya rasa malu juga meskipun dia sangat menyukai laki-laki yang ada di depannya ini.
__ADS_1
"Jika kamu tetap di sini maka aku tidak bisa melakukan apa-apa." Kata Sina memberikan kode.
Dion akhirnya mengalah.
"Aku keluar, tapi jika ada apa-apa langsung panggil saja aku."
Dia mengusap rambut Sina tidak berdaya sebelum keluar dari kamar mandi meninggalkan Sina di dalam. Setelah kepergian Dion, Sina langsung merilekskan badannya sambil memegang dadanya gugup.
Untuk pertama kalinya dia melakukan sebuah rencana jahat untuk orang lain dan untungnya langsung berhasil. Dia juga tidak menyangka jika reaksi Dion sangat marah tadi. Dan Sina juga semakin terkejut ketika mendapatkan perhatian khusus dari Dion. Demi dirinya Dion rela mengabaikan Bela.
Memikirkan semua itu, mulai dari perhatian Dion yang berubah-ubah dan kesepakatan untuk tinggal di sini membuat Sina menyimpulkan sesuatu yang sangat berbahaya.
"Apa selama ini Dion menyukai ku?" Tanya Sina tidak percaya tapi otak dan hatinya justru mengiyakan.
"Di meja kerja Dion juga aku menemukan fotoku saat masih kecil, bagaimana bisa Dion memiliki fotoku jika bukan karena dia memiliki perasaan kepadaku...ini gila..tapi aku tidak memikirkan kemungkinan lain selain ini.." Sina menggigit bibirnya gugup.
Diam-diam dia mulai merasakan perasaan senang merayapi hatinya.
"Aku..aku..apa aku harus mencoba untuk mempercayai Dion lagi? Apa aku harus mencoba untuk mengharapkan Dion lagi?"
Sina sebenarnya takut kecewa lagi tapi dia menolak untuk menyerah sekarang karena mungkin saja tebakannya benar jika Dion juga menyukainya. Jika Dion memang benar menyukainya maka masa depan anak ini akan cerah namun jika tidak, Sina akan langsung menyerah tanpa memikirkan kemungkinan berbahaya lagi.
"Tuhan, untuk kali ini saja.. izinkan aku mengharapkan cinta yang sama lagi." Bisik Sina memberanikan diri.
Untuk kali ini saja, Sina menaruh harapan terakhirnya kepada Dion. Dia berharap seraya terus berdoa di dalam hatinya agar Dion membalas perasaannya.
Sina berharap seraya terus berdoa semoga Tuhan mau membuka hati Dion untuknya.
Tok
Tok
Tok
"Sina?" Panggil Dion dari luar.
Sina langsung keluar dari lamunannya. Dia segera membasahi kedua tangannya agar tampak baru saja menggunakan kamar mandi.
"Aku sudah selesai." Jawab Sina setelah membasahi kedua tangannya.
Cklak
Pintu kamar mandi terbuka disusul suara langkah kaki masuk ke dalam. Dion menghampiri Sina yang masih di tempat yang sama duduk menunggu kedatangannya.
Sina kira Dion akan langsung membopongnya tapi ternyata dia salah karena Dion sekarang sudah menurunkan satu kakinya bertumpu di lantai tepat di depan Sina. Dia menatap Sina dalam diam, mata kelamnya yang memikat mengikat Sina dalam satu pandangan.
Sina tidak bisa berpaling dibuatnya.
"Dion..ada apa?" Tanya Sina gugup.
Dion menghela nafas panjang, meraih kedua tangan Sina yang masih basah dan menggenggamnya.
"Jangan ulangi lagi Sina, ku mohon. Jika saja tadi aku terlambat menangkap mu maka konsekuensinya akan sangat berbahaya." Mohon Dion tampak lelah.
Bila Dion terlambat sedetik saja menjangkau Sina maka konsekuensi yang harus dia terima keselamatan Sina dan janinnya terancam. Entah itu bisa diselamatkan atau tidak, Dion tidak berani membayangkannya.
Sina tersentuh, dia merasa hangat mendapatkan perhatian tulus dari Dion. Perasaan cinta untuk laki-laki ini mungkin semakin bertambah setiap waktu seiring perhatian yang didapatkan darinya terus saja berdatangan.
"Aku janji tidak akan mengulanginya." Jawab Sina seolah terhipnotis oleh ketulusan Dion.
"Kamu harus menepatinya-"
__ADS_1
"Apa yang sedang kalian lakukan berduaan di dalam kamar mandi?"
Bersambung...