
Rania menatap wanita paruh baya di hadapannya dengan tatapan penuh kebencian. Wanita jahat yang telah membuat Freya menderita.
Tak berbeda dengan Rania, Rima juga menatap Rania penuh kebencian. Rania, perempuan yang telah merebut Dirga darinya.
"Apa kamu tahu kenapa aku membawamu ke sini?" Tangan Rania bersedekap, menatap Rima dengan angkuh. Rania sengaja menyuruh anak buahnya untuk membawa Rima ke hadapannya.
"Kau sangat licik! Kau menyuruh orang untuk membuat keributan, kemudian kau menculikku ke sini!" Rima berteriak marah.
Wanita paruh baya itu baru saja duduk di sebuah restoran untuk makan siang. Namun, beberapa orang membuat keributan dan akhirnya menyeretnya keluar dari restoran.
Setelah Rima berada di luar restoran, sebuah mobil berhenti dan keluarlah orang-orang berbaju hitam yang langsung memasukkannya ke dalam mobil dan membawanya pergi.
"Menculikmu?" Rania tertawa sinis.
"Siapa juga yang sudi menculik wanita tidak tahu diri seperti kamu? Aku yakin, kalaupun aku menculikmu, suami dan anakmu tidak akan mencarimu apalagi memberikan uang tebusan jika aku memintanya."
"Kau!" Rima menggeram marah. Apa yang dikatakan oleh Rania mungkin memang benar, kalaupun dirinya diculik ataupun menghilang, dia yakin Aditya dan Sagara tidak mungkin mencarinya.
Mereka berdua tidak pernah mempercayainya. Tidak mungkin mereka akan memberikan uang tebusan seandainya Rania memintanya.
Apalagi, jika Rania meminta uang tebusan dalam jumlah banyak.
"Kenapa? Tebakanku benar bukan? Aku sangat tahu jika suami dan anakmu tidak lagi mempedulikanmu karena kejahatan yang telah kamu perbuat pada putriku!" Rania tertawa sambil menatap Rima yang langsung mengeraskan rahangnya menahan amarah.
"Apa maumu?" Rima melotot pada Rania saking marahnya.
__ADS_1
"Mauku? Kau benar-benar ingin tahu apa mauku?" Rania tersenyum manis. Namun, detik berikutnya, raut wajahnya berubah.
Rania berdiri, kemudian tangannya terangkat menampar Rima. Kedua mata Rima membola. Namun, belum hilang keterkejutannya, tangan Rania sudah kembali mendarat di pipinya berkali-kali.
Rima yang tidak siap dengan serangan dari Rania, terdorong mundur akibat kerasnya tamparan Rania.
Wanita paruh baya itu menjerit histeris. Merasa marah sekaligus merasakan sakit di area wajahnya. Pipi kanan dan kirinya terasa perih dan panas. Rima sungguh tidak menyangka kalau Rania memukulinya di tempat itu.
"Itu belum seberapa jika dibandingkan rasa sakit yang dirasakan oleh anakku. Tamparan itu bukanlah apa-apa dibanding penderitaan yang sudah dialami oleh Freya gara-gara kamu!" teriak Rania.
"Salahkan saja putrimu kenapa dia menggoda Sagara? Kalau Amora tidak menggoda putraku hingga akhirnya dia hamil dan menyuruh Sagara menikahinya, aku juga tidak akan berbuat jahat pada anakmu!" Rima tidak terima dengan ucapan Rania meskipun itu benar.
Mendengar ucapan Rima, Rania naik pitam. Wanita itu mendorong tubuh Rima kemudian kembali menamparnya. Rania juga menjambak rambut Rima.
Rima tidak bisa melawan karena tenaganya kalah kuat dari Rania. Wanita itu hanya pasrah sambil terus menjerit kesakitan mendapat pukulan bertubi-tubi dari Rania.
Dirga sudah mengingatkannya untuk tidak terbawa emosi. Rima harus merasakan pembalasan yang lebih sakit dari apa yang sudah dilakukan olehnya pada Freya.
Bahkan jika Rania memukulinya sampai mati pun, hukuman itu tidak sebanding dengan penderitaan yang sudah dialami oleh Freya dan juga mereka berdua sebagai orang tua Freya yang bertahun-tahun menangis dan menderita karena kehilangan putri satu-satunya.
Bukan hanya penderitaan secara batin, Dirga dan Rania juga telah menghabiskan banyak materi untuk mencari putrinya. Penderitaan mereka tidak akan terbayar hanya karena melihat Rima dipukuli sampai mati. Wanita itu harus merasakan hal yang sama.
Setelah menyiksanya, Dirga dan Rania berencana akan mengirim wanita itu ke penjara. Menurut mereka, Penjara adalah tempat yang tepat untuk membuat merasakan penderitaan yang sama seperti yang dirasakan oleh Dirga dan Rania.
Di dalam penjara, Rima akan merasakan bagaimana rasanya hidup sendirian tanpa keluarga, yang ada hanya orang yang tidak dikenal yang bisa menghabisinya kapan saja.
__ADS_1
"Kenapa kamu menculik Freya? Apa kesalahan gadis kecilku sampai kamu tega menculiknya? Katakan Mira! Apa alasan kamu menculik putriku yang tidak bersalah?" Dirga yang baru saja datang menatap Rima dengan penuh kebencian.
Lelaki itu sungguh tidak menyangka kalau wanita di hadapannya itu tega menculik putrinya kemudian menghilang selama bertahun-tahun. Perempuan yang ia anggap sebagai sahabat ternyata menusuknya dari belakang, menculik putrinya kemudian melarikan diri.
"Apa alasanmu menculik Freya, Rima? Apa salahku padamu sampai-sampai kamu tega membuat hidupku hancur karena kehilangan putriku selama bertahun-tahun? Katakan padaku apa alasanmu!" teriak Dirga.
Kedua matanya menyorot tajam pada Rima yang kini terlihat berantakan. Wajahnya penuh luka memar akibat tamparan Rania. Rambutnya juga berantakan karena Rania menjambaknya.
Dirga sudah menyangka istrinya itu pasti akan hilang kendali saat berhadapan dengan Rima. Beruntung, Dirga menyuruh anak buahnya agar terus mengawasi Rania dan Rima.
"Apa kamu benar-benar ingin tahu alasannya, Dirga? Kau ingin tahu kenapa aku menculik anakmu saat itu?" Rima menatap pria yang dulu sangat dicintainya itu dengan air mata yang mengalir di pipinya.
"Aku menculik putrimu karena aku membencimu! Aku membencimu dan juga wanita itu!" teriak Rima. Masa lalunya bersama Dirga kembali terlintas di kepalanya.
Sementara itu, Dirga dan Rania merasa terkejut mendengar kalimat benci yang diucapkan oleh Rima. Mereka sangat tahu pasti jika mereka tidak pernah melakukan kesalahan apapun pada Rima.
Rania dan Dirga selalu bersikap baik pada Rima. Apalagi Dirga. Buat Dirga, Rima adalah sahabatnya yang paling baik. Namun, wanita itu menghilang saat dirinya ingin menikah dengan Rania.
Padahal, saat itu dia sangat ingin menceritakan tentang kebahagiaannya karena akan menikah dengan Rania, wanita yang sangat dicintainya.
"Kenapa kamu membenciku dan Rania? Memangnya apa salahku dan Rania padamu? Kenapa kamu melampiaskan kebencianmu pada putriku?" Dirga masih tidak mengerti kenapa Rima begitu membencinya.
"Dirga, apa kamu bodoh? Aku telah bersamamu selama bertahun-tahun. Tapi apa yang kamu lakukan padaku? Kau malah memilih perempuan yang baru hadir dalam hidupmu!
Aku yang menemanimu selama bertahun-tahun aku yang bersamamu setiap kamu ada kesulitan aku yang selalu menunggumu dan membuatmu kembali tertawa saat kamu sedih, tapi kamu? Kenapa kamu lebih memilih dia dibandingkan aku yang sudah bertahun-tahun bersamamu?
__ADS_1
Aku mencintaimu, Dirga! Aku mencintaimu!"
BERSAMBUNG ....