
Satu jam lebih Dewa tertidur, dan selama itu pula Amora melihat ke arahnya. Mengamati pria itu dengan posisi berbaring. Dia sudah mencoba untuk kembali terpejam, tetapi sulit. Mungkin karena ia sudah terlalu lama berbaring di ranjang, hingga matanya tidak mau tertutup lagi.
Amora seketika mendudukkan dirinya kala melihat kerutan yang ada di kening Dewa, seolah ada yang mengganggu dalam benak pria itu. Amora ingin turun membangunkan pria itu, mungkin mimpi buruk sedang mengganggunya.
Dewa tersentak karena mimpi buruk menyapanya. Bayangan kelam itu datang kembali, dan selalu menyiksanya. Amora yang melihatnya mengurungkan niat turun dari ranjang, mata mereka kini saling beradu.
"Kamu sudah bangun?" tanya Dewa yang mendapati Amora menatapnya intens. Gadis itu mengangguk sebagai jawaban.
"Apa kamu baik-baik saja? Apa saat tidur kamu bermimpi buruk?" tanya Amora prihatin. Saat tidur tentu saja tidak bisa mengendalikan apa yang ingin dan tidak ingin dimimpikan. Datang begitu saja tanpa peduli apakah batin akan tersiksa atas mimpi itu.
Amora juga sering mengalami mimpi buruk kala tertidur. Mimpi yang dia benci, yang dia alami sejak kecil dan dialaminya hingga saat ini, walau intensitas terjadinya lebih sedikit.
Dewa mengembangkan senyumnya. Dia senang karena Amora peduli padanya. Kalau gadis itu tahu dia tadi mengalami mimpi buruk, artinya sejak tadi Amora memperhatikannya.
Dewa bangkit dan berjalan mendekati perempuan itu. Mengambil tempat di kursi di sebelah ranjang.
"Bagaimana keadaanmu saat ini?" tanya Dewa mengabaikan pertanyaan Amora. Dia bukan tidak tahu sopan, dengan tidak mau menjawab pertanyaan orang lain, hanya saja Dewa tidak suka membagi kisah kelamnya pada orang lain.
__ADS_1
"Aku baik. Aku sudah pulih. Bisakah infus ini dicabut saja? Aku merasa semakin bengkak karena berhari-hari di opname," ucapnya sungkan. Mungkin dia terdengar terlalu banyak menuntut. Padahal pertolongan pria itu saja sudah banyak padanya.
"Baiklah! Aku akan meminta suster untuk membukanya, tapi kamu harus tetap beristirahat. Tenangkan hati dan pikiranmu, karena setelah ini banyak yang harus kita kerjakan," terang Dewa tersenyum.
"Dewa."
"Hmm." Dewa menatap wajah cantik Amora yang masih terlihat pucat.
"Terima kasih," ucap Amora sambil tersenyum.
"Terima kasih atas semua bantuan yang kamu berikan untukku. Aku tidak tahu harus membalasnya dengan apa." Amora berucap dengan pelan. Ia sungguh tidak enak hati.
"Aku menolongmu untuk memastikan kalau dokter yang memeriksamu tidak salah diagnosa. Aku hanya tidak ingin orang menganggap dokter-dokter di rumah sakit milikku tidak kompeten."
"Apa maksudmu?"
"Mereka mengatakan kalau kamu sudah meninggal. Namun, beberapa jam kemudian, tiba-tiba kamu hidup lagi." Dewa menatap Amora yang terdiam mendengar ucapannya.
__ADS_1
"Saat kamu tiba-tiba bangun dari kematian, aku mencari informasi tentang dirimu. Aku mencari tahu penyebab kamu sampai kehilangan nyawa saat di rumah sakit," lanjut Dewa.
"Aku sungguh merasa penasaran sekaligus marah. Penasaran karena kamu tiba-tiba hidup lagi. Marah karena aku merasa dokter yang memeriksamu tidak becus. Masa mereka menyatakan kamu meninggal dunia padahal kamu jelas-jelas masih hidup. Nama rumah sakit menjadi taruhan seandainya benar mereka salah memeriksamu," jelas Dewa.
Amora terdiam mendengar ucapan Dewa. Ia tidak tahu mau menjawab apa.
"Dokter di rumah sakitmu tidak bersalah. Kenyataannya, aku memang baru saja bangkit dari kematian." Amora menatap Dewa dengan wajah sedih.
"Aku bersyukur karena Tuhan memberiku kesempatan untuk hidup lagi."
Dewa mengangguk mendengar ucapan Amora.
"Amora, apa kamu ingat semua kejadian sebelum kamu dinyatakan meninggal dunia?" tanya Dewa penasaran.
"Aku mengingat semuanya, Dewa. Termasuk saat kedua orang itu memberiku obat yang melebihi dosis. Apa kamu tahu? Aku bahkan masih ingat dengan jelas saat mereka berdua mengatakan ingin membunuhku secara perlahan."
BERSAMBUNG ....
__ADS_1