DERITA CINTA AMORA

DERITA CINTA AMORA
MENCARI TAHU


__ADS_3

Wajah Aditya sudah tampak memerah menahan amarah ketika mendengar penuturan dari dokter pribadinya yang memang diminta untuk menjaga sekaligus mengurus Amora ketika dia berada di luar negeri saat itu.


"Katakan saja apa yang Anda pikirkan, jangan takut. Untuk sekarang ini, kenyataan terpahit pun akan aku terima," jawabnya memberikan keyakinan kepada sang dokter untuk membukakan segala kecurigaan dalam pikirannya.


"Maaf, Ketika saya memeriksa Amora kali pertama, saya sudah menyarankan kepada Nyonya Rima untuk membawa gadis itu ke rumah sakit karena memang harus mendapatkan perawatan dan penanganan serius. Namun, Nyonya Rima tidak mengizinkan. Dia meminta saya untuk memberikan obat yang bisa menghentikan pendarahan dan membiarkan Amora untuk tetap dirawat di rumah saja," terang sang dokter dengan serius.


Mendengar hal itu, sontak Aditya semakin marah. Wajahnya pucat. Pernyataan sang dokter sudah cukup jelas untuknya mengetahui siapa penyebab dari semakin buruknya kondisi Amora.


"Keterlaluan kamu Rima! Kau memang manusia yang tidak punya hati!" umpatnya di depan dokter itu.


***


Aditya terus berpikir di dalam benaknya mengenai kejahatan yang serius yang telah dilakukan istrinya. Malamnya, dia menemui Sagara yang kondisinya sudah lebih baik setelah beristirahat cukup lama.


"Bangunlah, papa ingin bicara," ucap Aditya yang menerobos masuk ke dalam kamar putranya. Raditya melihat kalau anak itu sudah bangun. Namun, Sagara masih berbaring di atas ranjang menatap lurus ke arah langit-langit kamarnya.

__ADS_1


Sudah lama, Sagara tidak merasakan tidur yang nyaman seperti ini. Biasanya dia selalu menghabiskan malamnya dengan mengubur dirinya dengan berbotol-botol minuman hingga pada akhirnya dia mabuk dan bisa melupakan kepedihannya.


Berulang kali Rima mengatakan padanya agar dirinya bisa melupakan semua tentang Amora karena gadis itu sudah tidak ada lagi di dunia ini. Rima berharap, Sagara menata hidupnya menjadi lebih baik lagi. Kalaupun dia sudah tidak bisa bersama dengan Laura, setidaknya Rima mengharapkan agar Sagara mau membuka hati untuk gadis lain.


"Jangan menyiksa dirimu dengan menghancurkan masa depanmu seperti ini. Amora sudah pergi, dia tidak akan kembali lagi walau bagaimanapun kau menyesalinya," ucap Rima hampir setiap hari ketika melihat Sagara duduk termenung di balkon kamarnya.


Pria itu tidak pernah mau melakukan apapun hal yang benar yang biasa dia lakukan. Dia sudah mengabaikan pekerjaannya di kantor bahkan tidak ingin menyelesaikan skripsinya yang hanya tinggal selangkah lagi agar bisa menjadi sarjana.


Rima tidak pernah menduga bahwa Amora akan pergi meninggalkan kutukannya terhadap keluarga mereka. Sagara dengan keterpurukannya, Aditya yang berubah menjadi dingin dan juga selalu curiga kepadanya, serta dirinya sendiri yang terabaikan oleh suami dan anaknya.


"Pergilah, Mama! Tinggalkan aku, jangan pernah pedulikan aku lagi. Aku tidak pantas melanjutkan hidupku setelah apa yang sudah ku perbuat kepada istriku!" teriak Sagara penuh amarah, mengusir ibunya dari kamar.


Sejak saat itu Rima tidak pernah lagi mengatakan apapun kepada Sagara, membiarkan anaknya itu melalukan apapun yang dia sukai.


"Ayo Sagara, Papa tahu kau mendengarkan Papa," ucap Aditya mendapati putranya itu kembali menutup mata. Dia benci siapapun mengintervensi hidupnya.

__ADS_1


Aditya Sudah duduk di tepi ranjang menunggu Sagara bangun. Merasa tidak punya ruang untuk menolak, Sagara akhirnya bangun, mendudukkan dirinya.


"Papa mau apa?" tanyanya lemah, mengusap wajahnya dengan kedua tangan.


"Besok kita harus ke mencari informasi ke rumah sakit tentang riwayat kematian Amora, sekaligus mendatangi makamnya."


Sagara berubah serius. Semua tentang Amora sangat berarti baginya.


"Kita mau apa ke sana, Pa? Apa lagi yang harus kita cari tahu, Amora sudah tidak ada!" jawab Sagara ketus.


"Papa hanya ingin memastikan bahwa pernyataan dokter yang mengatakan bahwa adanya kesengajaan untuk menghilangkan nyawa Amora terbukti. Hasil dari riwayat kematiannya, di dalam tubuh Amora terdapat dosis obat yang terlalu tinggi yang menjadi penyebab Amora meninggal."


Mata Sagara membola mendengar penuturan dari ayahnya. Selama ini dia berpikir bahwa dirinyalah yang bertanggung jawab atas kematian Amora. Dia yang membunuh gadis itu, tapi kenyataannya ada orang lain yang memang menginginkan kematian Amora dan hal itu dilakukan dengan sengaja.


Sagara mengepalkan kedua tangannya menahan amarah yang seketika menjalar ke ruang hatinya.

__ADS_1


BERSAMBUNG ....


__ADS_2