DERITA CINTA AMORA

DERITA CINTA AMORA
KEMARAHAN ADITYA


__ADS_3

Aditya segera memasuki rumah begitu mobil yang menjemputnya di bandara memasuki halaman rumah mereka. Pikirannya kacau, begitu mendengar yang terjadi dia segera kembali ingin melihat keadaan Amora.


Mobil bergerak menuju rumah sakit, tapi di tengah perjalanan dia dihubungi oleh Rima yang menyampaikan bahwa Amora sudah tidak di rumah sakit lagi, setelah itu telepon ditutup. Aditya pikir kalau Amora sudah tidak di rumah sakit berarti sudah kembali ke rumah. Ada sedikit rasa lega karena beranggapan bahwa Amora sudah membaik.


Perasaan tidak bisa dibohongi rasa cemas dan khawatir terus menghantuinya sepanjang perjalanan.


"Mas, kamu sudah pulang?" sambut Rima dengan mengembangkan senyum, tapi seketika senyum itu berubah dengan kecemasan. Dia ingat bahwa apa yang sudah terjadi akan membuat dirinya dalam masalah dan mungkin kali ini Aditya tidak akan bisa memaafkannya.


"Di mana Amora? Aku ingin bertemu dengannya," ucap Aditya melewati Rima menuju kamar Amora dan Sagara.


"Dia ...."


Kalimat Rima menggantung tepat saat di anak tangga kedua. Laura keluar dari kamarnya karena mendengar keributan. Dia sudah bisa menebak bahwa Aditya lah yang pulang. Dia ingin melihat bagaimana kelanjutan permainan ini.


Awalnya Laura sempat berpikir untuk tetap di kamarnya saja memberikan tanggung jawab itu kepada Rima, yang terpenting saat ini dia sudah aman memiliki Sagara, dan urusan Aditya biarlah itu menjadi kesusahan Rima sendiri.


Dia terus berjalan tidak mengatakan apapun pada Laura yang menatapnya cemas sampai kesadaran Rima kembali. Rima pun menyusul suaminya dan berhasil menggapai tangan Aditya di tangga keempat.

__ADS_1


"Amora tidak ada di kamarnya." Hanya kalimat itu yang bisa Rima keluarkan dari bibirnya.


"Tidak ada di kamarnya? Ke mana dia?" tanya Aditya masih berusaha berpikiran positif. Mungkin maksud istrinya saat ini mantunya sedang berada di dapur.


Menantunya adalah gadis yang rajin yang selalu melakukan pekerjaan rumah tangga. Selama ini yang tidak Aditya ketahui seluruhnya, bahwa semua itu merupakan perintah dari istrinya yang setiap saat membuat Amora tidak pernah berhenti sedetikpun untuk beristirahat.


"Dia ... Dia ...," Rima tidak sanggup meneruskan kalimatnya. Kalau bisa diibaratkan wanita itu sudah seperti sedang menelan racun dan kini bersarang di tenggorokannya. Ingin dimuntahkan tapi tidak bisa, ditelan takut mati.


"Amora sudah meninggal Om," putus Laura memberitahukan Aditya. Dia gemas melihat Rima yang penuh ketakutan kalau partner in crimenya begitu lemah seperti Rima, bisa-bisa mereka berdua dalam bahaya.


Rima terjebak lagi dalam kesusahannya sendiri, harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka sendirian, padahal yang melakukannya berdua bersama Laura.


"Benar, Mas. Laura sudah meninggal kemarin," jawabnya takut, menunggu reaksi Aditya Rima bahkan sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi.


Sorot mata Aditya begitu mengerikan, dadanya terasa sesak mendengar kabar duka itu. Apa yang sudah terjadi dalam keluarganya seminggu ini? Mengapa sampai menantunya itu meninggal?


"Bukankah kau mengatakan bahwa dia hanya demam biasa, mengapa dia bisa sampai meninggal?" suara Aditya begitu tertahan, jelas terlihat bahwa pria itu menahan diri untuk tidak menyakiti Rima baik fisik maupun dengan ucapannya. Perasaannya mengatakan bahwa ada andil Rima dan juga Laura atas meninggalnya Amora.

__ADS_1


Rima mundur dari depan Aditya, hanya untuk berjaga-jaga kalau suaminya itu sampai nekat untuk memukulnya. Beberapa kali ketangkap basah saat dia menyiksa Amora dengan pekerjaan yang berat, pasti membuat suaminya itu berpikir bahwa orang yang mencelakai Amora adalah dirinya.


Aditya terlalu menyukai calon cucunya hingga membuat rasa sayangnya timbul kepada Amora dan kini harapannya untuk bisa melihat cucu mereka pun harus kandas dengan kepergian Amora.


"Me-memang hanya demam pada awalnya, tapi ternyata dua hari terakhir dia pendarahan dan pada akhirnya ... meninggal," terang Rima meremas jemarinya. Situasinya saat ini sangat tidak mengenakkan.


"Apa kau ada hubungannya dengan kematian Amora?" hardik Aditya mengepal tinju di sisi tubuhnya.


"Mas! Kamu bicara apa, sih? Mana mungkin aku mencelakai Amora? Walaupun aku tidak menyukainya, tapi dia mengandung cucu kita jadi tidak mungkin aku mencelakainya. Kalau aku mencelakainya itu sama saja aku juga mencelakai anak yang dalam kandungannya!" jawab Rima mencari alibi. Semoga sama pembenarannya dipercaya Aditya.


Namun, Aditya yang tidak percaya segera meraih leher Rima. Dorongan untuk mencekik Rima sangat besar. Dia tahu saat ini istrinya itu sedang berbohong. Tiga puluh tahun lebih hidup berumah tangga bersama Rima membuatnya tahu kalau saat ini istri itu sedang berbohong.


"Ma-aaaas, lepaskan aku," pintanya memohon dengan suara tercekat. Cengkraman tangan Aditya di lehernya semakin mengencang hingga membuat air mata Rima keluar di sudut matanya.


"Aku tahu, kamu pasti yang sudah mencelakai Amora. Kamu yang membunuh calon cucu kita!"


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


__ADS_2