
"Bu, kita harus membuat sandiwara untuk menguburkan Amora. Untuk berjaga-jaga seandainya suami dan keluarga Amora datang," ucap Dewa pada Ibu Mawar.
"Kamu benar, Nak. Tapi jika ibu yang pergi ke panti, siapa yang akan menjaga Amora?" Ibu Mawar menatap pemuda tampan di hadapannya.
"Saya akan menugaskan seorang dokter untuk menjaga Amora sementara. Ibu bisa pulang bersama saya ke panti. Kalau bisa, jangan sampai orang panti curiga kalau kita membuat makam palsu. Saya akan menyuruh orang-orang saya untuk membantu ibu."
"Baiklah! Saya serahkan semua sama Nak Dewa. Buat saya, kesembuhan Amora adalah yang utama." Ibu Mawar menghapus air matanya. Baginya Amora selamat dari maut saja sudah cukup.
Wanita baya itu hanya bisa pasrah. Apapun yang akan dilakukan oleh Dewa, selagi itu untuk kebaikan Amora, dia akan menurut. Jika benar suami dan mertua Amora yang menyebabkan Amora terluka hingga mengalami mati suri, itu berarti, jalan satu-satunya untuk melindungi Amora adalah dengan jalan menutupi kebenaran.
Suami dan keluarganya tetap harus mengira kalau Amora sudah meninggal dunia.
"Keselamatan dan kesehatan Amora saat ini lebih penting. Kita harus menjauhkan Amora dari orang-orang yang akan mengancam jiwanya untuk kedua kali," Dewa kembali berucap sambil menatap Ibu Mawar.
"Sebagai ibunya, Ibu Mawar pasti tidak ingin melihat putri Ibu kembali menderita bukan?"
"Tentu saja tidak! Amora adalah putriku yang paling berharga. Seandainya saya tahu dari awal kalau dia tidak pernah bahagia Saya pasti sudah lama mengambil kembali Amora dari mereka. Saya benar-benar tidak rela mereka memperlakukan Amora seperti itu." Tangan keriput Ibu Mawar mengepal.
__ADS_1
Sebagai seorang ibu yang merawat dan membesarkan Amora, dia sungguh tidak terima Amora menderita sampai akhirnya gadis itu meninggal dunia. Beruntung, Tuhan kembali memberikan kesempatan pada Amora untuk kembali bernapas.
***
Dewa menatap Amora yang kini menatapnya. Wanita itu masih berbaring karena tubuhnya terasa sakit terutama tubuh bagian perutnya.
Amora masih di ruang perawatan. Rencananya, dua jam lagi wanita itu akan dipindahkan di ruang rawat inap karena keadaannya semakin membaik.
"Aku ingin kamu tetap berpura-pura mati," ucap Dewa yang diangguki oleh Amora.
Dewa juga mengungkapkan apa alasan dia ingin membunyikan kenyataan kalau Amora masih hidup.
"Aku hanya ingin mengungkap kejahatan mereka. Kamu tidak keberatan aku membantumu untuk mendapatkan keadilan bukan? Semua orang yang sudah menyiksamu dan berniat melenyapkanmu harus mendapatkan hukuman. Paling tidak, mereka harus mendapatkan ganjaran atas perbuatan yang mereka lakukan padamu," ucap Dewa panjang lebar membuat Amora meneteskan air mata.
"Kamu setuju dengan rencanaku untuk menghukum mereka?" Dewa menatap wajah pucat Amora yang mengangguk.
Rasa iba seketika mengalir ke hatinya. Bagaimana ada orang yang begitu biadab melakukan hal kejam melenyapkan seseorang dalam keadaan hamil? Amora bahkan terlebih dahulu kehilangan bayinya sebelum akhirnya dia dinyatakan meninggal dunia.
__ADS_1
Hati kecil Dewa tersentuh dengan apa yang dialami oleh Amora. Apalagi, saat dia mendengar laporan dari orang-orangnya yang menyelidiki tentang Amora dan kehidupan gadis itu sebelum dinyatakan meninggal.
Dewa semakin marah saat mendengar kalau Amora juga terdeteksi mengalami kekerasan seksual sebelum akhirnya pendarahan dan mengakibatkan janinnya tidak bisa tertolong lagi.
"Aku akan membantumu mencari bukti kejahatan orang-orang yang telah menyiksamu. Mereka semua harus mendapatkan hukuman karena telah menyakitimu. Kamu bisa melaporkan mereka ke polisi jika aku sudah mendapatkan bukti yang kuat untuk menyeret mereka ke penjara."
Amora semakin menangis mendengar ucapan Dewa. Perempuan itu perlahan mengepalkan kedua tangannya.
"Aku dan orang-orangku sudah menyiapkan pemakaman palsumu. Setelah ini aku dan Ibu Mawar akan pulang ke panti sebentar. Setelah acara pemakaman selesai aku dan Ibu Mawar langsung kembali ke sini." Amora kembali mengangguk mendengar penjelasan Dewa.
"Aku juga sudah menyiapkan dokter pribadiku untuk memantau dan menjagamu di sini selama aku dan Ibu Mawar pergi ke panti. Aku pergi dulu."
Amora mengangguk. Bibir pucatnya bergerak pelan.
"Terima kasih, Dewa."
BERSAMBUNG ....
__ADS_1