DERITA CINTA AMORA

DERITA CINTA AMORA
RENCANA PERTEMUAN


__ADS_3

Setelah Dewa mempertemukan Amora dengan kedua orang tuanya, perempuan itu mendadak tidak percaya diri. Melihat sikap ibunya Dewa mengingatkan Amora pada ibu mertuanya.


Kejahatan Rima dan Laura yang membuatnya mati suri terlintas di kepalanya.


"Setelah penderitaan yang aku lewati di masa lalu, apa aku harus mengalaminya lagi dengan orang yang baru? Aku memang menyukai Dewa, tapi, seandainya ibunya Dewa seperti Ibu Rima, aku akan berpikir panjang untuk menjalin hubungan dengan Dewa. Aku tidak ingin lagi terperangkap dalam penderitaan seperti dulu," batin Amora.


****


Beberapa waktu berlalu. Kehidupan Amora semakin hari semakin baik. Amora benar-benar berubah sangat cantik dan menjadi idola semua orang.


Amora yang dulu berbeda seratus delapan puluh derajat dari Amora yang sekarang. Setelah berubah menjadi Freya, penampilan Amora seperti anak-anak orang kaya lainnya.


Mobil mewah, penampilan modis dan wajah cantik yang tak lepas dari makeup.


Bedanya, Amora tidak seperti teman-teman yang lain yang hanya bisa menghabiskan uang keluarganya untuk berfoya-foya. Amora tetap menjadi gadis baik. Tidak terjerumus pergaulan bebas apalagi dunia malam.


Setelah Amora merasa mandiri, Rania kembali ke Surabaya karena merasa tidak tega dengan Dirga yang harus bolak-balik ke ibukota hanya untuk bertemu dengan putri tercintanya.


Namun, setelah sekian waktu berlalu, Dirgantara corp, perusahaan besar milik Dirga membuka perusahaan baru di Jakarta.

__ADS_1


Setelah sukses di Surabaya, Dirga ingin mengembangkan sayap di Jakarta. Selain itu, Dirga sengaja mendirikan perusahaan di ibukota karena dia dan sang istri ingin tinggal di Jakarta bersama Amora.


Dirga dan Rania tidak ingin membuang waktu berharga mereka bersama Amora. Cukup sudah mereka kehilangan Amora bertahun-tahun. Mereka tidak mau kehilangan Amora lagi hanya karena perusahaan Dirga di Surabaya dan Amora tinggal di Jakarta.


Mereka ingin hidup bersama dan berkumpul bersama dengan putri mereka satu-satunya.


"Minggu ini papa akan mengadakan pesta di hotel untuk merayakan berdirinya anak perusahaan papa di Jakarta. Sekalian, papa ingin mengenalkan putri cantik papa pada dunia." Dirga menatap Amora yang mengembangkan senyumnya saat mendengar ucapan sang papa.


Amora memeluk Dirga. Dia benar-benar merasa beruntung mempunyai ayah seperti Dirga.


"Apa Papa akan mengundang mereka?"


"Sepertinya memang sudah saatnya aku bertemu dengan mereka, Pa. Aku sudah siap. Sudah lama aku menantikan ini, Pa. Aku sudah tidak sabar memberikan hadiah untuk mereka." Amora menatap Dirga dan Rania secara bergantian.


"Papa sudah bicara dengan Dewa. Nanti dia yang akan mengatur pertemuanmu dengan mereka." Amora mengangguk setuju. Namun, wajah Amora terlihat cemberut.


"Kenapa, Sayang? Kamu tampak tidak senang mendengar Papa menyuruh Dewa? Apa kalian berdua sedang ada masalah? Mama lihat, akhir-akhir ini juga Dewa tidak pernah mampir ke rumah." Rania merasa penasaran.


"Bukan begitu, Ma. Aku tidak sedang ada masalah sama dia. Hanya saja, saat Dewa mengenalkan aku pada kedua orang tuanya, ibunya Dewa sepertinya tidak menyukai aku."

__ADS_1


"Benarkah?" Rania dan Dirga merasa terkejut.


"Tapi, bukankah itu bagus?" tutur Amora.


"Apanya yang bagus?" Rania menatap putrinya tak mengerti.


"Ma, suka atau tidak, status aku saat ini masih istri sah Sagara. Kami belum bercerai. Secara hukum, kita masih sah suami istri."


Dirga dan Rania membenarkan ucapan Amora.


"Kamu benar, Freya. Secara hukum, kamu masih istri dari Sagara," ucap Dirga.


"Aku tidak mau menjalin hubungan dengan pria lain sementara aku masih menjadi istri orang.


Lagipula, ibunya terlihat tidak menyukai aku."


"Aku tidak mungkin mengulang masa laluku mempunyai ibu mertua kejam yang menyiksaku dan membuatku mengalami mati suri."


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


__ADS_2