
"Bu, ada tamu di luar." Info salah satu anak panti mendatangi Bu Mawar yang saat ini tengah sibuk menyortir pakaian bekas yang baru saja tiba dari donatur tanpa nama. Baju itu akan dicuci kembali sebelum dibagikan pada anak-anak panti nantinya.
Di panti asuhan itu, Ibu Mawar dibantu oleh menantunya. Menantu yang kini sudah menjanda karena suaminya meninggal dunia.
Ibu Mawar sudah meminta Anggraini untuk kembali pulang ke kotanya. Menurut Bu Mawar, wanita itu masih muda, punya hak untuk menata kembali hidupnya, tetapi, Anggraini menolaknya.
Wanita itu adalah wanita yang baik, dia memilih tetap di sisi Ibu Mawar, merawat sang mertua dan juga anak tunggalnya.
"Kalian persilakan tamu itu masuk ke kantor ibu. Suguhkan minum, ingat, yang sopan," ucapnya mengingatkan.
"Baik, Bu."
Ibu Mawar kemudian mencuci tangan dan merapikan pakaiannya. Dia menebak mungkin itu donatur yang biasa datang memberikan bantuan ke panti miliknya.
Ibu Mawar sangat bersyukur, masih ada orang yang mau membantu walaupun tidak banyak. Pasalnya Panti ini susah untuk ditemukan keberadaannya.
Panti asuhan miliknya terletak di desa kecil, dan bangunannya juga seperti layaknya rumah pedesaan. Orang tidak akan menduga kalau itu adalah bangunan panti asuhan.
__ADS_1
Sepeninggal suaminya, Ibu Mawar memutuskan untuk menjadikan rumah itu menjadi panti asuhan. Dia bersama putranya yang saat itu masih kecil, mengelola panti itu hingga putranya menikah pun, tetap tinggal di panti bersama istri dan anaknya.
Sedikit orang yang membantu, tidak membuatmu Ibu Mawar putus asa dalam membesarkan dan merawat anak-anak yang terbuang. Wanita itu memiliki sedikit lahan di belakang panti yang bisa ia olah dengan menanami berbagai jenis tanaman yang bisa dijual ke pasar untuk memenuhi kebutuhan anak-anak di sana.
Kebanyakan anak-anak tidak berdosa itu dibuang di sekitar daerah tempat tinggalnya. Ada yang ditemukan di dekat perumahan warga, ada juga yang dibuang di dekat tempat pembuangan sampah umum. Setiap anak yang ditemukan para warga desa pasti akan dibawa ke panti asuhan milik Ibu Mawar.
Sebenarnya apa salah anak-anak itu? Mengapa para orang tua tega membuang anaknya? Padahal mereka adalah darah daging mereka sendiri.
Bahkan ada anak yang baru dilahirkan ke dunia yang masih merah, ditemukan di tempat pembuangan sampah. Ada juga yang ditinggal orang tuanya dengan sengaja di dekat alun-alun desa.
Saat itu gerimis datang, salah satu warga membawanya ke panti asuhan Ibu Mawar. Anak berusia empat tahun itu menangis meminta bertemu dengan orang tuanya.
Ibu mawar sudah berusaha untuk meminta para warga membuat pengumuman, siapa tahu bisa menemukan orang tua Amora. Akan tetapi, bertahun-tahun berlalu, usaha minim itu tidak membuahkan hasil.
Bu Mawar 'lah yang memberikan nama Amora pada gadis kecil itu. Kala itu, Amora memakai gaun dengan bertuliskan kata Amour yang berasal dari bahasa Perancis di dadanya, lengkap dengan setangkai mawar, seolah Amora dan Ibu Mawar memang berjodoh.
"Selamat pagi, Bu, Pak," sapa Ibu mawar pada kedua tamunya itu.
__ADS_1
Dengan senyum cerah, pasangan suami istri itu mengulurkan tangan kepada Ibu Mawar yang disambut dengan penuh hormat oleh wanita paruh baya itu.
"Selamat pagi, Bu. Perkenalkan saya Dirga Suseno, dan ini istri saya, Rania Suseno," ucap pria itu penuh semangat.
"Senang bertemu dengan Bapak dan Ibu. Silakan duduk," jawab Ibu Mawar dengan sopan. "Ada yang bisa saya bantu?"
"Oh, Maaf sebelumnya jika kedatangan kami mengganggu waktu ibu. Kami ingin mencari seorang anak," ucap Dirga cepat.
Perasaan bergemuruh menjalari hatinya. Dia sangat yakin kalau anak yang dicari mereka ada di panti ini. Data sudah dikantongi, dan mudah-mudahan mereka belum terlambat.
"Anak? Bapak dan Ibu ingin mengadopsi seorang anak dari panti ini?" tanya Ibu Mawar memperjelas. Bukan hal baru lagi, sudah banyak anak-anak dari panti asuhan ini yang diadopsi oleh orang baik.
"Bu-bukan, Bu. Kamu datang mencari anak ini," sambar Rania mengeluarkan foto yang sejak tadi ia pegang. Selembar foto itu tergeletak di atas meja. Ibu Mawar yang mengamatinya hanya bisa melotot dengan menutup mulutnya yang sempat terbuka karena keterkejutannya.
"Ini ...."
BERSAMBUNG ....
__ADS_1