
Rima berteriak sambil menunjuk-nunjuk ke arah Amora.
"Perempuan itu telah mendorong Laura dari tangga hingga mengalami pendarahan. Aku tidak sudi mempunyai menantu apalagi cucu dari wanita licik seperti dia!" Rima kembali berteriak.
Sementara itu, Aditya menggeram marah. Saat di depan tadi, ia sempat bertemu dengan Sagara yang sudah bersiap melajukan mobilnya ke rumah sakit. Putranya terlihat panik dan marah. Saat dirinya bertanya ada apa. Sagara berteriak marah dengan mengatakan kalau Amora sudah mendorong Laura dari atas tangga.
Aditya terkejut, tetapi, pria paruh baya itu tentu saja tidak mempercayai begitu saja ucapan Sagara. Keterkejutannya Aditya bertambah saat melihat sang istri justru sedang memarahi menantunya dan hampir saja membuat Amora terjatuh membentur meja.
"Aku tidak melakukannya, Pa. Laura menjatuhkan dirinya sendiri untuk menjebakku. Dia tahu Sagara akan datang karena itu dia berpura-pura jatuh untuk mendapatkan perhatian Sagara, Pa. Aku sungguh tidak menyangka kalau Laura nekad membahayakan dirinya sendiri hanya demi mendapatkan perhatian suamiku," jelas Amora. Wanita hamil itu memegangi bekas tamparan Rima di pipi sebelah kanannya.
"Bohong! Dasar wanita tidak tahu diri! Laura tidak akan mempertaruhkan nyawanya sendiri hanya untuk mendapatkan perhatian Sagara. Dia tidak mungkin melakukan hal licik seperti yang kamu tuduhkan!" Rima kembali berteriak.
Sebenarnya, dalam hati ia merasa bimbang. Dia tidak ingin mempercayai apa yang dikatakan Amora, tetapi, melihat perkataan Amora yang sungguh-sungguh membuat Rumah sedikit dilema.
Benarkah Laura senekat itu?
"Terserah Ibu mau percaya atau tidak, yang jelas, aku benar-benar tidak mendorong Laura. Dia sendiri yang menjatuhkan dirinya sendiri!" Amora kehilangan kesabaran. Wanita itu ikut berteriak di depan Rima.
"Laura tidak mungkin melakukannya. Dia adalah gadis baik-baik!"
"Ibu jangan lupa, kemarin dia bahkan hampir saja membuatku mati karena mendorongku ke kolam renang!" sarkas Amora membuat Aditya terkejut.
"Dia yang membuatmu tenggelam kemarin?" tanya Aditya pada Amora dengan wajah terkejut.
"Jadi, Sagara berbohong?" batin Aditya.
__ADS_1
"Laura tidak tahu kalau kau tidak bisa berenang, Amora! Lagipula, dia tidak sengaja mendorongmu ke kolam!" Rima menatap tajam ke arah Amora saat melihat kemarahan Aditya.
"Tidak tahu aku tidak bisa berenang? Sebelum Ibu menyuruhku membersihkan kolam renang, aku jelas-jelas mengatakan pada Ibu kalau aku tidak bisa berenang, Laura juga mengetahuinya, Bu!" Amora terus membela diri.
Rima mengepalkan kedua tangannya menahan amarah yang memenuhi dadanya. Rima bersumpah akan membuat perhitungan dengan Amora jika Aditya sampai mengetahui kebohongannya.
"Papa akan kembali mencaritahu tentang kejadian kemarin. Kalau terbukti kalian berdua bersalah, aku akan menghukummu dan Laura!"
"Mas! Laura baru saja dibawa ke rumah sakit karena jatuh dari tangga, kenapa kamu justru mengatakan ingin menghukumnya?" Rima tidak terima.
"Aku akan mencari bukti, apa Amora benar-benar mendorong Laura sampai jatuh atau tidak. Jika Amora terbukti bersalah, aku juga akan menghukum Amora. Tapi, jika ucapan Amora ternyata benar, aku tidak akan segan-segan menyeret perempuan itu keluar dari rumah ini!
"Papa!" Rima melotot ke arah suaminya.
***
Laura ... Sampai sekarang Amora masih merasa tidak percaya dengan apa yang dilakukan wanita itu.
Sampai sekarang, Amora belum tahu keadaan Laura pasca jatuh dari tangga. Ibu mertuanya menyusul ke rumah sakit seusai memarahinya dan sampai sekarang dia belum kembali. Begitupun dengan Sagara. Lelaki itu sampai sekarang bahkan tidak menghubunginya sama sekali.
Amora sangat yakin kalau pria itu pasti sangat marah padanya. Amora tersentak kaget dari lamunannya saat terdengar suara pintu yang dibuka dengan kasar.
Sosok pria yang baru saja dipikirkannya terlihat di depan pintu. Wajah tampannya terlihat menyeramkan. Sagara menutup pintu dengan keras kemudian mendekati Amora yang meringkuk di atas ranjang saat melihat aura dingin Sagara.
"Kau asyik-asyikkan berbaring di tempat tidur, sementara Laura sampai sekarang belum sadarkan diri di rumah sakit. Kau benar-benar tidak punya hati!" Sagara menatap tajam ke arah Amora. Tangannya mencengkeram leher Amora dan mencekiknya.
__ADS_1
"Sepertinya, aku terlalu berbaik hati padamu akhir-akhir ini." Sagara melepaskan cengkraman tangannya dengan kasar.
Amora terbatuk sambil memegangi tenggorokannya yang terasa sakit. Namun, belum sempat wanita itu mengambil napas, Sagara sudah menamparnya hingga membuatnya terjatuh di atas tempat tidur.
Plak!
Suara tamparan kembali terdengar. Sagara tanpa ampun kembali menampar pipi Amora. Lelaki itu dipenuhi oleh amarah. Ia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bagaimana Amora tega mendorong Laura?
"Kenapa kau mendorong Laura?" teriak Sagara penuh amarah.
"Aku tidak mendorongnya!" jawab Amora tanpa takut. Kedua matanya yang berkaca-kaca menatap Sagara tanpa rasa takut.
"Kau masih menyangkal?" Sagara mencengkeram dagu Amora.
"Meskipun kau membunuhku, aku tidak akan mengakui perbuatan yang tidak pernah aku lakukan. Aku tidak mendorongnya!"
Plak!
Sebuah tamparan kembali melayang di pipi Amora. Wajah Amora terlempar ke samping, darah segar mengalir pada sudut bibirnya.
"Aku melihatmu mendorongnya, tapi kau bersikeras menyangkalnya? Amora! Apa kau pikir aku ini buta?"
"Kalau kau tidak buta, kau pasti bisa melihat kalau aku tidak mendorongnya. Kekasihmu, demi cintanya padamu bahkan rela memfitnahku. Aku sungguh salut dengan keberaniannya yang rela terluka dengan menjatuhkan dirinya sendiri hanya demi mendapatkan perhatianmu!"
BERSAMBUNG ....
__ADS_1