
"Saya ingin bertemu dengan Amora! Saya tidak percaya kalau dia meninggalkan saya begitu saja!" Sagara berteriak dengan kilat amarah di matanya. Dadanya terbakar, dalam hidupnya, dia tidak pernah merasa semarah ini.
Hatinya berdenyut sakit mendengar ucapan dokter yang mengatakan kalau Amora sudah meninggal. Jantungnya serasa diremas-remas membayangkan wanita itu benar-benar sudah meninggalkan dunia ini.
Saga ingin marah, tapi dia tidak tahu harus marah pada siapa. Marah pada dokter yang tidak berhasil menyelamatkan Amora? Atau pada dirinya yang malam itu seperti setan sudah mencelakai Amora?
Atau mungkin saja pada ibunya yang sudah menciptakan neraka bagi Amora selama tinggal bersama mereka? Atau mungkin ini kesalahan ayahnya, kalau saja tidak memaksa untuk menikah dengan Amora, mungkin gadis tidak berdosa itu akan masih ada di dunia ini.
Semua pemikiran itu silih berganti datang menghantam naluri Sagara. Jiwanya seolah meronta tidak terima akan kepergian Amora yang secepat ini. Dia tidak yakin di dalam hatinya sudah ada cinta untuk Amora, tapi satu yang pasti dia tidak mau kehilangan gadis itu. Mungkin tanpa disadarinya, separuh jiwanya sudah tinggal di dalam diri gadis itu.
Dokter kembali menepuk punggungnya seperti pertama kali Sagara menanyai keadaan Amora tadi, setelahnya berlalu meninggalkan Sagara dengan kepedihan dan air matanya yang kini mulai mengucur di pipi.
Sekali turun, Sagara langsung menghapus dengan punggung tangannya. Rasanya dia benci harus menjadi cengeng saat ini, dia harusnya kuat karena dia yakin Amora baik-baik saja.
Namun, lagi-lagi akal sehatnya membentur semua keyakinan di hatinya. Dokter sudah memberikan pernyataan bahwa Amora sudah meninggal, dan itu tidak mungkin terbantahkan. Kini salah seorang perawat memanggilnya untuk melihat keadaan Amora.
Kakinya seperti terpaku hingga ke dasar lantai, tidak bisa bergerak, membeku dan ulu hatinya begitu sakit. Namun, wajah Amora yang bermain di pelupuk matanya memaksa dirinya untuk menyeret langkahnya masuk ke dalam ruangan itu.
__ADS_1
Rima dan Laura yang sejak tadi saling berpegangan, terkejut dengan berita yang disampaikan sang dokter, ikut menemani Sagara masuk ke dalam ruangan itu. Mereka ingin memastikan bahwa Amora benar-benar sudah tiada.
Manusia manapun akan merasa sedih ketika mendengar kabar duka, meskipun berita duka itu bukan dari orang yang tidak dikenal. Apalagi, jika duka itu datang dari orang yang jelas-jelas kita kenal. Kita pasti akan merasakan sedih jika orang yang kita kenal pergi menghadap Sang Kuasa.
Akan tetapi, semua itu tidak berlaku untuk Laura. Gadis itu berbeda, tidak ada tersirat kesedihan apapun dalam dirinya saat mendengar kematian Amora. Dia justru merasa gembira saat mendengar kalau Amora tidak lagi bernyawa.
"Akhirnya perjuanganku tidak sia-sia. Tidak ada lagi yang menjadi penghalang untuk aku bisa bersatu dengan Sagara," batin Laura.
Wanita itu ingin mengembangkan senyum di bibir, tetapi, takut ada orang lain yang melihat dan beranggapan bahwa dirinya bergembira di atas kematian Amora.
"Laura, bagaimana ini? Tante benar-benar takut," ucap Rima yang tidak mau melepaskan genggaman tangannya dari Laura, seolah dia tidak bisa menghadapi kenyataan ini seorang diri.
Rima merasa bersalah. Rasa penyesalan juga terus menghantui dirinya, tetapi, apa gunanya? Bukankah penyesalan selalu datang terlambat? Dan kini terlambat sudah untuk Rima membatalkan keinginannya untuk menghabisi Amora.
"Tante tenang saja, yang penting tujuan kita sudah tercapai sekarang. Yang perlu kita lakukan adalah pura-pura berduka untuk kepergian Amora agar semua orang percaya bahwa kita juga merasa sedih karena ditinggal oleh Amora. Dengan begitu, tidak ada yang curiga bahwa kitalah yang menyebabkan Amora kehilangan anaknya sekaligus yang membunuhnya," bisik Laura mencoba menenangkan Rima. Dia kesal terhadap wanita itu karena hatinya bimbang dan plin-plan.
Sagara menatap wajah pucat Amora yang terbaring di atas brankar. Wajah wanita itu seputih kapas. Namun, tidak mengurangi kecantikannya.
__ADS_1
Kedua mata Amora tertutup, bibirnya yang putih pucat terkatup. Hati Sagara berdenyut sakit. Dadanya terasa sesak. Dia sungguh tidak menyangka kalau Amora akan berakhir seperti ini.
Tidak! Dia sungguh tidak terima wanita itu meninggalkannya.
"Amora." Sagara menempelkan jarinya pada hidung Amora. Meyakinkan diri kalau wanita itu masih bernapas. Namun, hasilnya nihil. Tidak ada deru napas yang terasa pada jarinya.
Lelaki itu kemudian mendekat ke arah dada Amora. Menempelkan telinganya di sana. Siapa tahu detak jantung Amora masih terdengar seperti biasanya. Namun, sekali lagi, Sagara tidak mendengar apapun.
Lelaki itu kemudian memeluk Amora dengan rasa sakit di hatinya. Tidak ingin mempercayai, tetapi, kenyataannya itulah yang terjadi. Amora meninggalkannya. Amora benar-benar meninggalkan dunia ini.
"Amora."
"Amora." Sagara terisak. Bibirnya menciumi wajah pucat Amora. Perempuan yang beberapa bulan ini menjadi istrinya itu kini terbujur kaku dan berhenti bernapas.
"Amora ...." Beribu kata maaf dan penyesalan tertahan di tenggorokan Sagara. Pria itu hanya bisa mengungkapkan kata-kata maaf itu dalam hati.
Air matanya menetes seiring rasa sakit di hatinya. Dia selalu mengatakan kalau dirinya sangat membenci Amora, tetapi, kenapa hatinya terasa sakit saat wanita itu meninggalkannya untuk selamanya?
__ADS_1
BERSAMBUNG ....