DERITA CINTA AMORA

DERITA CINTA AMORA
BERPURA-PURA BAIK


__ADS_3

Malam itu, Sagara benar-benar merawat Amora dengan baik. Lelaki itu tertidur sambil memeluk Amora dengan erat.


"Kau harus bisa menjaga dirimu dengan baik. Jangan sampai sakit lagi. Apa kau mengerti?" Sagara kembali mengucapkan kalimat itu untuk Amora yang saat itu hanya mengangguk dalam pelukannya.


"Kalau ibu dan kekasihmu tidak menggangguku, aku juga pasti akan baik-baik saja," batin Amora.


***


Pagi itu, mereka sarapan bersama. Laura dan Rima tersenyum manis pada Amora yang baru saja datang bersama Sagara.


Laura bahkan terlihat seperti seorang yang baik hati membantu Amora menarik kursi dan mempersilakan wanita itu duduk.


Amora hanya menatap Laura sekilas. Sudah beberapa hari berlalu semenjak dirinya sembuh dari demam, wanita ular itu bersikap baik padanya. Begitupun sang ibu mertua.


Namun, Amora bukanlah wanita bodoh. Dia tahu, kalau dua orang itu hanya berpura-pura agar ia tidak buka mulut tentang keterlibatan mereka berdua saat kejadian di kolam renang yang menyebabkan Amora hampir mati tenggelam.


Sagara yang awalnya menyelidiki masalah tenggelamnya Amora pun akhirnya tidak lagi menindak lanjuti meskipun dia tahu kalau Laura dan ibunya terlibat. Sagara bahkan melihat dengan jelas saat Laura dengan sengaja mendorong Amora ke kolam. Mata-mata yang ia tugaskan memberikan rekaman video dalam ponselnya.


Sagara tidak lagi membahas masalah itu karena ia melihat Laura dan ibunya terlihat berubah. Mereka berdua bersikap begitu baik pada Amora hingga menyebabkan Sagara batal untuk menegur ibu dan kekasihnya karena merasa tidak enak.

__ADS_1


Sagara berpikir kalau apa yang dilakukan oleh Laura karena gadis itu merasa cemburu dan Sagara memakluminya. Ia bahkan lupa, bagaimana saat dirinya begitu panik melihat Amora yang hampir saja mengembuskan napas terakhirnya.


"Kamu makanlah yang banyak, Amora. Biar kandunganmu sehat. Mama minta maaf karena selama ini mama kurang perhatian sama kamu," ucap Rima. Wanita itu ikut bersandiwara seperti yang Laura lakukan.


Laura memang benar. Lebih baik berpura-pura baik saat ada Sagara dan Aditya agar rencana mereka untuk menyingkirkan Amora berjalan dengan lancar daripada terang-terangan tetapi, malah membuat Sagara dan Aditya marah.


"Terima kasih, Bu. Ini sudah cukup. Aku sudah kenyang." Amora tersenyum manis. Wanita itu ikut mempermainkan sandiwara mertuanya. Akan tetapi, ia tetap waspada jika suatu saat ibu mertuanya itu akan kembali menyerangnya.


Beberapa hari ini memang Rumah tidak mencari masalah dengannya. Rima juga tidak lagi menyuruhnya mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti biasanya.


Rima tersenyum mendengar ucapan Amora. "Baiklah, kalau kamu memang sudah merasa kenyang, mama tidak akan memaksamu lagi."


Biar bagaimanapun, Aditya tidak akan membiarkan Laura menikah dengan Sagara. Laki-laki paruh baya itu akan melakukan hal apapun untuk melindungi rumah tangga Amora dan Sagara.


Memang benar, Laura adalah gadis yang cantik dan terlihat baik. Sebelum ada Amora, Laura dan Sagara adalah pasangan yang hampir menikah. Akan tetapi, Aditya sungguh tidak rela jika Sagara benar-benar akan menceraikan Amora saat bayi itu lahir.


Bagaimanapun, cucunya membutuhkan orang tua yang lengkap. Dia tidak mau Sagara meninggalkan putranya hanya demi menikahi Laura.


Egois? Katakanlah Aditya memang egois. Tetapi, demi kebaikan Sagara, Aditya berjanji, akan melakukan apapun agar Sagara dan Amora tetap menjadi suami istri.

__ADS_1


Setelah sarapan pagi bersama, Amora mengantarkan Sagara ke depan rumah. Lelaki itu akan berangkat ke kampus, kemudian langsung berangkat ke kantor setelah jam kuliahnya selesai.


"Kemarilah!" Sagara yang sudah duduk di belakang kemudi menyuruh Amora masuk ke dalam mobil.


Meskipun merasa sedikit heran, Amora mengikuti keinginan suaminya. Amora masuk ke dalam mobil.


"Ada apa?"


"Kau lupa belum memberiku sesuatu."


"Sesuatu?" Amora mengerutkan keningnya.


Sagara tersenyum tipis kemudian tanpa basa-basi laki-laki itu mencium bibir Amora.


Amora yang tidak siap dengan serangan Sagara yang tiba-tiba merasa kaget. Namun, detik berikutnya wanita itu pun ikut terhanyut.


Sementara itu, tidak jauh dari mereka, Laura mengepalkan kedua tangannya.


"Brengsek! Sialan! Berani-beraninya kau merebut Sagara dariku."

__ADS_1


BERSAMBUNG ....


__ADS_2