
"Rimaa!"
"Rimaa!" Aditya berteriak seperti orang kesetanan memanggil istrinya. Suaranya menggema ke seluruh ruangan.
Asisten rumah tangga bernama Bi Asih, tergopoh-gopoh mendekati majikannya yang baru saja datang setelah beberapa hari pergi ke luar kota untuk urusan bisnis.
"Nyonya tidak ada di rumah, Tuan. Sudah tiga hari Nyonya tidak pulang ke rumah."
"Apa? Dia tidak ada di rumah?" Aditya yang sedang diliputi oleh amarah berteriak pada Bi Asih membuat perempuan berisi empat puluh lima tahun itu terlonjak kaget. Tubuhnya gemetar, merasa takut dengan kemarahan Aditya yang baru kali ini dilihatnya.
Seumur-umur Bi Asih bekerja di rumah itu, baru kali ini dia melihat majikan laki-lakinya itu begitu marah.
"Dasar wanita brengsek! Sialan, kau, Rima. Gara-gara kamu semua usahaku hancur. Semuanya hancur gara-gara wanita jahat itu!" Aditya meremas rambutnya kuat.
Laki-laki itu tidak menyangka, hanya dalam waktu kurang dua hari, perusahaan yang dirintisnya selama bertahun-tahun hancur di tangan Dirga.
Aditya sungguh tidak menyangka jika kedatangan Freya ternyata membawa bencana untuknya. Freya yang memang benar adalah Amora, kembali datang mendekati Sagara untuk membalas dendam.
Dirga dengan terang-terangan menghancurkan perusahaannya dengan alasan balas dendam karena dirinya sudah menyembunyikan kebenaran tentang kematian Amora.
Aditya menutupi kejahatan Rima dan Laura juga Sagara demi nama baik keluarganya. Aditya tidak ingin nama baik keluarganya hancur karena kasus percobaan pembunuhan yang dilakukan oleh Rima dan juga putranya.
Percobaan pembunuhan yang saat itu melibatkan Laura yang masih berstatus sebagai kekasih Sagara.
"Sialan, kau Rima! Gara-gara kamu dan anakmu, kini aku kehilangan segala-galanya." Aditya terduduk di sofa sambil menangis. Merenungi nasibnya yang justru hancur di saat dirinya ingin menikmati masa tuanya.
__ADS_1
"Aku akan mengembalikan semuanya seperti semula. Tapi, dengan satu syarat!" Kata-kata Dirga kembali terngiang di telinganya.
"Apapun syaratnya, aku akan memenuhinya, Dirga. Asal perusahaanku bisa kembali bangkit. Aku minta maaf karena aku bersikap egois membiarkan pelaku pembunuh Amora tetap berkeliaran tanpa mendapatkan hukuman. Tapi, percayalah! Aku sungguh sangat menyayangi Amora seperti putriku sendiri.
Pertama kali aku melihatnya, aku sudah menyayangi Amora. Semua yang terjadi padanya adalah kesalahanku karena aku tidak bisa menjaganya.
Seandainya saat itu aku tidak sedang ada urusan bisnis di luar negeri, aku pasti bisa melindungi Amora dari kejahatan Rima dan Laura. Aku sungguh-sungguh minta maaf dengan semua yang terjadi pada Amora." Aditya menatap Dirga dengan air mata yang mengalir di pipinya.
"Berikan semua bukti kejahatan Rima dan Laura, juga Sagara. Aku akan mengembalikan perusahaanmu jika kamu mau bekerja sama denganku." Dirga memberikan penawaran.
"Apa kau tahu, Rima bukan hanya membunuh anakku, tapi, dia juga dalang penculikan Freya saat Freya berusia empat tahun."
Kedua mata Aditya membola. "Jadi benar, dulu, Rima memang menculik anak itu?" batin Aditya tidak percaya.
Saat Aditya bertanya siapa gadis kecil itu, Rima menjawab kalau dia adalah anak dari temannya yang tinggal di Jakarta. Rima mengatakan kalau dia akan membawa anak kecil itu ke rumah ibunya di Jakarta. Saat itu, Rima baru saja pulang dari Surabaya, dan pulangnya membawa gadis kecil itu.
Aditya yang merasa curiga pada istrinya kemudian menyuruh orang untuk mengikuti kemana istrinya pergi. Lelaki itu merasa kaget saat mendengar kabar dari orang suruhannya kalau Rima membuang anak itu di jalanan.
Saat Aditya menyuruh orang suruhannya untuk mengambil anak itu, tiba-tiba ada beberapa warga yang datang dan membawa gadis kecil pergi.
"Aku akan memberikan apa yang kamu minta. Kamu benar, mereka semua harus mendapatkan hukuman atas perbuatan mereka agar mereka jera.
Maafkan aku karena selama ini aku egois demi nama baik dan harga diriku. Aku sampai tidak sadar, jika ada orang-orang yang ikut menderita karena perbuatanku." Aditya menatap Dirga dengan sungguh-sungguh.
Laki-laki itu sengaja tidak mengungkap tentang apa yang ia ketahui tentang penculikan itu. Biarlah! Nanti saja jika memang dibutuhkan, Aditya akan
__ADS_1
mengungkapkannya.
"Tuan, ada telepon untuk Tuan." Suara Bi Asih membuyarkan lamunan Aditya tentang Dirga yang telah menghancurkan perusahaannya.
"Dari siapa, Bi?"
"Dari kantor polisi," jawab Bi Asih dengan suara bergetar.
"Kantor polisi?" Aditya tampak kaget mendengar ucapan Bi Asih.
"Apa benar, ini dengan Pak Aditya, suami dari Ibu Rima?"
"Betul, Pak, saya Aditya. Apa ada yang bisa saya bantu?" Jantung Aditya berdetak kencang.
"Istri Anda, Ibu Rima, sudah dua hari ini berada di kantor polisi. Seseorang melaporkannya atas tuduhan penculikan dan percobaan pembunuhan. Bisakah Pak Aditya datang ke kantor untuk dimintai keterangan?"
Lutut Aditya terasa lemas. Telepon dalam genggamannya hampir saja terlepas.
"Saya akan datang dengan segera, Pak," ucap Aditya dengan gemetar.
Sambungan telepon terputus. Laki-laki paruh baya itu merosot ke lantai.
"Tuan Aditya!"
BERSAMBUNG ....
__ADS_1