
"Benarkah?" Kedua mata Rania berbinar. Wanita paruh baya itu begitu antusias saat mendengar ucapan Dirga.
Kabar ini adalah kabar yang sudah dinantikannya selama bertahun-tahun. Selain mencari Freya, Rania dan Dirga juga sudah dari dulu mencari orang yang menculik putrinya.
Tidak peduli meskipun mereka menghabiskan banyak uang untuk membayar orang yang bersedia mencari penculik Freya, yang jelas, mereka harus menemukan dalang penculikan putrinya.
Penculik itu telah menghancurkan kehidupan Freya dan membuat Dirga dan dirinya menderita selama bertahun-tahun. Rania dan suaminya tentu saja tidak akan melepaskan orang itu begitu saja.
"Siapa dia, Mas? Apa motif dia menculik Freya?"
"Aku tidak tahu apa motifnya menculik putri kita, aku juga tidak tahu apa kesalahan kita padanya sampai-sampai dia tega menculik Freya," ucap Dirga sambil mengembuskan napas panjang.
"Apa Mas Dirga mengenal orang itu? Siapa Mas? Katakan!" Rania tampak tidak sabar.
"Dia orang yang sama yang telah menyebabkan Freya menderita hingga mengalami mati suri." Dirga menatap sang istri yang tampak terkejut. Kedua mata lelaki itu berkaca-kaca.
Hatinya sangat sakit saat mengingat bagaimana menderitanya Freya saat menjadi istrinya Sagara.
__ADS_1
"Dia orang yang sama yang telah menyiksa putri kita? Apa dia, Rima?" Kedua mata Rania membola saat Dirga menganggukkan kepalanya.
"Ya, Tuhan ...." Rania tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
Bagaimana mungkin? Mengapa Rima tega menculik putrinya? Memangnya apa kesalahan Freya sampai perempuan itu tega menculik Freya kecil dan membuangnya sampai ke ibukota?
Bukankah saat itu Rima juga tidak pernah mengenal Freya? Perempuan itu menghilang setelah mengetahui rencana pernikahan Rania dengan Dirga.
Tunggu!
Apa jangan-jangan, dulu Rima menyukai Dirga? Apa perempuan itu sebenarnya tidak hanya menganggap Dirga sebagai sahabatnya melainkan sebagai seseorang yang disukainya melebihi seorang sahabat?
"Dia benar-benar keterlaluan, Mas. Kita harus membalas mereka semua. Bila perlu, kamu hancurkan saja perusahaan mereka. Buat mereka semua jadi gembel!" Rania mengepalkan kedua tangannya.
"Aku akan membalasmu dengan tanganku sendiri, Rima. Lihat saja nanti!" batin Rania.
"Aku akan memastikan kalau perusahaan Aditya akan hancur secara perlahan. Dia harus menanggung kesalahan yang telah diperbuat oleh istrinya." Dirga menatap ke arah Rania yang menganggukkan kepala.
__ADS_1
"Siapa suruh dia menyembunyikan kebenaran. Jika dia tidak egois dan hanya mementingkan nama baiknya saja, aku pasti akan berpikir dua kali untuk menghancurkannya." Dirga mengepalkan tangannya erat.
Kata-kata Freya yang mengatakan kalau Aditya menyimpan semua bukti kejahatan Rumah dan Laura demi melindungi nama baik keluarganya membuat kemarahan Dirga pada Aditya yang kini menjadi rekan bisnisnya itu semakin besar.
Seharusnya, lelaki itu menyerahkan istri dan calon menantunya pada polisi. Bukan malah menyembunyikan kejahatan mereka. Begitupun Sagara. Lelaki itu lah yang berperan tinggi menjadi penyebab kematian Amora saat itu.
Seandainya saja Sagara tidak menyiksa Amora hingga mengakibatkan pendarahan hebat, Amora alias Freya putrinya pasti tidak akan merasakan kesakitan, apalagi sampai mengalami mati suri.
"Pertemukan aku dengan Rima, Mas. Aku ingin membalas semua yang telah dilakukan Rima pada anakku. Aku ingin menunjukkan padanya bagaimana kemarahan seorang ibu yang anaknya dibuat menderita olehnya." Rania mengepalkan tangannya erat.
Sudah lama dia tidak memukul orang. Sepertinya melampiaskan kemarahan pada Rima akan membuatnya merasa terpuaskan. Rania akan memukuli wanita itu dengan tangannya sendiri sampai wanita itu meminta ampun.
"Jangan bilang, kalau saat ini kamu sedang berpikir untuk menghajar Rima?"
"Kenapa? Kamu tidak terima?" ketus Rania.
"Siapa bilang? Hajar dia sampai dia bertekuk lutut meminta ampun. Wanita seperti Rima bahkan pantas mati karena perbuatannya!"
__ADS_1
BERSAMBUNG ....