DERITA CINTA AMORA

DERITA CINTA AMORA
RESTU


__ADS_3

Dewa mengajak Amora ke rumahnya. Seperti apa yang sudah dijanjikan pada sang ibu untuk membawa wanita pilihannya itu ke rumah.


Awalnya Mariana memang tidak terlalu menyukai Amora saat pertama kali Dewa mengenalkan padanya. Namun, setelah dia tahu siapa Amora sebenarnya, Mariana berubah pikiran.


Apalagi, saat Dewa menceritakan kisah tentang Amora di masa lalu. Wanita paruh baya itu sangat prihatin dengan apa yang sudah menimpa Amora selama ini.


Amora yang malang, dari kecil dia sudah hidup menderita. Padahal, Amora adalah anak dari seorang pengusaha yang kaya raya dan cukup terkenal di dunia bisnis.


Kalau bukan karena seseorang yang menculiknya, Amora dari kecil pasti sangat bahagia hidup bersama kedua orang tuanya. Apalagi, orang tuanya kaya raya.


Mereka berdua sampai di rumah besar berpagar tinggi itu. Dewa turun dari mobil bersama dengan Amora. Mereka berjalan beriringan masuk ke dalam rumah seorang asisten rumah tangga menyambut kedatangan mereka dengan senyum yang mengembang pada wajahnya


"Selamat datang, Tuan, Nona."


Amora dan Dewa tersenyum mendengar ucapan sambutan asisten rumah tangga itu. Sementara itu, keduanya terus masuk menuju ruang keluarga.


Mariana mengatakan bahwa dia ingin mengatakan sesuatu pada Amora sebelum makan siang bersama.


Perempuan paruh baya itu sudah merasa tidak sabar untuk mengatakan sesuatu pada wanita yang sangat dicintai oleh putranya itu.


"Mama." Dewa memanggil Mariana yang terlihat sangat serius menatap layar televisi. Berita yang baru saja dilihatnya pada layar datar itu sangat menyita perhatiannya hingga wanita itu tidak menyadari kedatangan Dewa dan Amora.

__ADS_1


"Mama." Panggil Dewa lagi membuat Mariana langsung menoleh ke arah suara.


"Kalian berdua sudah datang?" Senyum cerah pada wajah Mariana terbit.


Wanita paruh baya itu bangkit kemudian memeluk putra kesayangannya. Setelah itu, dia kemudian memeluk Amora yang baru dua hari lalu dia temui.


Semenjak dia tahu kalau Amora adalah anaknya Dirga dan Rania, Mariana seringkali mengajak Amora bertemu. Bukan hanya Amora, tetapi, juga ibunya, Rania.


Mariana memang awalnya tidak terlalu suka. Dia pikir, saat itu Amora sama saja dengan gadis-gadis yang hanya mengincar harta saja.


Namun, setelah dia mengenal dekat dan tahu siapa Amora sebenarnya, Mariana justru semakin cocok dengan wanita cantik itu.


Mariana bahkan tidak peduli meskipun status Amora adalah janda. Bahkan, itu pun masih dalam proses.


"Aku yang harusnya berterima kasih sama Tante karena Tante sudah mengundangku untuk makan siang bersama." Amora kembali tersenyum.


"Baiklah! Tapi, sebelum kita makan bersama, Tante mau ngomong serius sama kamu, Freya." Mariana menyuruh Amora duduk di sofa diikuti oleh Dewa.


"Ada apa sih, Ma?" Dewa ikut merasa penasaran. Sementara itu, Mariana tersenyum melihat Amora dan Dewa terlihat bingung.


"Mama dan papa sudah sepakat akan menikahkan kalian setelah tiga bulan Freya bercerai," ucap Mariana dengan kedua mata berbinar-binar.

__ADS_1


Amora dan Dewa sangat terkejut. Pasalnya, Mariana selama ini terlihat tidak menyukai hubungan mereka. Walaupun wanita itu akhir-akhir ini begitu akrab dengan Amora dan Rania, tetapi, Mariana tidak pernah mengatakan menyetujui hubungan mereka apalagi sampai membahas tentang pernikahan.


"Mama sedang tidak bercanda 'kan?" Dewa menempelkan punggung tangannya pada kening sang mama yang langsung ditepis kasar oleh Mariana.


"Mama baik-baik saja, Dewa. Mama dan papa merestui hubungan kalian berdua. Maafkan mama karena selama ini mama terkesan tidak menyukai Freya. Sebenarnya bukan itu maksud mama. Mama hanya ingin kamu mendapatkan wanita yang terbaik, dan kini mama sadar, jika wanita yang terbaik untukmu adalah Freya."


Mendengar semua ucapan Mariana, Dewa langsung memeluk wanita yang telah melahirkannya itu. Restu dari ibunya membuat Dewa merasa sangat bahagia.


Meskipun awalnya Dewa tetap akan menikahi Amora walaupun tanpa restu ibunya. Akan tetapi, mendengar ucapan dari Mariana tentu saja membuat pria itu sangat bahagia. Begitupun dengan Amora.


Rasa cintanya pada Dewa semakin hari semakin besar. Dia menyadari jika pria yang sangat dicintainya saat ini adalah Dewa bukan lagi Sagara.


Sagara telah menjadi masa lalu buat Amora. Masa lalu yang menyakitkan dan dirinya tidak sedikitpun ingin mengingatnya kembali.


"Mama juga sudah mengatakan pada mama dan papanya Freya kalau mama dan papa akan datang ke rumahnya untuk melamar wanita tercintamu itu." Mariana kembali berucap setelah Dewa melepaskan pelukannya.


"Terima kasih, Ma. Terima kasih karena sudah merestui hubunganku dengan Freya. Aku sayang sama Mama." Dewa kembali memeluk ibunya.


Sementara itu, Amora mengusap air matanya. Dia sungguh merasa terharu karena akhirnya, Mariana merestui hubungannya dengan Dewa.


"Terima kasih, Tuhan ...."

__ADS_1


BERSAMBUNG ....


__ADS_2