DERITA CINTA AMORA

DERITA CINTA AMORA
KEMARAHAN ADITYA


__ADS_3

Amora masuk ke dalam rumah bersamaan dengan Aditya. Ayah mertuanya itu menyuruh Amora langsung ke kamarnya untuk membersihkan diri.


Saat Amora dan Aditya masuk, Rima terlihat sedang bercengkrama dengan Laura. Mereka sedang tertawa seperti sepasang mertua dan menantu.


Aditya menatap tajam ke arah Rima dan Laura, sementara Amora langsung menuju kamarnya sesuai perintah Aditya.


"Mas, kamu sudah pulang?" Rima terlihat gugup melihat suaminya sudah pulang padahal biasanya Aditya pulang jam lima atau jam enam sore. Sedangkan sekarang waktu menunjukkan jam empat sore.


"Jadi begini kelakuanmu jika aku sedang tidak ada di rumah?" Aditya menatap tajam pada Rima dan Laura bergantian.


"Aku dan Laura hanya sedang bersantai, Mas. Kasihan, Laura nggak ada temannya," jawab Rima sambil tersenyum.


"Kamu bersantai dengan Laura sementara kamu menyuruh menantumu mengerjakan pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh tukang kebun? Apa kamu sudah gila, Rima? Amora bisa saja keguguran karena perbuatanmu!"


"Mas, aku ... aku tidak menyuruh Amora untuk melakukannya. aku hanya–"


"Kamu masih menyangkal?" Aditya menatap Rima dengan penuh amarah.


Sepertinya, akhir-akhir ini dia terlalu sibuk hingga tidak memperhatikan istrinya yang mulai bersikap keterlaluan.


"Dengar, Rima. Jika sesuatu terjadi pada Amora dan juga calon cucuku, aku tidak akan segan-segan untuk menghukummu!"


"Mas!" Rima berteriak kesal.


"Kenapa kamu tidak mau mendengarkan penjelasan aku dulu? Aku tidak menyuruh Amora tapi dia sendiri yang ingin melakukannya." Rima mencoba berkelit. Dalam hati, ia menyumpah serapahi Amora.


"Kamu pikir aku percaya?"


"Mas."

__ADS_1


"Aku sangat mengenal kamu, Rima." Aditya meninggalkan Rima dan Laura.


Saat lelaki itu ingin menaiki tangga, Aditya kembali menatap ke arah istrinya dan Laura.


"Laura, mulai besok, keluarlah dari rumah ini. Kamu tahu, 'kan kalau Saga sudah menikah? Tidak baik jika kamu terus-terusan di rumah ini dan ikut merecoki rumah tangga Sagara dan Amora," ucap Aditya tanpa perasaan.


Lelaki itu kemudian melangkah menaiki tangga tanpa memedulikan teriakan Rima yang tidak terima dengan keputusannya.


Amora tersenyum puas saat mendengar suara ayah mertuanya yang memarahi ibu mertua dan juga Laura.


"Biar tahu rasa!" Amora cekikikan. Wanita hamil itu kemudian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Selesai mandi, Amora tertidur karena kelelahan. Wanita itu meringkuk dengan masih menggunakan jubah mandi.


***


Sementara itu, Amora terpaksa berhenti kuliah karena tidak mau semua orang mengetahui kehamilannya. Lagipula, Sagara tidak mau jika semua orang tahu kalau dia menikah dengan Amora.


Sagara menatap Amora yang terbaring di atas ranjang dengan jubah mandi yang tersingkap sampai pangkal pahanya. Rambutnya berantakan menutupi sebagian wajah cantiknya.


Sagara melepaskan kemejanya, kemudian ikut berbaring di samping Amora. Lelaki itu membenarkan baju dan merapikan rambut Amora. Bibirnya membentuk senyum tipis saat melihat wajah cantik istrinya.


Seketika, rasa lelahnya menghilang. Lelaki itu mengangkat kepala Amora dan meletakkan pada lengannya sebagai bantal. Sagara memberikan kecupan pada bibir Amora kemudian memeluknya.


Mengusap punggung wanita itu dengan pelan sebelum akhirnya ikut terlelap sambil memeluk istrinya.


Saking pulasnya, Sagara sampai tidak mendengar suara ponselnya yang berdering berkali-kali.


Di luar kamar Sagara, Laura mengepalkan tangannya karena panggilan telepon darinya tidak diangkat oleh Sagara.

__ADS_1


"Sialan, kamu Amora!" umpat Laura dalam hati. Gadis itu kemudian bergegas menuruni tangga karena tidak ingin Aditya mengetahui kalau dirinya menyelinap dan berdiri di depan kamar Sagara.


***


Amora menggeliat dalam tidurnya. Seperti biasa, wanita itu pasti akan kesusahan untuk menggerakkan tubuhnya setiap kali bangun tidur.


Bukan karena pegal atau apa. Tetapi, karena lelaki yang ia sebut sebagai suami itu memeluknya sampai membuat dia tidak bisa bergerak.


Amora terkadang merasa aneh dengan sikap Sagara. Dia tidak mencintainya tetapi, setiap tidur bertingkah seperti orang yang sangat mencintainya.


"Kau mau kemana?" Suara serak Sagara terdengar.


"Aku mau ke kamar mandi."


Sagara melepaskan pelukannya. Pria itu bangkit dari ranjang kemudian menggendong Amora ke kamar mandi.


Laki-laki itu bahkan menunggunya di depan kamar mandi setelah itu kembali menggendongnya menuju ranjang dan memeluknya.


Sungguh! Benar-benar seperti suami idaman.


"Kenapa kau tidak tidur lagi?"


"Aku lapar. Aku melewatkan makan malam tadi." Amora mengusap perutnya yang mulai membuncit.


Sagara perlahan juga ikut mengusap perut Amora. Pria itu berdecak kesal.


"Kau bersikeras menikah denganku demi bayi ini. Tapi kau tidak memberinya makan."


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


__ADS_2