DERITA CINTA AMORA

DERITA CINTA AMORA
MAAFKAN AKU, AMORA


__ADS_3

Setelah menunggu lebih dua jam dari waktu yang biasa orang pada umumnya untuk sarapan, barulah Sagara turun dari kamarnya. Pria itu tampak kacau, wajahnya kusut, rambut berantakan bahkan Aditya menebak pria itu belum mandi.


Sagara memang berniat untuk membenamkan diri dalam kesendirian, tidur berjam-jam lamanya hingga esok pagi. Kepalanya terlalu sakit untuk diajak bangun pagi ini.


Sagara tiba di rumah pukul 03.00 pagi, tentu saja diantar oleh Dean dalam keadaan mabuk seperti yang diinginkan pria itu.


Oke, mungkin sesaat dia bisa melupakan kepedihannya akan kehilangan Amora. Minuman itu berhasil menyihirnya. Namun, setelahnya? Ketika pagi datang menyambut, dia kembali terhempas dalam ruang kesedihan yang hampa.


Sosok Amora kembali datang mengetuk relung hatinya, mengingatkan betapa dirinya sudah disia-siakan oleh suaminya sendiri.


Kalau bukan karena haus dan ingin buang air kecil, Sagara tidak mungkin turun ke dapur hingga akhirnya bertemu dengan ayahnya di meja makan.


"Duduklah! Ada yang ingin papa bicarakan dengan mu," ucap Aditya tegas, tidak memberi Sagara kesempatan untuk menolak.

__ADS_1


Hanya ada mereka berdua di meja itu. Rima memilih pergi ke pasar bersama pelayan mereka. Sementara Laura? Entahlah, gadis itu ke mana Aditya juga tidak peduli.


"Kau tidak bisa seterusnya larut dalam kesedihan seperti ini. Sebagai pria yang sudah dewasa, setiap perbuatan yang sudah kau lakukan baik itu benar atau salah harus kau pertanggungjawabkan," ucap Aditya memberi kata pembuka untuk menyadarkan Sagara yang masih mencoba mengumpulkan nyawanya.


"Kau harus melanjutkan hidupmu, tapi papa harap mulai sekarang kau harus melakukan hal yang benar di dalam hidupmu, serta menyingkirkan orang-orang yang berusaha membuatmu menjadi pria brengsek."


Sagara bergeming, masih duduk dengan kaku seperti patung yang tidak bernyawa, menatap taplak meja bermotif bunga. Namun, bukan itu yang membuat tatapannya terikat di sana, tapi munculnya bayangan wajah Amora dengan senyum cantiknya yang mencoba menyapanya.


Sagara tertegun melihat flashdisk yang disodorkan ke dekat jemarinya. Dia mengangkat wajah, lalu menoleh ke arah ayahnya seolah dari matanya saja ingin bertanya apa maksud semua ini.


Aditya tidak mengatakan hal lain. Pria itu bangkit dari duduknya meninggalkan Sagara dengan segala kebingungannya.


Penasaran dengan teka-teki yang ingin disampaikan ayahnya, Sagara memungut flash disk itu lalu segera membawanya ke kamar, tidak sabar ingin melihat isinya.

__ADS_1


Benar saja setelah layar laptopnya menampilkan isi dari rekaman CCTV di rumah itu, bola mata Sagara membulat menatap layar dengan penuh amarah serta perasaan sedih ketika melihat wajah Amora yang begitu menderita dianiaya oleh ibu dan juga kekasihnya.


"Jadi ini, yang kau lakukan selama ini di rumahku, Laura?" Sagara dengan wajah terkejut melihat satu persatu video rekaman yang menunjukkan kejahatan Laura dan ibunya.


Kedua matanya kembali membola saat melihat rekaman saat Laura terjatuh di tangga. Sagara mengusap wajah kasar sambil berkali-kali mengulang kejadian saat Laura terjatuh.


"Tenyata benar apa yang dikatakan Amora. Laura menjatuhkan dirinya sendiri demi mendapatkan perhatianku. Dia memfitnah Amora di hadapanku."


Sagara menangis. Gara-gara insiden itulah dia memarahi Amora. Sagara masih ingat saat Amora bersikeras untuk tidak mengakui kesalahannya. Namun, Sagara yang bodoh justru tidak mempercayainya.


"Maafkan aku, Amora." Sagara sungguh menyesal dengan apa yang sudah dilakukannya.


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


__ADS_2