DERITA CINTA AMORA

DERITA CINTA AMORA
MEMAKSA MASUK KE RUMAH FREYA


__ADS_3

Entah untuk ke berapa kali Sagara meremas rambutnya, mondar-mandir di dalam kamarnya dengan pikiran yang kacau.


Kenyataan yang dia terima membuatnya hampir gila. Dia pikir bertemu dengan Freya membuatnya bisa kembali menjalani kehidupan normal, keluar dari kesedihan yang tak berujung.


"Aku gak bisa kehilangan Amora. Apapun akan aku lakukan asal bisa mendapatkan kembali cintanya," ucapnya bermonolog, lalu melirik surat cerai yang tergeletak di atas nakas. Penuh emosi, dilemparkan ke lantai hingga berserakan.


"Sampai matipun aku tidak akan mau bercerai denganmu. Kau harus menjadi milikku!" umpatnya penuh amarah.


***


Hujan di luar yang sejak siang turun dengan deras, kini sudah reda, menyisakan rintik hujan yang masih betah membasahi bumi. Tetapi, Sagara sudah tidak tahan. Semakin lama menunggu, hatinya semakin tersiksa.


Sagara memutuskan untuk pergi menemui Amora kembali. Kemarin dia gagal menemui Amora, sekarang dia akan kembali ke sana dan memastikan kalau Amora akan menemuinya.


Sagara harus lebih cepat bergerak sebelum pria lain benar-benar mengambil hati Amora.


Sagara datang ke rumah Amora mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Seakan tidak peduli dengan keselamatannya.


Sagara sudah dibutakan oleh ketakutan kehilangan Amora. Di dalam pikirannya, hanya ada satu tujuan, yaitu mendapatkan Amora kembali.


Hanya dengan jarak tempuh kurang dari satu jam, Sagara sudah tiba di rumah Amora. Bangunan itu terlihat begitu angkuh, seakan tidak sudi membukakan pintu dan tidak ada tempat untuk Sagara masuk ke dalam.


Tidak peduli dengan dirinya yang basah akibat rintik hujan yang masih turun, Sagara keluar dari mobil dan mencoba untuk masuk ke dalam rumah. Namun, selain pagar yang memang dikunci, satpam yang menjaga rumah itu dan melihat kedatangan Sagara segera menghampiri dengan payung terkembang di tangan.


Sepertinya satpam yang berjaga bukanlah satpam yang kemarin hingga dia tidak tahu kalau orang yang datang itu adalah pria yang membuat kekacauan di rumah besar itu kemarin.


"Maaf, Anda ingin bertemu dengan siapa?" tanya satpam itu dengan tegas. Dia tidak mengenal Sagara. Oleh majikannya, satpam itu juga sudah diberikan perintah bahwa tidak ada satupun orang asing boleh masuk ke rumah itu kecuali Dewa.

__ADS_1


"Maaf, Pak, tolong bukakan pintunya. Saya ingin masuk dan bertemu dengan Amora," jawab Saga dengan lantang.


Satpam yang bernama Mukhlis itu, terlihat mengerutkan kening mendengar ucapan Sagara. Dia pikir pria itu mungkin salah alamat atau itu bentuk penipuan untuk memperdaya dirinya dengan berpura-pura mencari seseorang karena pada kenyataannya di rumah itu tidak ada orang yang bernama Amora.


"Maksud saya Freya, Pak. Saya ingin bertemu dengan Freya. Izinkan saya masuk," sambar Sagara menyadari kalau saat ini identitas Amora sudah berubah menjadi Freya.


Mukhlis kembali mengerutkan kening benar adanya bahwa anak majikannya bernama Freya. Namun, mengapa pria itu pertama kali mengucapkan nama Amora yang membuat Mukhlis menjadi curiga.


"Apa kau penjaga baru di sini? Kau tidak mengenaliku? Aku Sagara, kekasihnya Freya!" bentak Sagara merasa kesal karena penjaga pintu gerbang itu tidak memperbolehkannya masuk.


"Maaf Pak, Non Freya tidak bisa diganggu. Tuan Dirga memberi perintah tidak satu orang pun yang bisa menemui Non Freya saat ini," terang Mukhlis dengan tegas. Dia memang pegawai baru, dan tidak mengenal Sagara. Namun, saat mendengar nama itu, Mukhlis langsung mengingat jika orang bernama Sagara itulah yang dilarang masuk ke dalam karena telah membuat kekacauan.


Seorang satpam lainnya berjalan menghampiri Mukhlis, ketika melihat partner kerjanya itu begitu lama berdiri di depan pintu gerbang dan ada seseorang yang tengah berbicara dengan Mukhlis.


Dodit yang sedikit khawatir melihat keadaan itu, tentu saja segera menghampiri, takut bahwa orang yang berbicara dengan Muklis itu adalah orang yang memang tidak diperbolehkan untuk masuk ke rumah, dan ternyata, dugaannya memang benar.


"Ada apa Muk?" tanya Dodit yang sudah berdiri di samping Mukhlis. Pria itu menatap Sagara yang terlihat sangat marah.


"Mas ini ingin bertemu dengan Non Freya," ucap Mukhlis memberi keterangan.


Dodit mengangguk paham karena dia mengenali Sagara. Apalagi, pria itu sudah beberapa kali datang ke rumah mengantarkan nona majikannya pulang.


"Maaf, Pak Sagara. Nona Freya tidak ingin bertemu dengan siapapun," ucap Dodit yang semakin membuat Sagara murka.


"Aku ini kekasihnya! Aku ingin bertemu dengan dia!"


"Maaf, Pak. Saya hanya menjalankan tugas." Dodit kembali menjawab.

__ADS_1


"Ini sangat penting, ada sesuatu yang harus aku bicarakan dengan Freya. Cepat panggilkan dia dan izinkan aku masuk!" teriak Sagara yang sudah mulai marah atas sikap kedua satpam itu yang menahannya.


Dia mencoba menarik pintu pagar, agar mau terbuka, tetapi, tentu saja usahanya sia-sia karena pagar itu sudah digembok, dan kalaupun terbuka tentu saja kedua satpam itu juga tidak akan mengizinkannya masuk.


"Sebaiknya Anda pulang! Anda tidak diperkenankan untuk masuk ke rumah ini!" seru Dodit. Pria itu memang lebih garang dari Mukhlis.


Melihat keadaan itu, Saga tahu bahwa dirinya tidak akan diizinkan masuk, berteriak pun mungkin tidak akan ada gunanya karena Freya tidak akan mau keluar. Satu-satunya cara agar bisa bertemu dengan wanita itu adalah dengan memanjat pagar, tapi dia perlu trik untuk mengelabui kedua satpam itu.


Sagara akhirnya mundur, memutar tubuh dan terlihat pergi dari hadapan mereka. Sagara masuk ke dalam mobilnya kemudian melajukan mobilnya menjauhi pintu gerbang.


Sagara memarkirkan mobilnya tidak jauh dari rumah besar itu. Lelaki itu kemudian datang lagi ke rumah Amora dengan mengendap-endap.


Kedua satpam itu kembali ke posnya.


Sagara dengan cepat mendatangi kembali rumah itu, pagar yang menjulang tinggi itu pun mulai dipanjatnya.


Keputusasaan dan rasa takut membuatnya bisa nekad melakukan apa saja. Tidak memedulikan akan keselamatannya yang bisa saja terjatuh dan tertusuk ketika memanjat pagar tinggi itu.


Namun, nyatanya Sagara berhasil dan dia sudah menerobos masuk hingga sampai ke depan pintu dan mulai menggedor pintu itu membabi buta setelah mendapati bahwa pintu itu terkunci.


"Freya, buka pintunya. Ini aku, Saga. Tolong, Freya, izinkan aku masuk!" Sagara berteriak sambil menggedor-gedor pintu rumah Amora.


"Aku ingin bicara, Freya. Aku mohon berikan aku kesempatan, aku tahu aku sudah bersalah."


"Freya!"


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


__ADS_2