
"Aku tidak akan pernah memaafkan kalian!" ucap Amora mengeluarkan amplop coklat yang sejak tadi berada dalam tas tangannya.
Saat dia bertemu dengan Rima di tempat ini, sebenarnya Amora baru saja kembali dari kantor pengacara yang ditunjuk oleh ayahnya untuk mengurus perceraiannya dengan Sagara.
Ayahnya memaksa untuk segera mengurus surat perceraian dengan pria itu seolah bisa menebak bahwa langkah mereka sudah terbaca oleh Rima.
Untung Dirga sudah mengetahuinya terlebih dulu saat Rima melakukan penyelidikan atas status Freya. Oleh karena itu, Dirga mempersiapkan keamanan Amora dengan terlebih dahulu menggugat cerai pada Sagara.
Jika mereka pun mengetahui Amora adalah Freya tidak akan menjadi masalah, karena mereka tidak akan punya hak untuk melakukan tindakan apapun yang mengancam nyawa Amora karena gadis itu bukanlah istrinya lagi.
Tetapi, kebenaran ternyata sudah lebih cepat dari yang diduga oleh Dirga, surat perceraian itu belum dilayangkan kepada Sagara tapi identitasnya sudah terbongkar. Tidak masalah, lebih baik mereka bertarung terang-terangan begini daripada dia harus bersikap manis di depan musuh-musuhnya.
"Apa ini?" tanya Sagara melirik berkas yang diperlihatkan Amora.
"Surat perceraian. Sebenarnya baru minggu depan aku akan menyerahkannya padamu, tapi berhubung semua ini sudah terbongkar, dan kita bertemu di sini, jadi sebaiknya aku berikan sekarang," ucap Amora.
"Sampai jumpa di pengadilan." Amora bangkit meninggalkan keduanya yang masih terbengong.
__ADS_1
Hanya Tuhan dan Amora yang tahu betapa dia sangat ketakutan saat membukakan jati dirinya di depan Sagara dan Rima. Beruntung mereka ada di tempat ramai hingga Amora merasa aman.
"Amora!" Sagara berteriak setelah dirinya tersadar. Lelaki itu bermaksud ingin mengejar Amora, tetapi, Rumah melarangnya.
"Tenangkan dirimu dulu, Saga. Besok baru kau temui dia lagi," ucap Rima menenangkan.
"Dia ingin menceraikan aku, Ma. Aku tidak bisa membiarkannya. Aku mencintai Freya, tak peduli jika Freya dan Amora adalah orang yang sama, yang jelas, aku tidak ingin kehilangan Freya. Aku tidak mau bercerai dengannya!" Sagara menatap Rima yang tampak terkejut.
"Setelah mengetahui kebenarannya, kamu masih ingin bersama dia? Apa kau sudah gila, Saga? Perempuan itu datang untuk membalas dendam pada kita!" pekik Rima membuat beberapa pengunjung di restoran itu memperhatikannya.
"Aku tidak peduli, Ma. Kalau pun Freya datang untuk membalas dendam, bukankah itu wajar? Mama dan Laura sudah menyebabkan Amora meninggal dunia, wajar jika Freya kembali datang untuk membalas dendam pada kalian."
"Kamu jangan lupa, Saga. Kamu juga ikut berperan dalam kematian Amora, jadi, jangan kamu pikir kalau wanita itu juga akan membalas dendame³ padamu!"
"Apapun itu, aku akan menerimanya dengan lapang dada. Asal tetap bisa bersama Freya, aku akan menerima apapun hukuman yang akan diberikan Freya padaku."
"Saga, kamu benar-benar sudah gila!" teriak Rima masih tidak terima dengan apa yang diucapkan oleh Sagara.
__ADS_1
"Mama sepertinya lupa. Aku sudah pernah menjadi gila saat kehilangan Amora, aku bisa benar-benar menjadi gila jika saat ini aku kembali kehilangan Freya."
***
Setelah pulang dari restoran, Amora pulang ke rumahnya. Wanita itu kemudian menceritakan semua yang terjadi padanya hari ini.
"Sagara sudah mengetahui semuanya. Aku yakin, setelah ini, dia tidak akan melepaskan aku begitu saja."
"Kamu jangan takut, Sayang. Papa akan melindungimu. Papa akan menambah pengawal untuk menjagamu," ucap Dirga ketika Amora selesai mengatakan semua kejadian siang tadi.
Rania memeluk Amora, memberikan support pada putrinya itu, agar tetap tenang dan tidak perlu takut.
"Menambah pengawal?" tanya Amora tersadar arti perkataan ayahnya.
"Maaf kalau Papa selama ini tidak mengatakannya padamu. Selama ini Papa selalu menugaskan pengawal untuk menjagamu, tanpa kamu sadari, hanya untuk memastikan kamu aman," ucap Dirga.
"Terima kasih, Pa." Amora memeluk Dirga sebagai ucapan terima kasih karena lelaki paruh baya itu selalu melindunginya.
__ADS_1
BERSAMBUNG ....