DERITA CINTA AMORA

DERITA CINTA AMORA
AMARAH RIMA


__ADS_3

Sagara berteriak melihat tubuh Laura terguling di tangga. Pria itu menatap Amora yang tampak terkejut sambil berpegangan pada pagar tangga.


Detik berikutnya Sagara segera mengangkat tubuh Laura. Kening perempuan itu tampak mengeluarkan darah. Laura merintih kesakitan saat Sagara menggendong tubuhnya.


"Jika terjadi sesuatu pada Laura, aku tidak akan pernah memaafkanmu, Amora!" Sagara berteriak sambil menatap tajam ke arah Amora kemudian pergi dengan tergesa meninggalkan Amora yang masih tampak gemetar karena tidak mengira kalau Laura akan melakukan hal yang nekad seperti itu.


"Laura, apa dia benar-benar sudah gila? Kenapa dia tiba-tiba menjatuhkan dirinya sendiri?" Amora menarik napas dalam-dalam. Sungguh! Ia masih tidak menyangka kalau Laura mampu berbuat nekad seperti itu.


"Apa dia sudah merencanakannya?" batin Amora. Wanita itu kemudian mengingat kejadian sebelum Laura sengaja menjatuhkan dirinya. Amora mengingat saat tiba-tiba Sagara datang, tepat pada saat Laura terjatuh.


Amora tersenyum bodoh. "Sudah aku duga, kebaikannya itu hanya sebuah topeng agar dia bisa menyerangku lagi. Tidak disangka, ternyata dia begitu licik."


"Amora!" Suara teriakan Rima mengejutkan Amora yang masih terduduk di tangga.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan pada Laura?" teriak Rima lagi penuh amarah. Perempuan paruh baya itu sangat terkejut melihat Sagara menggendong Laura yang wajahnya penuh darah.


Saat Rima bertanya pada Sagara, putranya itu menjawab dengan keras jika Amora sudah mendorong Laura dari tangga. Mendengar itu, Rima sangat terkejut. Amarahnya langsung naik. Apalagi, saat melihat darah yang keluar membasahi wajah Laura.


"Aku tidak melakukan apapun, Bu. Laura yang menjatuhkan dirinya sendiri," jawab Amora dengan berani. Dirinya tidak bersalah. Kenapa harus takut?


"Menjatuhkan dirinya sendiri? Apa kau sudah gila? Mana mungkin Laura menjatuhkan dirinya sendiri?" Rima beranjak mendekati Amora. Perempuan yang melahirkan Sagara itu menarik tangan Amora menuruni tangga kemudian mendorong tubuh Amora hingga jatuh.


"Kau sungguh kejam! Kamu sudah merebut Sagara dari Laura, kemudian sekarang kamu ingin menyingkirkannya? Kalau kau tidak sedang hamil, aku akan membalasmu dengan melakukan hal yang sama seperti yang kau lakukan pada Laura!"


"Jangan berbohong, Amora! Kau pikir Laura bodoh? Tidak mungkin dia mencelakai dirinya sendiri. Laura itu sangat berharga, Amora. Dia sangat memperhatikan penampilannya. Tidak mungkin dia melakukan hal yang akan mencelakai dirinya apalagi membuat tubuhnya lecet meskipun sedikit saja." Kedua mata Rima melotot menatap penuh kebencian pada Amora.


Sementara itu, Amora menahan rasa sakit di hatinya. Rasanya, ingin menangis seperti biasanya. Namun, sekuat tenaga dia menahannya.

__ADS_1


Tidak lagi! Kali ini dia tidak boleh terlihat lemah di depan ibu mertua yang selalu menindasnya.


"Sedari kemarin aku sudah menahan diri untuk tidak membuat masalah denganmu, Amora, tapi kini, aku tidak akan berbelas kasih lagi padamu!"


Plakk!


Suara tamparan terdengar keras. Tubuh Amora terhuyung karena tidak siap saat mendapat tamparan itu. Bukan hanya menampar. Tetapi, Rima bahkan dengan kejam menarik rambut Amora. Rima seperti orang kesetanan.


Wanita paruh baya itu kemudian mendorong Amora hingga membuat Amora hampir saja terjatuh. Namun, sebelum Amora terjatuh, seseorang memegangi tubuh perempuan hamil itu hingga Amora selamat. Jika tidak, perut perempuan itu pasti akan membentur sisi meja yang berada tidak jauh dari tempat Amora berdiri.


"Rima! Apa kau sudah gila? Apa yang kau lakukan ini bisa membuat Amora kehilangan bayinya!" Aditya yang baru saja datang tampak terkejut melihat perbuatan istrinya pada Amora.


"Biar saja dia mati. Aku tidak sudi mempunyai cucu dari wanita kejam seperti dia!"

__ADS_1


BERSAMBUNG ....


__ADS_2