DERITA CINTA AMORA

DERITA CINTA AMORA
MENGUSIR LAURA


__ADS_3

"Maafkan aku, Amora." Sagara sungguh menyesal dengan apa yang sudah dilakukannya.


Saat Laura jatuh, Sagara sangat marah pada Amora. Dia menyalahkan Amora yang telah mendorong Laura hingga gadis itu terjatuh dan mengalami luka. Padahal, beberapa hari sebelumnya Laura pernah membantu merawat Amora ketika istrinya itu demam.


Sikap keras kepala Amora yang tidak mengakui jika dia telah mendorong Laura membuat Sagara marah dan menyiksa Amora di atas ranjang hingga wanita itu mengalami pendarahan hebat yang akhirnya membuat Amora mengalami keguguran dan akhirnya meninggal dunia.


Sagara berteriak. Lelaki itu menangis menyesali perbuatannya pada Amora. Melihat isi rekaman yang memperlihatkan kalau Amora memang tidak bersalah sama sekali membuat hatinya berdenyut sakit.


Dirinya yang bodoh karena tidak mempercayai Amora padahal Amora sendiri sudah mengatakan dengan jelas kalau dia tidak mendorong Laura.


"Bodoh! Kau benar-benar bodoh, Sagara! Kau bahkan menghukum orang yang bahkan tidak bersalah sama sekali." Sagara menangis dengan rasa sakit di hatinya.


"Amora bahkan sudah berkali-kali mengatakan kalau dia tidak bersalah. Tapi kenapa aku tidak mau mempercayainya?" Sagara meremas rambutnya dengan kasar.


Semua yang terjadi pada Amora adalah kesalahannya. Amora meninggal karena dia. Kalau dia mempercayai Amora sedikit saja, semua ini pasti tidak akan terjadi. Hubungan mereka saat itu bahkan sudah sedikit membaik. Tetapi, semuanya sirna saat Laura tiba-tiba terjatuh dari tangga tepat di depan kedua matanya.

__ADS_1


"Laura ... aku pastikan kau membayar semua yang sudah kau lakukan pada Amora." Sagara mengepalkan tangannya dengan kuat. Lelaki itu bangkit kemudian mengusap air matanya dengan kasar.


Penuh emosi Sagara segera keluar dari kamar mencari sosok yang ingin dia mintai pertanggungjawaban. Cukup Sudah kesabarannya terhadap Laura. Perbuatan wanita itu yang sudah mencelakai Amora membuat rasa suka Sagara yang dulu hanya untuk Laura kini berubah menjadi benci.


"Lauraa ...! Laura ...! Dimana kamu?!" teriaknya menggema. sehingga semua orang yang berada di rumah itu pun bisa mendengar.


Laura yang ternyata baru aja selesai mandi segera keluar ketika mendengar namanya dipanggil oleh Sagara. Dia pikir pria itu begitu merindukannya hingga berteriak memanggilnya dengan tidak sabar.


"Ada apa, Sayang? Kamu mencariku?" tanyanya dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


Senyum yang tadinya menghiasi wajah cantik Laura kini pupus seiring dengan munculnya ketakutan di wajahnya. Melihat Sagara yang sangat marah membuat dia berpikir kalau pria itu telah mengetahui semuanya.


Tubuh Laura gemetar. Namun, wanita itu mencoba menutupi ketakutannya.


"Memangnya apa yang sudah aku lakukan sampai membuatmu semarah ini, Saga?" tanya Laura masih bertahan dengan wajah tipu dayanya.

__ADS_1


"Kau masih bertanya apa yang sudah kau lakukan? Dasar wanita iblis! Kau sudah mencelakai Amora, menyiksanya dan menjadikan dia lelucon di hadapanmu dan ibuku! Aku menyesal pernah menyukaimu, dasar wanita ular!" umpat Sagara mengangkat tangan ingin menampar Laura, tapi urung dia lakukan. Dia masih punya hati, ingat pesan ayahnya untuk tidak memukul wanita.


"Sekarang, segera kau angkat kaki dari rumah ini!" salak Sagara penuh marah.


"Saga ...." Laura menatap kekasihnya itu dengan tatapan tak percaya.


"Tidak! Aku tidak mau pergi dari sini. Aku mencintaimu, Saga. Kau juga sudah berjanji akan menikahiku bukan?" Amora menatap Sagara dengan kedua mata berkaca-kaca.


"Setelah apa yang kau lakukan, kau pikir aku akan tetap menikahimu?"


"Pergi dari sini secepatnya karena aku muak melihatmu!"


"Saga ...."


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


__ADS_2