DERITA CINTA AMORA

DERITA CINTA AMORA
MENYESAL


__ADS_3

"Bagaimana, Sayang, kamu suka rumahnya?" tanya Dirga menatap wajah Amora yang kagum melihat indahnya kamar barunya.


Sebelum Amora dibawa pulang ke rumah, dia sudah meminta orang untuk merenovasi kamar Amora agar ketika putrinya itu datang bisa menempati kamar itu dengan nyaman.


"Suka, Pa. Kamarnya bagus. Terima kasih Papa," ucap Amora mencoba mengembangkan senyumnya kepada Dirga. Rasanya masih sulit dipercaya, ia memiliki kedua orang tua, bahkan orang tua yang berkecukupan dan kini mereka bisa tinggal bersama.


"Mama harap kamu betah tinggal di sini. Kamu harus lebih banyak istirahat dan setelah keadaan kamu benar-benar siap, Mama dan Papa akan membantu serta mendukung apapun rencanamu untuk melakukan balas dendam kepada orang-orang yang sudah menyakitimu," ucap Rania menggenggam tangan putrinya.


Amora tersenyum mendengar ucapan Rania.


"Terima kasih, Ma. Aku akan menuruti semua ucapan Mama biar aku cepat pulih. Orang-orang jahat itu harus menerima balasan atas apa yang sudah mereka lakukan padaku." Amora menggenggam erat tangan ibunya.


"Mama akan selalu mendukung apapun yang kamu lakukan nanti. Asalkan itu tidak membahayakan kamu, mama setuju dan akan selalu mendukungmu." Rania memeluk Amora dengan penuh kasih sayang. Wanita itu sungguh sangat bersyukur karena bisa dipertemukan kembali dengan putrinya yang sudah lama hilang.


"Mama tenang saja, papa akan melindungi Freya dengan nyawa papa sendiri. Papa tidak akan membiarkan orang-orang itu bebas setelah membuat putri Papa menderita." Dirga ikut bergabung. Kedua orang tua dan anak itu saling berpelukan.

__ADS_1


"Mulai sekarang kami akan memanggilmu dengan nama Freya. Freya Aurora Dirgantara," ucap Dirga dengan tersenyum bangga.


"Selamat datang di kehidupan baru kamu, Freya. Setelah ini, kamu harus menjadi wanita yang kuat tinggalkan masa lalu kamu yang kelam, dan mulai hidup barumu. Amora sudah mati dan biarkan seluruh dunia tahu jika Amora memang sudah mati.


"Kamu akan mendatangi mereka dengan identitas kamu yang baru. Freya Aurora Dirgantara, sang pewaris dari keluarga Dirgantara." Dirga menatap Amora dengan bangga.


"Papa."


"Kamu harus hidup bahagia, Freya. Papa dan mama akan menebus semua waktu yang telah hilang selama tujuh belas tahun karena kami kehilangan kamu."


"Papa akan mengurus kartu identitasmu. Papa akan mengganti semuanya. Setelah pulih, kamu harus melanjutkan kuliahmu. Papa ingin kamu belajar bisnis agar kamu bisa meneruskan papa untuk memimpin perusahaan.


Kamu adalah harapan papa, Freya. Kamu harus menjadi wanita kuat dan hebat hingga kelak tidak akan ada lagi orang-orang yang akan menindasmu karena kamu lemah," lanjut Dirga bersemangat.


Semua kejadian yang menimpa Amora membuat amarah di dadanya berkobar. Tanpa sepengetahuan Amora, Dirga sudah menyelidiki tentang Sagara dengan bantuan Dewa.

__ADS_1


Dari Dewa juga Dirga mengetahui kalau keluarga itu justru menutupi kasus kematian Amora meskipun mereka sudah tahu siapa pelakunya.


****


Amora duduk menikmati pemandangan dari atas balkon. Bibirnya tersungging senyuman.


Tidak menyangka kalau takdir akan mempertemukannya dengan kedua orang tua kandungnya.


Amora pikir, dia tidak akan pernah merasakan kebahagiaan seperti yang saat ini dia rasakan. Amora mengingat dengan jelas bagaimana penderitaannya saat bersama dengan Sagara, lelaki yang sangat dicintainya.


Mengingat Sagara, membuat hati Amora terasa sakit. Bayangan saat Sagara menyakitinya sampai berkali-kali melintas di kepalanya hingga membuat kepalanya berdenyut.


Amora memijat kepalanya. Wanita itu menghela napas panjang, mencoba mengurangi rasa sakit di hatinya. Namun, bukannya berkurang, hatinya justru semakin sakit seperti ditusuk-tusuk dengan ribuan jarum.


"Sagara ... aku benar-benar menyesal karena pernah mencintai kamu."

__ADS_1


BERSAMBUNG ....


__ADS_2