DERITA CINTA AMORA

DERITA CINTA AMORA
INI KESEMPATAN KITA


__ADS_3

"Dokter bisa memberikan obat agar dia tidak sampai keguguran bukan?"


"Memang benar, Bu. Tapi biar bagaimanapun–"


"Sudahlah! Sebaiknya kamu berikan resep obat untuk Amora. Aku tidak mau keadaan Amora bertambah parah," tukas Rima kesal.


"Baiklah! Saya akan memberikan resep obat yang bisa menghentikan pendarahannya untuk sementara. Tapi, saya sarankan untuk segera ke rumah sakit jika terjadi sesuatu pada Nona Amora karena pasien sedang dalam keadaan hamil. Dia bisa kehilangan bayinya kapanpun juga," peringat Dokter Rama.


Ia sungguh tidak mengerti dengan keputusan Rima yang tidak memperbolehkan Amora dibawa ke rumah sakit.


"Saya akan menyuruh seorang perawat ke sini untuk mengganti infusnya jika sudah habis."


"Baik, Dokter."


"Hubungi saya jika terjadi sesuatu padanya. Langsung bawa ke rumah sakit jika dia kembali mengalami pendarahan." Dokter Rama menatap Sagara yang mengangguk pelan.


Dokter Rama kemudian meninggalkan rumah itu dengan perasaan tidak tenang. Seperti ada sesuatu yang disembunyikan dalam keluarga itu. Saat Amora demam kemarin, Sagara terlihat begitu panik bahkan bersikeras untuk membawa Amora ke rumah sakit meskipun wanita itu hanya terserang demam.


Dokter Rama bahkan sampai menenangkan Sagara agar tidak khawatir dan tidak perlu membawa Amora ke rumah sakit karena setelah minum obat, istrinya itu pasti akan sembuh. Sagara pun akhirnya menurut.


Akan tetapi, kenapa laki-laki itu sekarang tidak sepanik kemarin? Wajah Sagara memang kelihatan panik dan khawatir tetapi pria itu tidak berpikiran untuk membawa istrinya ke rumah sakit dengan segera padahal kali ini keadaan Amora bisa dibilang cukup parah.


Pendarahan yang dialami oleh Amora, jelas-jelas membahayakan janin yang saat ini berada dalam kandungan wanita itu namun kenapa Sagara tidak buru-buru membawa Amora ke rumah sakit?


"Sepertinya aku harus memberitahukan ini pada Pak Aditya. Semoga Pak Aditya bisa menasihati putranya untuk segera membawa istrinya ke rumah sakit," gumam Dokter Rama.

__ADS_1


Dokter Rama sudah bertahun-tahun menjadi dokter pribadi Aditya. Dia sangat tahu kalau yang menimpa Amora tidaklah main-main.


Sebagai dokter pribadi keluarga Aditya, dia harus memastikan kalau seluruh anggota keluarga itu baik-baik saja. Apalagi, kasus Amora ini dirinya juga yang ikut menanganinya. Dokter Rama tidak mau menanggung resiko seandainya nanti dia dipersalahkan jika terjadi sesuatu pada Amora.


***


Sagara terus menunggui Amora dengan cemas. Lelaki itu menggenggam tangan Amora dengan erat.


"Amora." Sagara menatap wajah pucat Amora. Semalam, setelah puas menyetubuhi Amora, Sagara langsung tertidur karena kelelahan. Dia bahkan tidak memedulikan keadaan Amora sama sekali.


Dia tidak tahu kalau Amora dari semalam merasa kesakitan. Pengaruh obat itu benar-benar membuat Sagara melakukannya berkali-kali. Sagara bahkan tidak memedulikan keadaan Amora yang terlihat tidak berdaya saat melayani birahinya.


"Saga." Suara seorang wanita membuat Sagara langsung menoleh ke arahnya.


"Sayang, kamu sudah pulang?" Sagara menatap Laura yang berjalan mendekatinya.


"Aku tadi menunggumu menjemputku tapi kamu tidak datang-datang," ucap Laura dengan wajah sedih.


"Maafkan aku, Laura. Aku–"


"Aku tadi menelepon Tante Mira, aku sangat terkejut saat mendengar cerita Tante Mira tentang Amora, makanya aku langsung pulang ke sini," jelas Laura penuh perhatian.


"Maafkan aku, kamu jadi pulang sendiri dari rumah sakit."


"Tidak apa-apa, Sayang, aku baik-baik saja." Laura tersenyum sambil mengusap wajah Sagara yang terlihat cemas.

__ADS_1


Sagara tersenyum mendengar ucapan Laura.


"Terima kasih."


"Hmm." Laura tersenyum manis.


"Bagaimana keadaan Amora?"


"Dia masih belum sadar dari pagi. Aku khawatir terjadi apa-apa sama dia." Sagara menarik napas panjang. Dadanya terasa sesak melihat keadaan Amora saat ini.


"Kenapa kamu tidak membawanya ke rumah sakit?"


"Lebih baik dirawat di sini saja. Kalau di sini banyak yang menjaga Amora daripada di rumah sakit." Suara Rima terdengar menimpali pembicaraan Sagara dan Laura.


"Maafkan Tante karena tidak menunggui kamu di rumah sakit. Tante juga tidak menjemputmu tadi karena keadaan Amora tiba-tiba seperti ini."


"Tidak apa-apa, Tante. Aku baik-baik saja." Laura tersenyum pada Rima.


Kedua mata dua wanita beda generasi itu berkilat penuh kelicikan.


"Ini kesempatan kita untuk menyingkirkan Amora untuk selama-lamanya, Tante. Kita tidak boleh menyia-nyiakannya," ucap Laura pada Rima, sesaat sebelum dirinya masuk ke dalam kamar Sagara untuk melihat keadaan Amora.


BERSAMBUNG ....


Duh! Nggak tega aku bikin bab berikutnya. Semoga kalian tidak kabur dan tetap stay di sini ya. Sesuai judul ya, Amora benar-benar menderita di tangan Sagara.

__ADS_1


Tapi tenang saja, penderitaan Amora pasti akan berakhir.


Ikuti terus ceritanya ya teman-teman ❤❤❤❤


__ADS_2