DERITA CINTA AMORA

DERITA CINTA AMORA
KAU AKAN SELAMANYA MENJADI SIMPANAN!


__ADS_3

"Papamu mengusirku dari rumah ini." Laura terisak di pelukan Sagara.


Saat ini mereka berada di taman di belakang rumah. Sagara mendekati Laura yang terlihat sedih pagi itu. Pria itu ingin pergi ke kampus, tetapi, saat melihat kesedihan Amora, Sagara mengurungkan niat dan memilih mendekati Laura.


"Kenapa Papa mengusirmu?"


"Aku tidak tahu. Kemarin, papa kamu marah sama Tante Rima karena melihat Amora sedang membersihkan taman. Om Aditya marah karena mengira Tante Rima yang sudah menyuruh Amora melakukan pekerjaan berat sementara Amora sedang dalam keadaan hamil."


"Lalu?" Sagara merasa penasaran.


"Om Aditya marah sama Tante lalu mengusirku dari rumah ini. Om Aditya takut kalau aku merecoki rumah tanggamu dengan Amora." Laura mendongak. Wanita itu menatap Sagara dengan kedua mata berkaca-kaca.


"Aku tidak ingin pergi dari rumah ini Sagara. Aku ingin tetap tinggal di sini dan bisa melihatmu setiap hari. Aku janji, sebelum kamu bercerai dengan Amora aku tidak akan mengganggumu." Laura kembali menangis.


"Aku sangat mencintaimu, Saga. Aku tidak mau kalau kamu benar-benar meninggalkan aku." Laura kembali memeluk pria itu sambil menangis.


Namun, saat wajahnya menempel pada dada bidang Sagara, terlihat seringai tipis pada bibirnya.


"Kau tenanglah! Aku akan bicara sama papa tentang masalah ini. Aku juga akan bicara pada Amora agar tidak kembali membuat ulah di rumah ini." Sagara mengusap rambut Laura dengan penuh kasih sayang.


"Kamu jangan terlalu keras pada Amora, Saga. Dia sedang hamil. Aku takut terjadi apa-apa pada bayinya," ucap Laura dengan penuh kelembutan.


"Kau tenang saja. Amora adalah urusanku. Aku tidak akan bermurah hati jika dia memang terbukti bersalah." Sagara mengepalkan kedua tangannya.

__ADS_1


Sementara itu, Laura tersenyum penuh kemenangan dalam pelukan Sagara.


Tidak jauh dari mereka, Amora menatap kedua insan yang sedang berpelukan itu dengan hati yang berdenyut sakit. Amora mengutuk perasaannya sendiri yang masih saja mencintai Sagara meskipun tahu kalau Sagara sudah ada yang memiliki.


Kamu harus sadar diri, Amora. Sagara tidak akan pernah mencintaimu walaupun setiap malam dia tertidur sambil memelukmu.


Amora melangkah menjauhi Sagara dan Laura. Wanita itu berjalan sambil membawa peralatan untuk membersihkan kolam renang. Pagi ini, sang ibu mertua menghukumnya dengan hukuman membersihkan kolam renang di samping rumah.


Rima sangat marah padanya karena gara-gara Amora, Aditya memarahinya. Rima mengancam akan memberitahukan pada Sagara untuk mengusirnya jika dia tidak menuruti keinginan Rima.


"Mau kemana kamu?"


Amora menghentikan langkahnya saat mendengar suara Sagara di belakangnya.


Sagara bahkan menggendongnya dari kamar ke dapur dan memasak untuk Amora dan juga pria itu yang ternyata juga melewatkan makan malam karena langsung tertidur setelah pulang dari kantor.


Amora menunjukkan beberapa alat kebersihan pada Sagara.


"Aku akan membersihkan kolam renang."


"Membersihkan kolam renang?" Sagara mengerutkan keningnya.


"Kau sedang hamil tapi ingin membersihkan kolam renang? Apa kamu ingin mengalami keguguran?" Wajah Sagara memerah.

__ADS_1


"Kamu bisa tanyakan itu pada ibumu. Ibu yang menyuruhku membersihkan kolam renang sebagai hukuman karena aku telah menyebabkan ayahmu memarahi ibumu," jawab Amora apa adanya.


"Apa maksudmu? Tidak mungkin mama menyuruhmu membersihkan kolam renang. Memangnya kemana Mang Dadang?"


"Mama kamu sudah memecatnya karena dia tidak ingin buang-buang uang untuk membayar Mang Dadang."


Mendengar ucapan Amora yang terkesan menghina sang mama membuat Sagara marah. Lelaki itu mencengkeram dagu Amora dengan keras membuat wanita hamil itu meringis kesakitan.


"Jaga bicaramu, Amora. Mamaku adalah mertuamu. Harusnya kamu menghormatinya seperti aku menghormati mama."


"Aku tidak berbohong. Mama kamu memang memecat Mang Dadang dan menyuruhku menggantikan pekerjaan Mang Dadang," jawab Amora tanpa takut. Netranya menatap Sagara dengan penuh amarah.


Sagara tersenyum meremehkan. "Kalau benar mama yang menyuruhmu menggantikan Mang Dadang, kerjakan dengan benar. Jangan sampai membuat mama kembali marah dan menghukummu lebih berat lagi!" Sagara melepaskan cengkraman tangannya pada dagu Amora. Lelaki itu kemudian pergi begitu saja meninggalkan Amora.


Laura yang sedari tadi mengintip Sagara yang sedang memarahi Amora tersenyum puas. Wanita itu berjalan mendekati Amora sambil tersenyum mengejek.


"Kau lihat, walaupun saat ini kamu adalah istrinya, tapi Sagara tetaplah milikku. Dia tidak akan pernah menganggapmu ada. Jadi, kenapa kamu tidak melepaskannya saja?"


"Melepaskannya? Tidak akan! Kalaupun aku tidak bisa memiliki hatinya, aku masih bisa memeluknya setiap malam. Sedangkan kamu, meskipun dia mencintaimu, selamanya kamu tetap akan menjadi simpanan!"


"Kau!"


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


__ADS_2