DERITA CINTA AMORA

DERITA CINTA AMORA
PERDEBATAN KELUARGA


__ADS_3

Suara gedoran pintu terdengar memekakkan telinga. Bukan hanya suara gedoran, tetapi, suara teriakan Rima juga terdengar nyaring memanggil-manggil Freya.


"Freya!"


"Freya! Buka pintunya!"


"Mama apa-apaan sih, Ma? Kenapa pagi-pagi Mama membuat keributan?" Suara Sagara terdengar. Lelaki itu sepertinya sangat marah dengan kelakuan ibunya.


Freya masih berbaring dengan malas. Wanita itu masih mengantuk karena semalam dia tidak bisa tidur. Beruntung Dewa menelepon dan menemaninya mengobrol sampai dia tertidur.


"Freya! Buka pintunya!" Kembali suara gedoran pintu terdengar.


Di luar kamar, Sagara dan Aditya juga ibunya terdengar sedang berdebat.


"Kamu keterlaluan, Rima! Freya itu tamu kita. Kamu tidak sepantasnya berlaku tidak sopan seperti ini!" hardik Aditya yang merasa kesal dengan tingkah Rima yang kekanakan.


"Mas, aku yakin sekali kalau Freya itu adalah Amora. Semalam dia datang ke kamarku dan menakuti aku, Mas. Aku yakin, Freya dan Amora adalah orang yang sama!"


"Kau jangan gila, Rima. Amora sudah meninggal. Kalian sendiri 'kan yang menyaksikan kematiannya? Lagipula, jika dia seringkali mendatangimu itu wajar karena kamu yang telah membuatnya meninggal!"


"Mas!" teriak Rima kesal.


"Apa yang dikatakan oleh Papa benar, Ma. Kalau pun Amora sering mendatangi Mama baik nyata ataupun mimpi, itu wajar saja, karena memang Mama yang sudah melenyapkan Amora!" Sagara mengepalkan tangannya ketika amarah mulai menyerang hatinya.


"Kamu jangan lupa, Saga! Kamu juga ikut andil sebagai penyebab kematian Amora. Seandainya kamu tidak menggaulinya dengan kasar, Amora tidak akan mengalami keguguran dan pendarahan hebat yang akhirnya membuatnya meninggal dunia!" Tidak mau kalah dengan suami dan putranya, Rima juga ikut berteriak mengatakan kesalahan Sagara yang memang ikut berperan sebagai penyebab kematian Amora.

__ADS_1


Mereka bertiga saling berdebat saling menyalahkan satu sama lain.


"Kenapa kalian berdua tidak percaya padaku jika wanita bernama Freya itu adalah Amora?" Rima menatap ke arah suaminya dan juga Sagara.


"Semalam wanita itu benar-benar datang ke kamarku dan menakutiku. Dia menggunakan baju milik Amora. Di–"


"Semalam, aku yang telah meminjamkan baju milik Amora pada Freya, Ma."


"Apa?!" Rima memekik kaget.


"Sampai kapan Mama terus-menerus membenci Freya, Ma? Freya gadis baik-baik. Dia juga terlahir dari keluarga yang baik. Kenapa Mama terus saja mencurigainya?" Sagara menatap ibunya dengan putus asa.


Entah dengan cara apalagi dia membujuk sang ibu agar tidak lagi membenci Freya.


"Dulu, Mama membenci Amora karena dia lahir dari keluarga yang tidak jelas. Mama membenci Amora hanya karena dia adalah yatim piatu. Sekarang, Mama juga membenci Freya. Memangnya apa kesalahan Freya sampai-sampai Mama tidak menyukainya?"


Freya yang mendengar teriakan Rima dari balik pintu kamar mengepalkan tangannya.


Freya sebenarnya ingin keluar, tetapi, mendengar perdebatan mereka bertiga, wanita itu mengurungkan niatnya. Rasanya sangat menyenangkan mendengar nenek lampir itu kembali disalahkan oleh suami dan anaknya.


"Amora bukan wanita baik, Freya bukan wanita baik. Lalu, seperti apa wanita baik di mata kamu, Rima? Seperti Laura? Wanita yang kamu ajak kerjasama untuk membunuh Amora?" Aditya yang merasa kesal pun ikut emosi.


"Dengar, Rima! Aku tidak mau dengar lagi kalau kamu membuat masalah dengan Freya. Freya adalah calon menantu di rumah ini. Jika kamu masih mau tinggal di rumah ini, kamu harus menuruti aturan di rumah ini. Tapi, jika kamu masih membangkang, kamu boleh keluar dari rumah ini!"


"Mas!" Rima berteriak marah.

__ADS_1


"Gara-gara perempuan itu kamu mau mengusir aku dari rumah ini? Kamu benar-benar keterlaluan!" Rima sangat marah mendengar ucapan Aditya. Sungguh! Kebenciannya pada Freya semakin bertambah saat melihat kemarahan Aditya dan Sagara.


"Kalau Mama tidak terus-menerus mencari masalah, Papa tidak akan marah sama Mama. Begitupun aku, Ma!"


"Saga! Wanita itu benar-benar bukanlah wanita yang baik untukmu. Dia selalu memperlakukan Mama–"


"Rima! Jika kamu ingin dihargai orang lain, kamu juga harus bisa menghargai orang lain meskipun orang itu lebih muda darimu," tukas Aditya.


"Ingat, baik-baik! Aku tidak melaporkan kamu dan Laura demi nama baik keluarga kita. Tapi, jika kamu masih membuat masalah, aku tidak akan segan-segan melaporkanmu ke polisi. Kamu jangan lupa, aku menyimpan banyak bukti kejahatanmu dan Laura saat kamu membunuh Amora!" teriak Aditya membuat Freya yang menguping di balik pintu merasa terkejut.


"Jadi, papa mertuanya selama ini sudah tahu dan mempunyai bukti-bukti kejahatan Rima dan Laura, tapi, dengan sengaja Aditya menutup mata dan melindungi pelaku yang telah membunuh dirinya?" batin Freya.


Wanita itu tersenyum miris. Aditya yang ia kira tulus menyayanginya pun ternyata ikut menyembunyikan kebenaran hanya demi nama baik keluarga besar mereka.


Freya membuka pintu kamar. Wanita itu terlihat menutup mulutnya karena menguap.


"Sayang, kamu sudah bangun?" Sagara mendekati sang kekasih.


"Kamu! Jadi benar kamu yang semalam menyelinap ke kamarku? Amora! Aku tahu, ini adalah kamu. Kamu dan Freya orang yang sama bukan?"


"Mama!" teriak Sagara.


"Tante, apa maksud, Tante? Semalam, setelah Sagara memberikan aku baju tidur milik Amora, aku langsung tidur. Saking mengantuk, aku sampai lupa tidak membersihkan makeup di wajahku. Jadi, mana mungkin aku menyelinap ke dalam kamar Tante?"


"Kamu!"

__ADS_1


BERSAMBUNG ....


__ADS_2