
Amora melempar senyum diantara sakit hatinya kepada Laura sebelum berlalu meninggalkan gadis itu.
Mungkin jawabannya berhasil membuat Laura kesal, tapi tetap saja tidak akan membuat Laura menjauhi suaminya. Amora hanya berusaha mempertahankan harga dirinya yang tidak pernah dianggap mertuanya dan Laura.
Segera Sagara masuk ke dalam ruangan ayahnya begitu pria itu tiba di kantor. Dia harus bicara serius pada pria itu. Dengan kasar Sagara membuka pintu ruangan Aditya, membuat pria yang tengah berbicara dengan salah satu bawahannya itu terkejut dan segera menoleh ke arah Sagara yang kini sudah berdiri di tengah ruangan.
Kilat di mata Sagara jelas menunjukkan bahwa pria itu sedang marah pada Aditya. Bisa saja Aditya menyuruh Sagara keluar dari ruangan itu, bagaimanapun juga, dia masih pemilik perusahaan tempat Sagara bekerja, berlaku tidak sopan kepadanya tidak akan ditolerir meskipun itu adalah darah dagingnya sendiri.
Akan tetapi, Aditya tidak melakukan apa yang singgah dibenaknya. Aditya justru meminta anak buahnya yang tadi sedang diskusi dengannya untuk keluar.
Awalnya Sagara menolak untuk bekerja paruh waktu di perusahaan itu. Dia ingin serius menamatkan kuliahnya terlebih dulu, barulah terjun ke dunia kerja, tetapi, ayahnya tetap memaksa.
Jika ingin semua akses dan juga fasilitas yang dia dapatnya setiap bulan tetap diberikan oleh Aditya, maka Sagara harus bekerja, nanti Aditya juga akan memberikan gaji yang bisa pria itu berikan untuk istrinya.
"Sepertinya ada hal serius yang ingin kau katakan pada papa, hingga kau melupakan sopan santun dan etika ketika memasuki ruangan atasanmu?" ucap Aditya menyandarkan punggungnya ke kursi lalu melipat tangan di dada, tatapannya menantang Sagara untuk mengungkapkan isi hatinya yang sejak tadi ingin dia muntahkan.
__ADS_1
"Apa maksud Papa meminta Laura keluar dari rumah? Papa tahu sendiri apa arti gadis itu dalam hidupku, 'kan? Dia sangat berarti untukku, Pa. Aku akan menikahinya, aku tidak bisa kehilangan Laura!" jawab Sagara dengan lantang, dia masih merasa hebat dengan pendirian dan isi pikirannya.
Sementara Aditya hanya bisa mengusap wajahnya dengan kedua tangan, merasa semakin gagal mendidik Sagara. Keberadaan Amora dan juga keadaan wanita itu yang tengah mengandung anak Sagara tidak serta-merta membuat putranya itu sadar dan bisa bersikap dewasa.
Apa yang ada di dalam pikiran Sagara hingga menganggap bahwa dia masih bisa menikah dengan Laura walaupun kini dia sudah memiliki istri?
Di dalam silsilah keluarga mereka, tidak ada pernah satu orang pun yang melakukan poligami walaupun mungkin tidak ada larangan, terlebih di agama mereka. Namun, menurut Aditya berprinsip, cukuplah sudah hanya memiliki satu istri.
Apalagi yang kurang dalam kehidupan Sagara? Sebenarnya sudah sangat sempurna. Kehidupan yang banyak diimpikan oleh pria di luar sana. Memiliki pekerjaan, posisi dan jabatan, uang serta istri yang sebentar lagi akan disempurnakan dengan memiliki anak.
"Aku akan menceraikan Amora. Papa pasti sudah tahu bukan, setelah anak itu lahir aku akan bercerai dengan Amora dan tidak satu orang pun yang bisa menghalangiku menikahi Laura!" ucap Sagara dengan tegas, lalu berbalik untuk pergi meninggalkan ruangan ayahnya.
Namun, sebelum sampai memegang handle pintu, Sagara kembali berbalik untuk melihat ayahnya. "Sekali lagi aku minta pada Papa, jangan ikut campur urusanku dengan Laura dan jangan pernah mengusir Laura dari rumah itu atau ayah akan kehilanganku juga!" ancam Sagara.
Pria itu tahu ayahnya itu tidak akan mungkin mengusirnya atau merelakan kepergiannya karena saat ini ayahnya sangat peduli kepada Amora. Wanita itu bisa menjadi senjata bagi Sagara untuk memanfaatkan kelemahan ayahnya.
__ADS_1
***
"Apa kau melihat gadis bodoh itu?" tanya Rima mendatangi Laura yang sedang menghias kukunya dengan kuteks berwarna biru langit. merasa jenuh dan tidak puas dengan warna kuku lamanya Laura memanggil petugas salon langganannya untuk merawat kuku kaki dan tangannya di rumah.
"Mungkin masih di kolam, Tante, memangnya kenapa?" tanya Laura antusias, menurunkan kakinya dari paha Mbak salon.
"Tante masih merasa kesel karena dia sudah mengadu pada papanya Sagara. Dia juga sudah berani mengatai Tante pada Sagara, seolah ingin menunjukkan bahwa Tante ini adalah mertua yang kejam. Apa dia pikir dengan melakukan tindakan seperti itu Saga akan membelanya?" terang Rima dengan berkacak pinggang, berulang kali ia mendengus kasar.
"Bener banget, Tante. Aku juga dengar dia ingin mengadu domba Tante sama Saga, biar Saga belain dia terus. Kalau begini terus bisa-bisa Saga akan terpengaruh, Tante," ucap Laura menggalakkan api kebencian di hati Rima.
Virus kebencian yang ditabur Laura berhasil mempengaruhi Rima, wanita itu bergegas berjalan ke arah pintu samping menuju kolam renang.
Benar saja, Amora masih di sana dengan susah payah memegang galah yang begitu panjang yang di ujungnya dikaitkan jala untuk membersihkan kolam dari dedaunan yang tertiup angin.
"Amoraaaaa!"
__ADS_1
BERSAMBUNG ....