DERITA CINTA AMORA

DERITA CINTA AMORA
AKU BENAR-BENAR BODOH!


__ADS_3

"Ti-dak! Tidak mungkin!" pekik Sagara tidak percaya atas apa yang sudah dia dengar.


Pernyataan dokter yang mengatakan bahwa saat ini bayi mereka yang ada dalam kandungan Amora sudah tidak bisa diselamatkan membuat Sagara sangat terkejut. Apakah istrinya itu sudah tahu keadaannya saat ini? Bagaimana kalau saat siuman nanti, Amora begitu marah ketika mengetahui kabar duka itu?


Bagaimana mungkin anak yang sudah mulai dirindukan itu tidak jadi lahir di dunia?


Sagara sungguh tidak bisa menerimanya. Dia memang pernah tidak menginginkan bayi itu. Akan tetapi, rasanya, hatinya sangat sakit ketika mendengar jika calon anaknya itu sudah tidak ada lagi di dalam perut Amora.


Dokter menjelaskan panjang lebar mengenai kasus yang dialami Amora, tetapi, tampaknya Sagara enggan untuk mendengar hal itu. Dia sudah larut dalam kesedihan karena ditinggal mati oleh anaknya yang belum sempat melihat dunia.


"Maaf Pak, kita harus melakukan tindakan untuk mengeluarkan bayinya dengan cepat. Kalau tidak, akan sangat berbahaya bagi ibunya kalau sampai janin dalam rahimnya tidak segera dikeluarkan."


"Bapak harus tanda tangani surat pernyataan ini dan tidak akan ada tuntutan kepada pihak rumah sakit atas apa yang akan terjadi nantinya terhadap pasien." Kembali, sang dokter mengajaknya bicara.


Sagara hanya memikirkan keselamatan dan kebaikan Amora. Kalau kata dokter bahwa janin itu bisa membuat Amora meninggal, maka dia akan menyetujui surat yang disodorkan oleh sang dokter.


Sagara Sudah menandatangani surat pernyataan yang akan mengizinkan istrinya untuk melakukan tindakan kuret untuk mengeluarkan janin yang sudah tidak bernyawa pada rahim Amora.

__ADS_1


Dokter itu kembali ke dalam ruang perawatan, menyisakan rasa cemas di hati Sagara yang menunggu di depan pintu. Dia hanya bisa berdoa agar Amora bisa sembuh.


Hari sudah sore ketika Rima dan Laura datang untuk melihat keadaan Amora, apakah sudah binasa atau belum.


"Bagaimana keadaan Amora?" tanya Rima dengan sedikit gugup. Dia harus mendengar penjelasan dokter yang menangani Amora, apakah kecurangan mereka yang sudah mencekoki banyak obat kepada Amora bisa membahayakan mereka.


"Sebenarnya apa yang terjadi di rumah? Apa Mama tidak memperhatikan Amora dan melihatnya di kamar? Coba Mama bayangkan, seandainya aku terlambat pulang, entah apa yang akan terjadi pada istriku!" hardik Sagara emosional.


"Ma-Mama menjaga dan merawatnya. Kamu gak percaya? Kamu bisa tanya Laura, bagaimana Mama memperhatikan Amora," jawab Rima menutupi kebusukannya.


"Apa? Tidak mungkin. Mama sudah merawatnya dengan baik di rumah dan juga memberinya obat sesuai petunjuk Dokter Rama. Bagaimana bisa dia keguguran?" Rima menatap Sagara yang terlihat sedih. Wajah putranya tampak cemas dan khawatir.


"Aku tidak tahu, Ma. Seharusnya aku membawa Amora dari pertama dirinya mengalami pendarahan. Bukannya malah menuruti keinginan Mama." Sagara sungguh sangat menyesali keputusannya untuk tidak segera membawa Amora ke rumah sakit.


Padahal, dia sangat tahu jika keadaan Amora begitu parah. Dokter Rama bahkan berkali-kali mengingatkan Sagara untuk membawa Amora ke rumah sakit.


Namun, bodohnya Sagara karena menuruti sang mama. Rima selalu menakuti Sagara kalau Sagara pasti akan terlibat hukum karena perbuatannya pada Amora.

__ADS_1


Sagara memang menceritakan kejadian malam itu pada Rima. Dia menceritakan bagaimana tiba-tiba Amora mengalami pendarahan.


Saat Laura jatuh dari tangga, Sagara dengan sigap membawanya ke rumah sakit walaupun keadaan wanita itu tidak terlalu parah. Namun, ketika istrinya yang benar-benar mengalami pendarahan parah, dirinya justru membiarkan wanita itu dirawat di rumah.


Sagara bahkan mempercayakan Amora pada sang mama dan Laura. Padahal, dia tahu kalau ibu dan kekasihnya itu mempunyai kesibukan sendiri. Bagaimana mungkin mereka berdua memberikan perhatian dan perawatan pada Amora yang terbaring lemah di atas ranjang?


"Aku benar-benar bodoh!"


"Saga–"


"Seharusnya aku tidak menuruti Mama!" Sagara berteriak kesal pada wanita yang telah melahirkannya itu.


"Aku tidak peduli meskipun aku terjerat hukum karena kenyataannya aku memang bersalah pada Amora!"


"Saga!"


__ADS_1


__ADS_2