
Sagara meninggalkan Amora yang terlihat marah. Seandainya saja dia tidak ada janji dengan dosen pembimbing di kampus, Sagara pasti akan menghukum Amora karena perempuan itu menolak untuk mengakui kesalahannya.
Setelah pulang dari kampus, sesuai janjinya pada Laura, pria itu datang untuk menemani kekasihnya itu di rumah sakit. Malam harinya, Sagara pulang dari rumah sakit. Dokter mengatakan, besok pagi Laura baru boleh pulang ke rumah.
Oleh karena itu, Sagara berpamitan pada Laura untuk pulang terlebih dahulu untuk menyelesaikan pekerjaannya kemudian besok pagi ia akan menjemput wanita itu. Meskipun berat, Laura akhirnya setuju.
Dalam perjalanan pulang, Sagara mendapat telepon dari Dean. Mereka mengajak Sagara bertemu di klub malam langganannya. Padahal, semalam Sagara juga bertemu mereka di sana, tetapi, malam ini mereka kembali mengajaknya.
Sagara yang memang sedang kalut dan butuh hiburan, tidak menolak saat Gerald dan Dean mengajaknya bersenang-senang. Paling tidak, dia bisa melepaskan beban di kepalanya untuk sementara.
Saat mereka bertemu di klub malam, Sagara dan kedua temannya minum sambil saling bercerita tentang masalahnya masing-masing.
Dean yang mengetahui masalah yang dialami oleh Sagara memberikan solusi. Lelaki itu memberikan obat pada Sagara untuk menghilangkan pusing. Namun, tidak disangka, pusing yang dimaksud oleh Dean bukanlah pusing yang sesungguhnya.
Lelaki itu memaki Dean saat tiba-tiba rasa panas menjalar di seluruh tubuhnya. Dean dan Gerald terbahak melihat reaksi Sagara. Merasa bersalah dan takut terjadi apa-apa pada Sagara, mereka berdua kemudian membawa Sagara pulang ke rumahnya.
Sagara masuk ke dalam kamar dalam keadaan setengah mabuk dan pengaruh obat perangsang yang diberikan oleh Dean. Saat dirinya masuk ke dalam kamar, Sagara melihat Amora sedang berbaring di atas ranjang.
Ketika melihat Amora, Sagara mengingat Laura yang berada di rumah sakit. Lelaki itu kemudian mengingat perdebatannya dengan Amora tadi pagi saat dia meminta Amora meminta maaf pada Laura.
Tadi pagi, amarahnya pada sang istri belum mereda. Tetapi, dirinya harus pergi kuliah dan terpaksa meninggalkan Amora yang pagi tadi pun ikut tersulut amarah karena tidak terima dengan permintaannya.
Amora menatap Sagara yang baru datang dan menatapnya tajam. Bau alkohol menguar saat lelaki itu perlahan mendekatinya.
"Kau mabuk?" Amora menatap tajam ke arah Sagara. Wajah pria itu memerah.
"Aku hanya minum sedikit." Sagara membuka pakaiannya kemudian melemparkannya dengan asal. Pria itu saat ini hanya memakai celana panjang saja.
__ADS_1
"Apa kau sudah memikirkan semua ucapanku tadi pagi?" Sagara mendekat. Hawa panas di tubuhnya membuat Sagara ingin sekali menyentuh Amora sekarang.
Amora bangkit dari ranjang saat lelaki yang menjadi suaminya itu mendekat ke arahnya.
"Sudah aku bilang, sampai kapanpun aku tidak akan minta maaf padanya. Aku tidak bersalah, kenapa aku harus meminta maaf?" Amora menjawab dengan santai. Namun, Amora tidak tahu jika jawabannya itu justru memantik amarah Sagara.
"Amora. Kenapa kau begitu keras kepala? Aku melihatmu dengan mata kepalaku sendiri kalau kamu mendorongnya, kenapa kamu masih tidak mau mengakuinya?" Sagara menatap marah pada Amora.
Kerasnya hati wanita itu berhasil menyulut amarah Sagara. Berulang kali pria itu memaksa agar Amora meminta maaf pada Laura, tetapi, berulang kali juga gadis itu menolaknya.
Kesabaran Sagara terkikis sudah. Dia menjambak rambut Amora kemudian melempar wanita itu ke atas ranjang. Pengaruh alkohol masih melekat, hingga kepalanya tidak bisa berpikir jernih atas tindakannya. Ditambah lagi tubuhnya sedari tadi menahan gairah yang tak tertahankan akibat obat yang diberikan oleh Dean.
Darah Sagara mendidih karena Amora masih juga membangkang. Dalam benak Sagara, jelas Amora bersalah pada Laura, tetapi, wanita berbadan dua itu tetap kekeuh merasa benar.
"Ke sini kau! Istri pembangkang sepertimu harus diberi pelajaran agar kau tahu dimana tempatmu! Sebagai istri seharusnya kau harus patuh pada perintah suami. Apa kau tidak pernah diajari, hah?" hardik Sagara masih sibuk membuka tali pinggangnya.
Libidonya semakin naik seiring amarahnya. Sial! Obat yang diberikan oleh Dean tadi semakin bereaksi.
Kekesalannya semakin bertambah saat mendengar semua kata-kata Amora yang justru semakin menyulut amarahnya.
Amora menatap nanar sosok pria kejam yang kini ada di hadapannya. Sagara sudah membuka celananya dan Amora bisa menebak jenis hukuman apa yang akan ditawarkan pria itu padanya.
"Kau harus menerima hukuman ini, agar kau terdidik. Kau memang liar!" Sagara menatap tajam pada Amora.
"Sepertinya aku lupa siapa kau sebelumnya. Tentu saja sikapmu sangat liar dan seenaknya karena kau hanya gadis kampung! Yatim piatu dari panti asuhan sepertimu jelas saja sangat berbeda dengan Laura yang berkelas!"
Sagara terus mengoceh, sambil melucuti pakaian yang masih tersisa pada tubuhnya hingga polos seperti bayi yang baru lahir.
__ADS_1
Tubuh Amora membeku saat Sagara mulai naik ke atas ranjang. Dia tidak mungkin mencoba kabur lagi. Tadi sudah melakukannya sekali, dan pria itu dengan gampangnya mengejarnya, menyeret dirinya kembali ke kamar.
Tidak ada yang bisa diminta pertolongan. Aditya sedang ada undangan dari rekan bisnisnya bersama Rima. Hanya mereka berdua bersama pelayan di rumah saat ini.
Berteriak meminta tolong pada pelayan? Tidak akan ada gunanya. Mereka semua takut pada kegilaan Sagara.
Amora masih mencoba mempertahankan pakaiannya agar tidak dibuka oleh Sagara, tetapi, tenaganya semakin menipis.
Dia juga lelah. Kurang makan dan juga tidur membuatnya tak berdaya. Amora sudah pasrah, dia akan menerima apapun yang dilakukan Sagara padanya, walaupun tentu saja dia tidak akan ikhlas.
Amora mengutuk perbuatan Sagara. Berharap ketika pria itu menggagahinya, dia akan mati. Lebih baik ia tidak ada di dunia ini lagi, hidupnya sudah hancur. Tidak ada satu harapan pun yang bisa membangkitkan semangatnya untuk bertahan.
Tiba-tiba Amora mengingat calon anaknya. Untuk pertama kalinya ia mengingat calon bayi dalam kandungannya. Ada rasa tidak tega untuk berpisah dengan darah dagingnya itu. Anak itu memang belum pernah dia lihat karena saat ini janin itu melekat pada dirinya. Bagaimana mungkin dia memilih untuk mati? Jika dia mati, maka anaknya pun akan mati juga. Dia mungkin saja sudah hancur dan tidak punya kesempatan untuk berbahagia di dunia ini, tetapi anaknya masih punya harapan.
Siapa dirinya yang berhak mengambil nyawa anaknya sendiri? Anak itu juga tidak ingin dilahirkan ke dunia ini kalau tahu bahwa ayahnya sebejat binatang.
Hujan di luar menjadi saksi betapa perasaan Amora hancur berkeping-keping dan ini yang terburuk. Malam itu dia digagahi oleh Sagara berulang kali. Pengaruh obat itu membuatnya Sagara bermain liar bahkan melakukan gaya bercinta yang tidak biasa.
Nalurinya mati, bergerak seperti binatang yang tidak punya sisi lembut. Tubuh Amora seolah terpotong-potong, Ia hanya bisa menahan rasa sakit dari setiap sentuhan kasar yang dilakukan Sagara.
Ini pertama kalinya Sagara memaksa untuk melakukan hubungan dengan kasar dan bengis. Menusuk tubuhnya, mencakar punggung, menggigit bahkan bagian intinya seolah terkoyak oleh kesadisan Sagara.
Pria itu sangat terobsesi untuk melakukan hubungan dengan cara sadis yang justru mendatangkan kenikmatan bagi dirinya.
Tidak hanya dari depan, Amora juga diperkosa dari belakang yang membuat gadis itu harus menggigit sprei untuk menahan rasa sakit yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.
Malam itu dia mengutuk Sagara. Dia bersumpah bahwa pria itu tidak akan pernah bahagia sebelum bersujud di kakinya untuk minta maaf. Rasa sakit pada tubuh dan hati Amora membuatnya putus asa. Amora berdoa pada Tuhan agar malam ini Tuhan mencabut nyawanya.
__ADS_1
Jika dia mati, maka tidak akan pernah ada kesempatan bagi Sagara untuk meminta maaf padanya. Amora bersumpah, suatu saat Sagara pasti akan menyesali perbuatannya hari ini.
BERSAMBUNG ....