DERITA CINTA AMORA

DERITA CINTA AMORA
RENCANA LAURA BERHASIL


__ADS_3

Setelah puas menyiksa Amora, Sagara pergi meninggalkan perempuan itu. Sagara memilih pergi ke klub malam untuk bertemu dengan Gerald dan Dean. Setelahnya, lelaki itu menenangkan diri di apartemennya.


Pagi harinya, Sagara bergegas ke rumah sakit untuk melihat keadaan Laura. Pria itu begitu khawatir saat mendengar Laura tidak sadarkan diri sampai tengah malam.


Kekasihnya itu baru sadar di pagi hari sekitar jam lima pagi. Saat mendengar kabar itu, Sagara langsung menuju ke rumah sakit.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Sagara lembut, menyelipkan sejumput rambut Laura yang membingkai wajah gadis itu ke belakang telinganya. Dokter sudah memeriksa keadaan Laura. Syukurnya hanya pergelangan kakinya yang terkilir, sudah diolesi salep dan dokter meminati untuk tidak terlalu banyak bergerak dulu agar tidak terjadi pembengkakan dan cepat sembuh.


Laura juga mengalami luka robek sedikit di bagian kepalanya karena terbentur ujung tangga. Luka itulah yang menyebabkan Laura mengalami pendarahan.


Sagara menatap sendu pada wajah Laura yang meringis kesakitan, tetapi, tetap berusaha tersenyum untuk menenangkan Sagara.


"Aku nggak apa-apa, Saga. Jangan sedih lagi. Kamu dengar sendiri 'kan kata dokter, kalau kakiku akan cepat sembuh," jawab Laura meletakkan satu telapak tangannya di pipi pria itu membelai dengan jarinya, mengikuti tekstur rahang wajah Sagara.


Hati Laura melonjak kegirangan, tujuannya tercapai. Rencananya telah berhasil. Biarlah dia merasakan sakit di kaki dan juga kepalanya, yang penting dia mendapatkan perhatian dari Sagara sekaligus bonus kebencian Sagara pada Amora.


"Aku minta maaf atas perlakuan Amora padamu. Aku gak menyangka kalau dia tega melakukan hal itu," lanjut Sagara mengambil tangan Laura yang bermain di pipinya, lalu mengarahkan ke bibirnya untuk dia cium telapak tangan gadis itu.


"Aku hanya mencoba menolongnya, tapi Amora justru melepaskan tanganku saat keseimbanganku tidak stabil, hingga aku pun terjatuh. Kamu tahu, aku sudah peringatkan untuk berjalan hati-hati di tangga, tapi dia tidak mendengar. Dia terlalu bersemangat menyambutmu untuk segera pergi bersamamu," terang Laura mencoba mengeluarkan air matanya dengan susah payah. Namun ternyata usaha tidak mengkhianati hasil. Air mata itu jatuh juga.

__ADS_1


Laura layak mendapatkan piala Oscar untuk aktingnya, paling tidak masuk nominasilah. "Aku hanya takut bayi dalam kandungannya celaka kalau dia jalan cepat-cepat begitu," lanjut Laura.


Sagara mengepalkan tangannya. Mendengar cerita Laura membuat amarahnya terhadap Amora kembali bangkit. Semalam, meskipun dia berkali-kali menamparnya, tetapi, Amora tetap tidak mau mengakui kesalahannya.


Wanita itu tetap bersikeras dengan pendiriannya. Padahal, Sagara sendiri dengan begitu jelas melihat kalau Amora memang melepaskan tangan Laura hingga membuat Laura jatuh.


"Aku mengerti, Sayang. Aku tahu niatmu baik, tapi dasar wanita itu yang tidak punya hati. Dari awal aku tahu dia tidak menyukaimu, seharusnya aku tidak menyuruhmu untuk tinggal di rumah agar dia tidak mengganggumu. Aku benar-benar tidak akan memaafkannya!" Sagara mengepal tinju.


"Kamu istirahat dulu, biar cepat sembuh. Nanti aku datang lagi," lanjutnya membelai puncak kepala Laura.


Baru akan melangkah, Laura menahan langkah Sagara dengan menarik tangan pria itu. "Apa kau akan pergi kuliah?" tanya Laura tersenyum manis, sengaja membusungkan dadanya agar terlihat penuh dan Sagara bisa terpikat.


"Ya. Aku harus ketemu dosen pembimbingku pagi ini. Setelah kuliahku selesai, aku akan datang lagi ke sini untuk menemanimu." Sagara membelai pipi Laura dengan lembut.


"Iya, Sayang, aku udah ijin sama papa tidak ke kantor hari ini." Sagara tersenyum.


"Terima kasih, Saga. Aku mencintaimu." Laura menatap Sagara dengan kedua mata berbinar.


"Aku juga mencintaimu." Sagara tersenyum menatap Laura. Merasa lega karena gadis itu baik-baik saja.

__ADS_1


"Saga, bisakah kamu memelukku sebelum pergi?" Laura yang terbaring di atas brankar merentangkan tangannya.


Sagara tersenyum kikuk. Ada rasa segan kini dalam hatinya, sangat berbeda dengan dulu. Entah kenapa, semenjak dia menikah dengan Amora, selalu ada perasaan aneh setiap kali ingin menyentuh kekasihnya itu. Padahal hanya sekedar berpelukan.


Namun demikian, Sagara mendekat, memangkas jarak di antara mereka lalu memeluk wanita itu. Sagara mengecup pipi Laura, tapi dengan sigap, Laura yang merasa itu tidak cukup semakin menarik Sagara, mengalungkan tangannya di leher pria itu, lalu menyatukan bibir mereka. Tidak hanya sekilas, tapi lidahnya menyeruak masuk menjelajah rasa mint di bibir pria itu membuat Sagara tersentak kaget.


Ini adalah pertama kalinya dia mencium Laura meskipun gadis itu sering memulainya, tetapi, biasanya Sagara langsung menolak. Namun, kali ini, Sagara merasa dilema untuk mengakhiri ciuman itu.


******* itu terus berlanjut, Sagara terperangkap. Lelaki itu pun akhirnya ikut terhanyut dalam ciuman itu. Laura tersenyum dalam ciumannya. Setelah sekian lama, akhirnya dia bisa benar-benar berciuman dengan Sagara.


Lelaki itu benar-benar hebat. Laura sampai kewalahan hingga dia sendiri yang mengakhiri ciuman itu. Namun berapa detik berikutnya, Laura mengambil kesempatan menarik tubuh Sagara hingga jatuh menimpanya di atas ranjang kemudian kembali melabuhkan bibirnya pada bibir Sagara.


Tanpa mereka sadari, seseorang mengintip dari celah pintu yang tidak tertutup rapat.


Perih hati Amora, berdenyut mendatangkan rasa sakit yang tidak terperikan. Amora bergegas berlalu dari sana. Seharusnya dia tidak datang ke rumah sakit.


Amora yang sebenarnya masih merasa lemas akibat siksaan yang semalam diberikan oleh Sagara buru-buru pergi ke rumah sakit karena mendengar dari asisten rumah tangga Sagara yang semalaman menjaga Laura kalau Laura sampai saat ini belum sadar akibat luka yang dideritanya.


Namun, saat dirinya tiba di kamar Laura, dia justru mendapati suaminya bercumbu dengan wanita yang masih berstatus sebagai kekasihnya itu.

__ADS_1


Amora berjalan sepanjang koridor rumah sakit dengan langkah tergesa. Dia butuh waktu, setidaknya beberapa menit untuk menenangkan dirinya. Amora ingin menumpahkan air matanya tanpa ada yang melihat.


Puas menangis, dan sedikit merasa plong, Amora bangkit dari duduknya. Berulang kali meyakinkan hatinya, bahwa tidak ada gunanya mengharapkan Sagara. Pria monster itu tidak akan pernah mencintainya dengan tulus.


__ADS_2