
Aku ingin bicara serius dengan Mama!" seru Sagara yang masih bertahan duduk di tepi ranjang ibunya. Rima tahu bahwa putranya tidak akan meninggalkan dirinya sebelum dia menjawab semua pertanyaannya.
Rima bersiap menghadapi kemarahan putranya dia duduk bersila dan siap beradu argumen dengan Sagara.
"Apa yang ingin kau bicarakan dengan Mama?" tantang Rima, walaupun dia sudah bisa menebak perihal apa yang membuat Sagara begitu marah kepadanya.
"Maksud Mama apa? Kenapa Mama harus memberitahu Freya soal Amora? Mama tega mengatakan kalau aku menyukainya hanya karena wajahnya mirip dengan Amora? Mama tahu betul itu tidak benar!" bentak Sagara memulai perdebatan mereka.
Kalau dulu dengan Amora dia membiarkan ibunya ikut campur, tapi tidak untuk yang ini. Sagara tidak mau dua kali jatuh cinta tapi dua kali pula harus kandas ditengah jalan karena perbuatan ibunya.
"Siapa yang coba kamu bohongi? Aku ini ibumu, Sagara! Mama tahu bahwa kau tertarik pada wanita itu hanya karena wajahnya begitu mirip dengan Amora." Rima menatap putranya yang terlihat marah mendengar ucapannya.
"Mama salah! Aku mencintai Freya bukan karena mirip dengan Amora, tapi karena aku memang benar-benar mencintainya!" bantah Sagara tidak terima dengan tuduhan ibunya.
"Kau mengatakan bahwa itu cinta? Itu bukan cinta, Sagara. Itu hanya bentuk penyesalanmu karena sudah membiarkan Amora meninggal!
Kau hanya berempati dan ingin menebus kesalahanmu pada sosok yang begitu mirip dengan Amora, seolah dengan berbuat baik dan mendekati Freya, kau merasa bahwa segala dosa dan kesalahan yang pernah kau lakukan kepada Amora bisa diampuni!" tegas Rima mencoba menyadarkan putranya.
Setelah meninggalnya Amora, tidak ada lagi yang tersisa dalam hidup Rima, bahkan satu-satunya putra yang paling dia sayangi dan diperjuangkan. Kebahagiaannya selama ini telah menghilang.
Aditya dan Sagara kini telah membuang dirinya, tidak memedulikannya, hanya karena keberadaan wanita bernama Freya. Dulu Amora yang membuatnya kesal. Setelah Amora berhasil disingkirkan, ternyata hadir Freya, gadis cantik yang wajahnya mirip sekali dengan Amora.
__ADS_1
Rima sungguh membencinya. Kebenciannya semakin bertambah karena kejadian sore tadi di kolam renang.
Gara-gara Amora mengatakan padanya tentang temannya yang keguguran dan meninggal dunia membuat Rima panik. Apalagi, kejadian yang menimpa teman Amora sama persis dengan apa yang terjadi dengan Amora di masa lalu.
Seandainya Aditya dan Sagara melaporkan kasus Amora ke polisi, mungkin saat ini dirinya dan Laura sudah berada di penjara.
Rima tidak ingin menyerah, ia masih ingin memisahkan Sagara dengan Freya terlebih setelah mengetahui bahwa Freya adalah putri dari musuh bebuyutannya.
Satu hal yang tidak dimengerti oleh Rima, bagaimana mungkin putri mereka bisa kembali hadir di tengah-tengah keluarga mereka? Sementara saat itu hanya dia yang tahu di mana putri mereka berada. Atau ... jangan-jangan Dirga dan Rania punya anak perempuan lain selain anak kecil yang dulu pernah ia culik?
Saat mengetahui kalau Freya adalah anak Dirga dan Rania, api kemarahan di hati Rima bergejolak. Dendam lama yang Rima simpan kembali memuncak.
Kilasan masa lalunya bersama Dirga kembali melintas di kepalanya. Seharusnya yang bersanding dan menjadi istri Dirga adalah dirinya bukan wanita bernama Rania.
Rima tersisih. Dirga meluangkan begitu banyak waktunya bersama Rania yang biasanya dihabiskan bersama Rima yang walaupun saat itu hanya berstatus sahabat.
Bertahun-tahun menjadi sahabat, Dirga tidak pernah mengatakan perasaannya kepada Rima, walaupun wanita itu tahu dan sangat yakin bahwa Dirga juga memiliki perasaan yang sama dengan yang dia rasakan.
Rima masih betah bertahan di sisi Dirga, berharap suatu hari pria itu akan menoleh dan melihatnya berbeda, melihatnya sebagai gadis yang cantik dan bisa menggetarkan hatinya, bukan hanya sebagai sahabat.
Namun, belum waktu itu datang, Rania muncul dalam kehidupan mereka. Sejak itu Dirga pun berubah. Setelah kabar terakhir yang didengar Rima bahwa mereka akan menikah, wanita itu memutuskan untuk pergi dari kota itu.
__ADS_1
Setelah sekian lama, Rima tiba-tiba mendengar kabar tentang Dirga. Pemberitaan tentang kesuksesan Dirga menjadi berita paling hangat di media sosial dan juga surat kabar.
Pemberitaan mengenai kesuksesan Dirga dan juga istrinya, Rania, membuat kemarahan dan dendam Rima yang bertahun-tahun dia kubur kini tergali kembali. Dia ingin melakukan pembalasan dendam kepada keluarga itu.
Rima merasa marah karena Dirga lebih memilih Rania, dan kini mereka berdua justru hidup bahagia. Tidak seperti dirinya. Rima memang sudah menikah bahkan sudah mempunyai anak, tetapi, dalam hati Rima masih menyimpan rasa cintanya untuk Dirga.
Dirga adalah cinta pertamanya. Tidak mudah bagi Rima untuk melupakan Dirga saat itu.
Rima ingat, sore itu saat dia sedang menonton televisi di rumah, ada liputan mengenai keluarga bahagia Dirgantara. Di sana, Rima melihat wajah putri mereka.
Hatinya yang dipenuhi dendam membuat Rima kemudian mempunyai niat jahat untuk menghancurkan kebahagiaan mereka. Rima berencana menculik putri mereka. Ia yakin, dengan menculik putri kesayangan mereka, hidup Dirga dan Rania pasti akan hancur.
Dengan membayar sejumlah uang, Rima menyuruh seseorang yang dia temui untuk menjemput anak itu di sekolah, lalu memberikannya untuk dibawa Rima.
Saat itu, Rima juga tidak tahu harus dibawa ke mana gadis kecil itu, yang pasti dia harus segera mengamankannya. Membawa gadis itu jauh dari kota itu agar kedua orang tuanya tidak bisa menemukan keberadaan putri mereka.
Rima kemudian membawa gadis itu ke kota Jakarta. Saat dia membawa anak kecil yang malang itu, Rima terlebih dahulu membuat gadis kecil itu tidak sadarkan diri agar memudahkannya membawa anak itu pergi.
Rima berputar-putar mengelilingi kota besar itu. Wanita itu membawa gadis kecil itu sejauh mungkin agar Dirga dan Rania tidak bisa melacaknya.
Setelah merasa cukup jauh, Rima kemudian meninggalkan gadis itu di perkampungan pinggiran kota Jakarta, lalu, meninggalkannya begitu saja di tengah jalan di depan pasar yang sudah tutup.
__ADS_1
Rima bahkan dengan begitu tega meletakkan tubuh Amora kecil yang masih tidak sadarkan diri karena pengaruh obat bius itu di lantai kotor.