
Pagi-pagi sekali ayah dan anak itu sudah berangkat ke rumah sakit. Mereka membawa surat yang diberikan oleh dokter pribadi keluarga Aditya pada pihak rumah sakit dan ingin mengkonfirmasi apakah hasilnya benar.
"Bisa kami pastikan bahwa kandungan obat yang dikonsumsi pasien dengan dosis tinggi menjadi salah satu penyebab utama atas meninggalnya pasien dan jika Bapak mau, kita bisa melaporkan ke pihak berwajib. Ini termasuk salah satu kejahatan atas tuduhan melenyapkan nyawa orang lain," terang kepala rumah sakit bersama dokter yang merawat Amora kala itu.
Sagara mengepal tinjunya. Dia sudah bisa menebak siapa dalang dibalik semua ini. Dia memandang ke arah ayahnya meminta persetujuan kepada Aditya agar mengikuti saran dari pihak rumah sakit menempuh jalur hukum untuk memberikan efek jera kepada pelaku karena sudah bermain dengan nyawa orang lain.
Namun, Sagara menangkap gelengan lemah Aditya yang meminta anaknya untuk tidak mengatakan apapun. Kalau Sagara membuka mulut, banyak yang akan jadi korban salah satunya adalah Rima dan pastinya juga Laura.
Sagara mungkin tidak akan peduli dengan Laura, tetapi, Rima? Bagaimanapun wanita itu adalah ibu kandungnya. Jika sampai sang mama di penjara, maka nama baik keluarganya akan hancur saat itu juga.
Setelah memastikan penyebab utama kematian Amora, keduanya pun pergi menuju panti asuhan untuk menemui ibu panti sekaligus meminta menunjukkan makam Amora.
__ADS_1
Bu mawar terkejut dengan kedatangan ayah dan anak itu. Ia tidak menyangka kalau suami dan mertua Amora akan datang ke panti asuhan. Keduanya tiba-tiba sudah muncul di depan pintu panti asuhan. Tanpa mengatakan tujuannya, ibu panti tentu tahu alasan kedatangan mereka.
"Maaf mengganggu, Ibu. Kami kemari bermaksud ingin berziarah ke makam Amora. Apa Ibu mau menunjukkan di mana makam Amora?" ucap Aditya yang memang sudah Ibu Mawar duga sebelumnya.
Sagara bangkit dari duduknya meninggalkan Aditya dan Bu mawar berbincang di ruang depan, sementara dirinya berkeliling di sekitar panti asuhan. Dia ingin melihat tempat di mana Amora dibesarkan, betapa rindunya dia kepada gadis itu.
"Amora, aku datang. Tahukah kamu betapa aku menyesali semua perbuatanku? Dan tahukah kamu betapa aku sangat merindukanmu? Aku tidak menyangka bahwa kepergianmu akan berhasil menghancurkan hidupku. Aku begitu kehilanganmu Amora," batin Sagara.
"Maaf Pak, saya bukan tidak mau menunjukkan, tapi makam itu terlalu jauh untuk didatangi. Saat penguburan Amora waktu itu saja, kami harus berjalan karena kendaraan tidak bisa sampai ke sana dan memerlukan waktu selama dua jam perjalanan.
Terlebih lagi, kemarin baru hujan deras, jalanan pasti licin, tidak akan mudah sampai ke sana," terang Bu Mawar.
__ADS_1
"Seandainya Pak Aditya memang berniat ingin ke sana, Bapak datang pagi-pagi ke sini biar tidak kemalaman."
Aditya diam sesaat. Dia ingin sekali ziarah ke makam Amora, meminta maaf di pusara gadis itu karena sudah terlambat untuk melindunginya.
Aditya juga ingin meminta maaf mewakili istrinya yang sudah mencelakai Amora, agar gadis itu bisa tenang di alam sana. Namun, dia juga tidak bisa memaksa Bu Mawar untuk menunjukkan tempat itu, terlebih seperti yang dikatakan wanita itu jalanan sangat licin dan jarak tempuh sangat jauh, sementara ini sudah hampir sore. Mereka tidak mungkin tiba di sana sebelum maghrib.
"Baiklah kalau begitu, Bu. Lain kali kami akan datang ke sini lagi. Kami pamit pulang," ucap Aditya membuka tasnya dan menyerahkan satu buah amplop coklat yang tampak tebal berisikan uang untuk dia sumbangkan kepada panti asuhan itu.
"Tolong Ibu manfaatkan ini untuk anak-anak di panti. Saya dan Saga mohon pamit dan terima kasih karena selama ini sudah menjaga Amora dengan baik dan kami minta maaf, terlebih saya pribadi karena tidak bisa menyelamatkan Amora," ucapan Aditya dengan segala rasa bersalahnya.
"Semua sudah takdir. Kita hanya bisa mendoakan semoga Amora tenang di sana."
__ADS_1
BERSAMBUNG ....