
Kelelahan dan juga akibat pola makan yang tidak teratur, belum lagi sempat terendam di dalam kolam selama beberapa menit dengan perut kosong, membuat kesehatan Amora menurun. Gadis itu demam malam itu.
Tubuhnya menggigil sementara suhu badannya terasa sangat panas.
Sagara masuk ke kamar, setelah berbicara dengan ayahnya. Tadi dia meninggalkan Amora yang tertidur dan baru kembali lagi setelah selesai bertemu Aditya.
Sagara tersenyum, melihat istrinya yang meringkuk di atas tempat tidur. Dorongan untuk segera berbaring di sebelah Amora begitu besar.
"Dasar tukang tidur," ucapnya tersenyum tipis, mulai merangkak ke atas ranjang, seketika kening Sagara mengkerut melihat Amora yang meringkuk kedinginan. Tubuh menggigil tapi ketika Sagara menyentuh kening gadis itu, betapa terkejutnya mendapati sugu tubuh Amora begitu panas.
"Ya Tuhan, Amora, kamu demam?" pekiknya disela rasa terkejut dan khawatir. Tentu saja pertanyaan Sagara tidak dijawab Amora saat ini, gadis itu sudah tidak sadar.
Bergegas Sagara menghubungi kembali dokter Rama agar kembali datang ke rumah untuk memeriksa istrinya.
Dia ingin mengetuk pintu kamar ibu nya, meminta pertolongan untuk merawat Amora, tapi tidak jadi. Tentu saja ibunya tidak akan Sudi membantu Amora.
__ADS_1
"Loh, kamu belum tidur? Tadi katanya mau istirahat. Ingat, besok kamu harus ke Surabaya, meeting dengan pak Chandra tidak bisa lagi di tunda," ucap Aditya yang kebetulan baru keluar dari arah dapur. Mungkin baru selesai meminum herbal yang biasa dia konsumsi beberapa bulan belakangan ini.
"Aku lagi nunggu dokter Rama, Pa. Amora demam tinggi," sahut Sagara singkat. Ada kekhawatiran yang sangat besar terdengar di sana.
"Kenapa kamu gak bangunin mama kamu, untuk membantu mengompres Amora sembari menunggu Rama datang?"
"Gak usah, Pa. Mama juga gak akan mau," ucapnya berlalu ke luar, memastikan apa Rama sudah datang.
"Ada apa, Saga? Kenapa kamu terlihat cemas?" suara Laura terdengar dari balik tubuhnya.
"Sorry, Ra. Kamu kebangun," ya? tanya Sagara melihat gadis itu. Sagara dan Aditya memang bicara tak jauh dari kamar Laura yang ada di lantai satu.
Tiba-tiba satu ide cemerlang menurutnya muncul. Dia bergegas merapikan pakaiannya, lalu keluar dari kamar dengan sedikit mengacak rambutnya agar terlihat orang baru bangun.
"Gak papa, Saga. Memangnya ada apa?"
__ADS_1
"Amora... Dia demam tinggi, Ra," terang Sagara sedikit tidak enak hati. Pasalnya yang sedang mereka bahas adalah wanita yang dibenci Laura.
"Kasihan banget Amora. Kamu udah panggil dokter?" tanyanya berpura-pura peduli, membuat wajahnya seolah benar-benar merasa simpati pada keadaan Amora saat ini. Tidak hanya Sagara, Aditya saja sampai shock dengan perubahan Laura.
"I-iya, Ra. Ini lagi nunggu dokter," jawab Sagara kikuk. Dia lama mengamati wajah Laura, seolah ingin memastikan apakah wanita yang ada di hadapannya ini memang kekasihnya.
"Nunggu dokter datang, mending kita rawat dulu, Amora. Kompres dengan air dingin," ucapnya menunjukkan perhatian.
"Benar apa kata Laura, pergilah menemani Amora, Papa akan di sini menunggu Rama datang," timpal Aditya.
***
"Makasih ya, Ra, kamu udah mau bantu merawat Amora," ucap Sagara duduk di sisi Amora. Laura sudah menempelkan kain di atas kening Amora yang masih belum sadar, gadis itu terus saja menggeretak kan bibirnya, menggigil kedinginan.
Laura hanya mengangguk sambil tersenyum manis. Ini adalah bagian dari banyaknya rangkaian trik yang akan dia jalankan. Laura sudah memikirkan secara matang, jika dengan bersitegang, menggunakan air matanya bahkan ancaman untuk meninggalkan Sagara belum bisa menyingkirkan Amora, maka dia akan berubah menjadi teman Amora, berpura-pura baik pada gadis itu, hingga pada saat yang tepat, menjatuhkannya di depan Sagara dan juga Aditya. Dia akan mengambil kepercayaan Sagara dan ayahnya agar lebih leluasa untuk menyingkirkan Amora dari rumah itu.
__ADS_1
Untuk saat ini, keadaan Amora tentu saja menjadi kartu As bagi gadis itu untuk mendapat perhatian dari Sagara dan Aditya, dan pastinya akan sulit ditembus Amora.
"Aku nggak nyangka kalau kamu mau membantu Amora. Hati kamu sangat baik dan aku benar-benar bangga memiliki kekasih seperti mu, Laura," ucap Sagara menggenggam tangan Laura yang masih berdiri di depan nya.