DERITA CINTA AMORA

DERITA CINTA AMORA
AKU SUDAH MENCINTAI ORANG LAIN


__ADS_3

"Apa dia menyakitimu? Apa yang dia lakukan?" tanya Dewa dengan napas memburu. Dia begitu khawatir ketika mendengar cerita Amora mengenai kedatangan Sagara tadi malam ke rumahnya.


"Nggak ada, Mas. Mana dia berani, ada Papa dan Mama. Lagipula aku sudah bicara padanya untuk melupakan semua keinginannya, aku tidak mungkin mau dan tidak bisa kembali padanya lagi," jawab Amora.


Dewa datang ke rumahnya siang ini, mengajak Amora untuk makan siang, sekaligus ingin memilih cincin pertunangan mereka.


Dia memang belum membicarakan hal itu pada Amora. Dia ingin memberikan kejutan agar gadis itu yang memilih langsung cincin pertunangan mereka.


Namun, mendengar cerita mengenai kedatangan Sagara, dia justru lupa untuk membicarakan mengenai pemilihan cincin itu.


Pembicaraan itu terhenti ketika pelayan membawakan makanan pesanan mereka. Keduanya menikmati makanan itu sembari sesekali membahas mengenai apa yang sudah diberitahukan Dirga kepada Dewa.


"Papa seharusnya tidak melupakan hal itu, nanti aku akan bicara dengannya," ucap Amora yang terkejut mendengar berita dari Dewa tentang perbuatan sang papa pada Aditya.


Dia memang membenci Saga dan juga Rima, tetapi, Aditya begitu baik kepadanya. Semenjak berada di rumah itu, Aditya menganggapnya seperti putrinya sendiri.


Selalu membelanya dari serangan Rima dan Laura. Selalu membantu di setiap kejadian buruk yang menimpa dirinya.


Jika benar papanya membeli saham Sagara yang memang saat ini perusahaan itu sedang pailit karena pinjaman ke bank yang begitu besar, sementara investor yang mengajak kerja sama sudah menipu dan kabur, bisa-bisa Aditya akan menderita.


Perusahaan Aditya bisa bangkrut.


"Hatimu begitu baik Amora, berulang kali dia sudah menyakitimu bahkan hampir membuatmu meninggal, tapi kamu masih memberikan maaf padanya.


Kamu masih saja memiliki belas kasih pada orang seperti mereka," ucap Dewa yang kagum dengan sikap murah hati Amora.


"Aku tidak berbelas kasih, Mas. Sagara dan ibunya juga Laura, tetap harus mendapat ganjaran. Tapi kalau untuk papa Aditya, aku benar-benar masih keberatan." Amora menatap Dewa yang kini juga menatapnya.


"Papamu menganggap kalau Aditya tetap bersalah. Dia telah menyembunyikan kejahatan istri dan anaknya. Juga wanita yang membantu istrinya untuk melenyapkan kamu."


Amora mengembuskan napas panjang mendengar ucapan Dewa. Memang benar, Aditya memilih menyembunyikan semuanya hanya Deni nama baiknya sendiri.


Demi nama baik, dia menyembunyikan kebenaran. Bukankah itu sama saja dia ikut andil karena menyembunyikan fakta penyebab kematian Amora?


"Kalau papa Dirga memang menginginkan seperti itu, aku tidak bisa melarangnya. Biar bagaimanapun, sebagai orang tua, Dirga juga pasti merasakan sakit hati saat mengetahui anak satu-satunya menderita di tangan orang lain," ucap Amora akhirnya yang diangguki oleh Dewa.


"Kamu tenang saja, dan percayakan semuanya pada papamu." Dewa mengusap rambut Amora sambil tersenyum.


"Terima kasih, Mas."


"Terima kasih untuk apa?"


"Terima kasih karena selalu ada di sampingku dan menjagaku," jawab Amora.

__ADS_1


Dewa tersenyum manis. "Aku akan melakukan apapun untuk orang yang aku cintai. Setelah ini, aku pastikan kamu akan selalu bahagia." Dewa mengusap pipi Amora kemudian mencium keningnya.


"Setelah kamu resmi bercerai dengannya aku akan segera menikahimu."


"Masih lama. Harus nunggu tiga bulan dulu baru kita bisa menikah."


Dewa tersenyum menanggapi ucapan Amora.


"Kamu benar, Sayang, tapi aku tetap akan membeli cincin itu sekarang. Aku ingin mengikatmu terlebih dahulu biar tidak ada orang yang mengambilmu dariku."


"Baiklah! Ayo kita pergi."


Dewa mengangguk. Mereka berdua kemudian meninggalkan restoran setelah membayar makanan mereka.


Selesai makan, mereka pergi ke toko perhiasan seperti yang baru saja mereka rencanakan.


Namun, baru saja mereka sampai di parkiran, langkah mereka sudah dihadang oleh Sagara yang kebetulan berada di mall itu juga.


Sebenarnya tidak bisa dikatakan kebetulan, karena dia memang mencari keberadaan Amora melalui nomor seluler gadis itu.


"Saga!" pekik Amora yang terkejut melihat pria itu berada di depan mereka.


"Mau apa lagi kamu? Masih belum puas kamu mengganggu Amora?" Dewa menatap Sagara dengan tajam.


Perkelahian pun terjadi.


Keduanya saling baku hantam, tampak seimbang. Sagara memukul dan dibalas dengan Dewa, begitupun sebaliknya.


Amora yang melihat itu hanya bisa menjerit meminta mereka berhenti dan jeritan itu terdengar oleh satpam dan juga beberapa pegawai mall yang kebetulan lewat di dekat mereka.


Mereka kemudian melerai kedua pemuda yang saling baku hantam itu.


"Mau sampai kapan kau akan mengikutiku, Sagara? Bukankah aku sudah mengatakan padamu kalau aku tidak ingin bertemu denganmu lagi?


Lupakan aku, jangan pernah mengikutiku lagi. Jangan pernah mencariku, dan jangan pernah mengusik hidupku lagi!"


Amora berteriak marah.


Wanita itu menatap penuh kebencian pada Sagara yang sudah memukul Dewa tepat di pelipis dan juga sudut bibir pria itu hingga meneteskan darah segar.


Namun, keadaan Dewa masih jauh lebih baik. Sagara terhempas dan bahkan tidak bisa berdiri karena saat dilerai, Dewa memukulinya dengan duduk di perut Sagara, menghantam dan menghajar wajah pria itu dengan penuh emosi.


"Aku tidak bisa melupakanmu, Amora. Aku mencintaimu, mana mungkin aku bisa melupakanmu begitu saja?" Sagara menatap Amora dengan rasa sakit di hatinya.

__ADS_1


"Hubungan kita sudah berakhir Saga. Sebentar lagi kita akan bercerai!"


"Tidak! Aku tidak mau bercerai denganmu, Amora!"


Amora menghela napas panjang mendengar kekerasan kepalaan Sagara.


"Tapi aku tidak mau bersamamu lagi, Saga. Aku sudah tidak mencintaimu lagi karena itu aku ingin segera bercerai denganmu. Lagipula, aku tidak mau tinggal bersama orang yang dulu hampir setiap hari menyiksaku!"


"Amora ...." Sagara menatap Amora dengan kedua mata berkaca-kaca. Bayangan saat dirinya menyiksa Amora kembali terlintas.


"Aku janji, aku akan berubah. Aku mencintaimu, Amora." Sagara masih memohon agar Amora bisa kembali padanya.


"Terlambat, Saga. Saat ini, hatiku sudah tidak mencintaimu lagi. Aku sudah mencintai orang lain."


"Amora ...." Sagara menggeleng pelan. Merasa tidak percaya jika wanita yang sangat dicintainya itu tega mengatakan kalau dia tidak mencintainya lagi.


Amora yang dulu menatapnya dengan kedua mata berbinar dan penuh cinta itu kini mengatakan kalau dia sudah tidak mencintainya lagi.


Amora yang dulu saat kuliah begitu tergila-gila padanya, hingga rela melakukan apapun untuknya, kini mengatakan kalau dia sudah tidak menginginkannya lagi.


Sungguh! Hatinya terasa sangat sakit mendengar ucapan Amora. Setiap kalimat yang terucap dari bibir wanita itu laksana belati yang menusuk-nusuk hatinya.


"Apa karena pria itu? Apa gara-gara dia kamu berpaling dariku?" Sagara menatap Dewa penuh amarah.


"Katakan, Amora! Apa karena dia karena itu kau mengatakan kalau kamu sudah tidak mencintaiku lagi? Katakan Amora, katakan!" teriak Sagara. Lelaki itu merasa putus asa karena penolakan Amora.


"Ya. Kamu benar. Aku mencintainya. Dia adalah pria yang telah menolongku saat aku mengalami kematian.


Dia adalah pria yang telah menolongku hingga akhirnya aku bangkit dan bisa hidup kembali seperti sekarang.


Laki-laki ini adalah anugerah terindah dari Tuhan setelah bertahun-tahun aku menderita karena perbuatanmu!" jelas Amora panjang lebar. Namun, lagi-lagi kalimat yang diucapkan oleh Amora begitu menyayat hatinya.


Sagara kesakitan hingga dia kesulitan untuk bernapas. Jadi, begini rasanya patah hati? Rasa sakitnya ternyata tidak jauh beda dengan rasa sakit ketika dia kehilangan Amora karena mengira wanita itu telah meninggal dunia.


"Semuanya sudah berakhir, Saga. Di antara kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Saat kamu mengatakan pada Freya kalau kamu tidak pernah menikah dengan Amora, saat itulah kamu sendiri yang memutuskan bahwa di antara kita sudah tidak apa-apa lagi."


"Amora ...." Sagara menangis mengingat kebodohannya.


"Selamat tinggal, Saga. Sampai ketemu di pengadilan!" Amora melingkarkan lengannya pada Dewa, kemudian mereka berdua melangkah meninggalkan Sagara yang masih terduduk di lantai sambil menangis.


Kini, Sagara benar-benar telah kehilangan Amora. Gadis cantik yang membuatnya tergila-gila tanpa dia sadari.


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


__ADS_2