
Suasana ruangan Amora dirawat, tampak sepi. Kelima orang yang berada di ruangan itu tampak diam seribu bahasa.
Dewa terkejut kala bertemu kembali dengan Dirga di ruangan Amora, dan lebih terkejut lagi mendapati kenyataan bahwa pria itu adalah ayah Amora.
Dewa pernah menjadi penyelamat hidup Dirga. Berulang kali Dewa menolong pria berusia 48 tahun itu. Kali pertama, Dewa menyelamatkan saat Dirga ditabrak oleh seseorang yang tidak bertanggung jawab. Saat itu, Dewa melintas di jalan sepi, dan melihat Dirga yang pingsan di belakang kemudi.
Dewa segera melarikan ke rumah sakit. Pada saat itu, Dewa yang masih aktif menjadi dokter, langsung menangani sekaligus bertanggung jawab sampai Dirga siuman.
Tidak putus-putusnya Rania mengucap terima kasih atas pertolongan Dewa. Tidak sampai di situ, seolah takdir memang masih membuat jodoh mereka panjang. Dewa kembali menolong Dirga. Kali ini Rania yang dirampok. Dirga mencoba mempertahankan tas istrinya dengan melawan kawanan perampok, dan berakhir terkena tusukan benda tajam.
Dewa yang baru pulang dari rumah orang tuanya, melihat kejadian itu dan membantu melawan perampok. Apalagi , saat melihat Dirga yang sudah berhasil dilumpuhkan oleh para penjahat itu.
__ADS_1
Dewa akhirnya berhasil mengalahkan mereka. Namun , sayangnya mereka berhasil kabur. Melihat perut Dirga yang terkena tusukan benda tajam, Dewa segera membawanya ke rumah sakit.
Sejak itulah Dirga selalu merasa berhutang budi pada Dewa. Namun, setelah Dewa pergi melanjutkan studinya ke luar negri dan kembali mengurus rumah sakit orang tuanya yang ada di Jakarta, keduanya tidak lagi saling kontak.
"Jadi, Om dan Tante adalah orang tua Amora?" tanya Dewa memecah keheningan.
Amora masih menunduk. Hatinya masih belum bisa menerima kenyataan ini. Setelah bertahun-tahun merasa terbuang, tiba-tiba saja mereka muncul dan menawarkannya perlindungan dan pengakuan.
"Benar, Wa. Setelah bertahun-tahun mencari, akhirnya bertemu juga," ucap Dirga menatap Amora yang terus menunduk. Dia belum mau melihat ke arah mereka.
"Bapak dan Ibu, sebaiknya kita keluar dulu. Biar Amora bisa istirahat," ucap Ibu Mawar menoleh pada Rania dan Dirga.
__ADS_1
Dengan berat hati Rania mengikuti langkah Ibu Mawar. Namun, sebelum sampai di ambang pintu, Rania memutar tubuhnya, mendekat pada Amora. "Sayang, Mama mohon, maafkan kami. Mama tahu kamu menderita selama ini, tapi kami juga sama menderitanya denganmu," ucap Rania mengangkat tangan untuk menyentuh pundak Amora, tapi melihat gerak tubuh Amora yang menjauh, seolah tidak ingin disentuh, Rania akhirnya menurunkan tangannya.
Dirga melihat hal itu. Dia ikut sedih untuk Rania atas sikap putri mereka yang tidak mau disentuh oleh ibunya.
"Freya, Papa akan segera melakukan tes DNA, guna meyakinkanmu bahwa kamu adalah anak kami. Papa yang bersalah, tidak bisa menemukanmu dengan cepat. Tapi percayalah, bahwa kami sangat mencintai dan menyayangimu." Dirga menatap Amora dengan kedua mata berkaca-kaca.
"Setiap detik kami berharap bisa bertemu denganmu.
Selama kepergianmu, kami menderita. Bahkan Mama kamu hampir dirawat di rumah sakit jiwa, karena kesedihan yang sangat mendalam atas kehilanganmu," tambah Dirga menyentuh pundak istrinya yang terasa bergetar. Wanita itu mencoba dengan sekuat tenaga untuk tidak menangis.
Amora seketika mengalihkan pandangannya pada Rania. Kesedihan wanita itu bukan main-main ternyata. Kehilangan dirinya membuat mental ibunya sempat tergoncang. Pantaskah dia membenci wanita yang mengaku sebagai ibunya itu?
__ADS_1
Kemalangan seperti itu bisa terjadi pada siapapun. Lagipula, bukan salah orang tuanya. Dia diculik masih di lingkungan sekolah. Tetapi, kenapa hatinya masih terasa berat?
BERSAMBUNG ....