
Suara tepuk tangan membuat mereka semua menoleh ke arah suara.
"Kalian semua benar-benar hebat! Aku tidak bisa membayangkan bagaimana menderitanya putriku saat berada di tengah-tengah kalian." Dirga dan Rania yang baru saja datang sungguh tidak menyangka jika wanita yang kemarin mereka laporkan ke polisi itu langsung membongkar kejahatan Sagara di hadapan polisi.
Saat Dirga mendengar dari mulut Laura jika Sagara juga melakukan kejahatan pada Freya, amarah dan rasa sakit seketika memenuhi hatinya.
Seandainya dulu Rima tidak menculik putrinya, mungkin Freya tidak akan pernah menderita. Gadis itu pasti akan hidup bahagia bersamanya dan Rania.
Freya akan bahagia di bawah pengawasannya. Gadis itu pasti akan bahagia karena mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang melimpah dari kedua orang tuanya.
Dirga mengepalkan tangannya erat saat rasa amarah menguasainya.
"Aku tidak akan pernah melepaskan kalian semua. Kalian harus membayar semua kejahatan yang telah kalian lakukan pada putriku!" Dirga menatap tajam ke arah Laura, Sagara dan Aditya.
Laura terkejut mendengar Dirga menyebut Amora sebagai putrinya. Sementara itu, Sagara menelan ludahnya kasar. Tertutup sudah harapannya untuk kembali pada Freya karena mertuanya itu sudah tahu kejahatan yang pernah dia lakukan pada putrinya.
__ADS_1
Dirga jelas tidak akan pernah memaafkannya. Apalagi, pria itu sepertinya sudah mempunyai bukti-bukti kejahatan mereka. Kalau tidak, Dirga tidak akan mungkin melaporkan Rima dan memasukkannya ke dalam penjara.
Sepertinya Dirga juga melaporkan Laura. Wanita yang pernah menjadi kekasihnya itu tidak mungkin berada di sini jika tidak ada yang melaporkannya. Sagara bahkan mendengar jelas jika Laura dibawa ke kantor polisi atas tuduhan pembunuhan.
Beberapa polisi menenangkan mereka. Aditya dan putranya juga Laura duduk terpisah dengan Dirga dan Rania.
Dua orang petugas mengeluarkan Rima dari sel. Saat Rima melihat suami dan anaknya, Rima menangis. Beberapa hari tinggal di sel tahanan membuat Rima sangat merindukan suami dan anaknya itu.
"Saga, kenapa kamu baru sekarang menengok mama? Apa salah mama padamu sampai-sampai kamu mengabaikan mama, Nak?" Rima menangis sesunggukan.
Sepertinya, Sagara benar-benar marah padanya. Sagara pasti sangat kecewa setelah mengetahui perbuatannya. Namun, jika memang dia marah, lalu untuk apa Sagara dan Raditya datang ke kantor polisi?
Pandangan matanya beralih pada Aditya.
"Mas, tolong bebaskan aku dari sini. Aku mohon ...." Rima menatap Aditya dengan air mata yang sudah berjatuhan di pipinya.
__ADS_1
Aditya menatap istrinya yang berlinang air mata dengan tatapan datar. Terlalu sering membuat kesalahan dan terlalu banyak drama yang sering Rima mainkan, membuat Aditya tidak merasakan kasihan sedikitpun pada wanita itu.
Benar apa kata Dirga. Wanita itu harus membayar semua kejahatan yang pernah dilakukannya. Kalau tidak, Rima tidak akan pernah jera. Wanita itu akan terus melakukan kejahatan lagi dan lagi.
Saat dia tidak menyukai orang lain dan merasa kalau orang lain itu menjadi penghalang keinginannya, maka Rima akan kembali berbuat jahat untuk menyingkirkan orang-orang yang menghalangi ambisinya.
Aditya memegang bukti-bukti yang dia simpan di dalam tasnya dengan tangan gemetar. Pada awalnya, pria itu merasa dilema. Antara memberikan bukti itu pada Dirga dan membiarkan Rima dan Sagara di penjara atau membiarkan perusahaannya hancur dan menyimpan bukti kejahatan istri dan anaknya itu untuk dirinya sendiri.
Jika Aditya tidak memberikan bukti-bukti itu pada Dirga, maka perusahaannya akan hancur. Aditya akan bangkrut dan kehilangan semuanya.
Aditya tidak yakin seandainya perusahaannya hancur, dia akan kembali bangkit seperti semula. Apalagi, saat dia mengingat nasib para pegawai yang nasibnya berada di tangannya.
Seandainya perusahaan itu hancur, maka ribuan pegawainya akan kehilangan pekerjaan mereka.
Apakah kehancuran perusahaan dan nasib para pegawainya sebanding jika ditukar dengan kejahatan yang sudah Rima dan Sagara lakukan?
__ADS_1
BERSAMBUNG ....