DERITA CINTA AMORA

DERITA CINTA AMORA
MAKAN DI LUAR


__ADS_3

Laura mengamuk dalam kamar. Wanita itu sungguh sangat kesal melihat kelakuan Sagara dan Amora. Bisa-bisanya Sagara bersikap sangat baik pada Amora.


Sagara bahkan mencium bibir Amora, hal yang tidak pernah lakukan sama sekali oleh Sagara padanya meskipun Laura seringkali memancing Sagara. Lelaki itu bahkan menolaknya berkali-kali meskipun Laura terkadang mencium Sagara terlebih dahulu.


Sagara selalu beralasan kalau dia tidak ingin menyentuhnya karena tidak ingin merusaknya.


"Apa-apaan dia? Dengan Amora dia bisa melakukannya bahkan lebih sampai wanita itu hamil. Tapi, giliran bersamaku dia menolakku mentah-mentah. Aku jadi ragu, apa benar Sagara mencintaiku?" batin Laura kesal.


Bibirnya selalu mengatakan mencintai, tetapi, kelakuannya tidak mencerminkan kalau Sagara sangat mencintainya.


Laura meraih ponselnya kemudian melemparkannya ke atas ranjang. Dia baru saja menghubungi Sagara, tetapi, lelaki itu tidak mengangkat panggilan teleponnya.


"Sialan! Ini semua gara-gara Amora. Lihat saja, aku pasti akan membuat perhitungan denganmu!" Laura mengepalkan kedua tangannya. Netranya berkilat penuh amarah.


Laura bersumpah akan membuat Amora membayar perbuatannya hari ini.


"Sial!"


***


Amora tersenyum cantik sambil menikmati camilan dan segelas cokelat panas yang ia buat sendiri. Beberapa hari ini, kehidupannya terasa tenang karena dua perempuan beda generasi itu tidak mengusiknya.


Namun, Amora tidak mau terbuai. Dia yakin, ibu mertuanya dan kekasih dari suaminya itu tidak akan menyerah begitu saja. Tidak mungkin ibu mertuanya tiba-tiba berubah lebih baik tanpa sebab.


"Seharusnya kamu senang karena ibu mertuamu berhenti berulah," batin Amora sambil menyeruput cokelat panas itu sedikit demi sedikit.


"Aku bukannya tidak percaya dengan perubahan kalian. Hanya saja, semuanya begitu mendadak hingga membuatku tidak yakin." Amora mengembuskan napas panjang.

__ADS_1


"Aku akan sangat bahagia jika apa yang dilakukan oleh ibu mertuaku dan juga Laura benar adanya."


Amora mengambil ponselnya yang berdering. Terlihat nama Sagara di sana. Buru-buru Amora mengangkat teleponnya.


"Halo–"


"Aku ingin kamu bersiap. Aku akan menjemputmu untuk makan di luar."


"Makan di luar?"


"Ya. Aku akan datang satu jam lagi untuk menjemputmu."


Belum sempat Amora menjawab, Sagara sudah menutup panggilan teleponnya.


Amora menghela napas lelah. Apa-apaan dia? Mengajakku makan di luar? Apa dia tidak menghiraukan perasaan Laura?


Amora sudah menyukai Sagara dari semenjak lama. Tidak mudah baginya untuk melupakan Sagara begitu saja meskipun pria itu seringkali memperlakukannya dengan tidak baik.


Namun, ada kalanya juga dia ingin berlari sejauh mungkin dari Sagara saat pria itu kembali pada mode jahat. Sagara akan berubah menjadi sosok mengerikan ketika sedang marah.


Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya membuat Amora segera membuka dan membacanya. Bibirnya menyunggingkan senyum saat pesan itu ternyata dari Sagara yang memintanya untuk segera bersiap.


Amora menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Perempuan itu akan segera bersiap sesuai permintaan Sagara.


Beberapa saat kemudian, Amora sudah rapi. Wanita itu mengenakan dress selutut berwarna hitam berlengan pendek. Kulit tubuhnya yang berwarna putih tampak bersinar. Amora benar-benar sangat cocok memakai baju itu.


Amora keluar dari kamar dengan wajah sumringah. Wajahnya terlihat sangat cantik.

__ADS_1


Amora memoles wajahnya dengan makeup tipis yang semakin membuatnya terlihat mempesona dan membuat siapa saja yang melihatnya terpana.


Laura yang melihat Amora terlihat cantik dan rapi, tidak tahan untuk bertanya. Dia benar-benar merasa iri melihat Amora begitu cantik meskipun wanita itu hanya menggunakan dress sederhana dan dengan makeup seadanya pula.


Tuhan benar-benar menciptakan Amora dengan begitu sempurna. Tubuhnya bahkan terlihat begitu seksi dengan perut yang sudah terlihat membuncit.


"Kamu mau pergi, Amora?" Laura mendekati Amora sambil mengulas senyum.


Amora membalas senyuman Laura. Sebenarnya dia tidak enak untuk berterus-terang pada Amora jika Sagara mengajaknya makan di luar. Tetapi, Amora juga tidak punya jawaban lain selain itu.


"Apa aku jujur saja sama dia jika Sagara ingin membawaku keluar?" batin Amora.


Laura berpaling ke arah pintu rumah saat mendengar suara mobil berhenti. Di sana, ia melihat mobil Sagara datang.


Laura mengepalkan kedua tangannya saat melihat kekasihnya turun dari mobil dengan wajah sumringah. Sagara terlihat begitu berbeda. Lelaki dingin itu terlihat tersenyum. Sepertinya, laki-laki itu sedang bahagia.


Pandangan Laura beralih pada Amora yang tersenyum melihat kedatangan Sagara. Laura tersenyum licik saat sebuah ide terlintas di kepalanya.


Saat ini, mereka berdua sedang berdiri di tengah tangga. Laura yang tidak sabar karena merasa penasaran pada Amora mendekati wanita itu saat baru menuruni beberapa anak tangga.


Laura menarik tangan Amora dengan tiba-tiba membuat Amora terkejut. Satu tangan Amora berpegangan pada pagar tangga, sementara itu, tangan satunya yang ditarik Amora berusaha ia lepaskan. Namun, bukannya melepaskan, Laura justru menariknya dengan kuat hingga membuat Amora hampir saja terjatuh.


Laura melirik ke arah Sagara yang sudah masuk ke dalam ruangan. Tepat, Sagara sampai di depan mereka, Laura melepaskan tangan Amora hingga membuatnya terjatuh dan berguling pada anak tangga dan jatuh terkapar di lantai.


Belum hilang keterkejutan Amora, suara bariton Sagara terdengar menggema.


"Amora!"

__ADS_1


BERSAMBUNG ....


__ADS_2